Sleman,REDAKSI17.COM – Arsitektur bukan sekadar bangunan, dan tata ruang bukan hanya batas wilayah. Di Yogyakarta, keduanya merupakan napas kebudayaan yang hidup. Hal ini mengemuka dalam International Symposium on Javanese Culture atau Simposium Internasional Budaya Jawa 2026 yang dibuka Gubernur DIY sekaligus Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, di Royal Ambarrukmo Yogyakarta, Sabtu (11/4).
Mengusung tema “Architecture, Spatial Planning, and Territory of the Sultanate of Yogyakarta”, simposium yang memasuki tahun kedelapan ini menjadi ruang perjumpaan gagasan antara warisan masa lalu dan arah masa depan. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari peringatan Tingalan Jumenengan Dalem ke-37 Sri Sultan HB X dan GKR Hemas, yang tidak hanya sarat makna historis, tetapi juga reflektif terhadap arah pembangunan Yogyakarta.
Penghageng Kawedanan Tandha Yekti sekaligus Ketua Panitia Pelaksana Simposium, GKR Hayu, menegaskan tema yang diangkat berangkat dari relevansi kuat antara nilai budaya dan tantangan kekinian. Pengakuan Sumbu Filosofi Yogyakarta sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO menjadi landasan penting, sekaligus pengingat bahwa tata ruang Yogyakarta dibangun di atas harmoni manusia, alam, dan Sang Pencipta.
“Fondasi ini telah diletakkan sejak Sri Sultan HB I dan hingga kini tetap menjadi ruh dalam menjaga identitas Yogyakarta di tengah dinamika perkembangan kota,” ujar GKR Hayu.
Simposium ini tidak sekadar forum akademik, tetapi juga menghadirkan pendekatan humanis. Sebanyak 132 abstrak dari berbagai negara diseleksi secara ketat dan diperkaya melalui pendampingan selama berbulan-bulan. Peneliti lintas generasi berdialog membahas spektrum luas, mulai dari sejarah, seni, hingga perencanaan ruang dan lanskap.
Tema besar simposium juga dihadirkan secara nyata bagi masyarakat. Bersama Pemda DIY, Dinas Pertanahan dan Tata Ruang membuka akses informasi melalui leaflet panduan perizinan serta klinik konsultasi pertanahan. “Kami ingin tata ruang terasa dekat dan dipahami masyarakat,” imbuh GKR Hayu, yang juga Wakil Penghageng KHP Dhatu Dana Suyasa.
Kekuatan gagasan semakin lengkap dengan kehadiran akademisi internasional, seperti Prof. Koji Miyazaki (Jepang), Dr. Verena Meyer (Belanda), Dr. Hélène Njoto Feillard (EFEO), serta Prof. Bakti Setiawan (UGM). Perspektif global berpadu dengan kearifan lokal, mempertegas Yogyakarta sebagai laboratorium hidup kebudayaan.
Selama dua hari, para panelis memaparkan hasil penelitian dalam empat subtema, yakni sejarah dan politik; seni, sastra, dan pertunjukan; arsitektur; serta tata ruang dan lanskap. Keraton Yogyakarta juga menghadirkan pembicara dari internal serta perwakilan OPD, di antaranya Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY dan Dinas Pertanahan dan Tata Ruang (Kundha Niti Mandala sarta Tata Sasana) DIY.
Empat pembicara kunci hadir sesuai subtema, yakni Prof. Koji Miyazaki untuk sesi sejarah, Dr. Verena Meyer untuk seni dan pertunjukan, Dr. Hélène Njoto Feillard untuk arsitektur, serta Prof. Bakti Setiawan untuk tata ruang dan lanskap. Keempatnya juga berperan sebagai penelaah dan mentor dalam proses call for papers sejak 2025.
Pembukaan simposium semakin semarak dengan pementasan Beksan Kuda Gadhingan, karya Sri Sultan HB V. Wakil Penghageng II Kawedanan Kridhamardawa, KRT Suryawasesa, menjelaskan tarian ini memuat filosofi ruang melalui konsep kiblat papat lima pancer, yang merepresentasikan keseimbangan arah dan pusat.
Sementara itu, Penghageng KHP Nitya Budaya, GKR Bendara, menilai simposium ini terus berkembang dari sisi kualitas tema dan kedalaman kajian. “Kolaborasi lintas generasi menjadi kekuatan utama yang memperkaya perspektif sekaligus memperkuat kontribusi akademis,” ujarnya.
Melalui simposium ini, Yogyakarta kembali menegaskan jati dirinya sebagai kota budaya yang tidak berhenti pada romantisme masa lalu, tetapi terus merumuskan masa depan. Di tengah laju urbanisasi, nilai-nilai Kasultanan hadir sebagai penuntun bahwa membangun wilayah sejatinya adalah menjaga keseimbangan hidup.
Humas Pemda DIY




