Beranda / Daerah / Sinergi YIA dan Pemkab Kulon Progo: Merajut Asa Generasi Sehat Melalui Program Pangan Berdaya

Sinergi YIA dan Pemkab Kulon Progo: Merajut Asa Generasi Sehat Melalui Program Pangan Berdaya

Image Berita

Kulon Progo,REDAKSI17.COM — Pemerintah Kabupaten Kulon Progo bersama PT Angkasa Pura Indonesia melalui Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) hadir membawa secercah harapan, melalui peluncuran program Injourney Airports Pangan Berdaya – Penanganan Stunting Tahun 2026.

Sinergi lintas sektor ini membuktikan bahwa pengentasan stunting bukan sekadar soal membagikan makanan, melainkan tentang merangkul keluarga, mengubah pola pikir, dan berinvestasi pada masa depan peradaban Kulon Progo, yang dipusatkan di Kalurahan Pleret Kapanewon Panjatan pada Jumat 11 September 2026.

Lewat program InJourney Airports Pangan Berdaya 2026, PT Angkasa Pura Indonesia Bandara Internasional Yogyakarta menyalurkan bantuan gizi senilai Rp100.000.000 (seratus juta rupiah) untuk 115 balita di wilayah Kabupaten Kulon Progo. Bantuan ini diserahkan langsung secara simbolis oleh General Manager Bandara Internasional Yogyakarta, Muhammad Thamrin dan Wakil Bupati Kulon Progo Ambar Purwoko.

Dalam laporannya, Anita Herawati selaku Branch Communication & CSR Department Head YIA merinci bahwa program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) ini dirancang tidak hanya untuk intervensi jangka pendek, tetapi juga ketahanan pangan jangka panjang bagi keluarga.

“Program ini merupakan komitmen berkelanjutan _Injourney Airports_ dalam mendukung peningkatan kualitas kesehatan masyarakat di wilayah operasional bandara. Kami berharap ini memberikan manfaat nyata sekaligus mendorong peningkatan peran keluarga,” ujar Anita.

Adapun empat langkah konkret yang dijalankan dalam program ini meliputi:

Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Pemulihan: Ransum makanan bergizi siap santap bagi 115 balita dengan status gizi kurang, yang diberikan berturut-turut selama 28 hari.

Suplementasi Multivitamin: Dukungan pemenuhan gizi mikro untuk mendongkrak daya tahan tubuh anak.

Edukasi Gizi dan Pola Asuh: Kelas pendampingan bagi orang tua dan wali balita untuk mengubah kebiasaan lama dalam pemberian makan.

Bantuan Ayam Petelur: Setiap keluarga dibekali ayam petelur sebagai sumber protein hewani mandiri dan berkelanjutan di pekarangan rumah.

General Manager YIA, Muhammad Thamrin menyampaikan program ini bukan sekadar pemenuhan kewajiban korporasi, melainkan wujud rasa kepedulian tulus terhadap tumbuh kembang anak-anak di sekitar lingkungan bandara.

“Kesehatan anak merupakan salah satu fondasi paling penting bagi masa depan bangsa. Kami ingin memastikan kehadiran YIA dapat memberikan manfaat yang benar-benar dirasakan langsung oleh masyarakat, khususnya dalam menjaga kesehatan anak-anak kita,” ujarnya.

Program penanganan stunting dan kekurangan gizi ini dirancang secara terukur dan telaten. Selama 28 hari berturut-turut, mulai 2 hingga 29 September 2026, sebanyak 115 balita menerima asupan makanan tambahan (PMT) pemulihan siap santap setiap harinya.

Tak hanya fokus pada piring makan sang buah hati, program hasil kolaborasi bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo dan Puskesmas Panjatan II ini juga membekali orang tua dengan edukasi gizi serta dukungan suplemen multivitamin.

Guna menjaga keberlanjutan program di tingkat tapak, YIA turut menyerahkan bantuan paket ayam petelur kepada para kader kesehatan setempat. Langkah ini diharapkan dapat mendorong ketahanan pangan mandiri di level rumah tangga.

“Kami memberikan bantuan ayam petelur agar dapat dikelola secara berkelanjutan oleh kader. Harapannya, upaya pemenuhan gizi ini tidak berhenti saat program selesai, tetapi terus bergulir di tengah masyarakat,” jelas Thamrin.

Langkah sosial ini menjadi bagian dari komitmen Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) YIA yang telah berakar sejak tahun 2012. Selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) Pilar Sosial—khususnya pilar Tanpa Kelaparan—YIA terus berjalan berdampingan dengan pemerintah daerah dalam menekan angka stunting di Kulon Progo

“Anak-anak ini akan menjadi penerus dan penentu kualitas pembangunan di area sekitar bandara. Makanya dengan pemberian bantuan ini, investasi yang dilakukan akan turut memberikan kontribusi bagi bandara dan sekitarnya pada 10 hingga 15 tahun ke depan,” tegas Thamrin.

Kesamaan visi ini disambut hangat oleh Wakil Bupati Kulon Progo, Ambar Purwoko. Dalam sambutannya, ia mengingatkan kembali esensi dari gotong royong dan tanggung jawab orang tua.

Ia menekankan bahwa pemerintah tidak bisa berlari sendirian. Kolaborasi dengan instansi seperti YIA, keaktifan kader posyandu, dan keterbukaan warga adalah kunci keberhasilan.

“Bagaimanapun, anak adalah tanggung jawab kita bersama. Diwulang sing sae, didik sing sae, diparingi napa-napa sing sae (diajari yang baik, dididik yang baik, diberi asupan yang baik). Insyaallah nanti anak itu akan tumbuh berkembang dengan optimal. Mari kita wujudkan kepedulian ini demi masa depan mereka,” pungkas Ambar Purwoko.

Pemilihan Kalurahan Pleret sebagai lokasi program bukan tanpa alasan yang matang. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo, RR. Susilaningsih, memaparkan realita data yang membutuhkan intervensi segera. Saat ini, angka stunting di tingkat kabupaten berada di angka 10,64%.

Namun, di Kalurahan Pleret, angkanya menyentuh 13%, dengan 115 dari total 222 balita masuk dalam kategori gizi kurang.

Menurut Susilaningsih, persoalan stunting di wilayah ini bukan semata-mata karena ketiadaan bahan pangan, melainkan sangat erat kaitannya dengan pola asuh.

“Di Kulon Progo dan Pleret, faktor paling berpengaruh adalah pola asuh. Kadang balita diasuh oleh neneknya karena ibunya bekerja. Edukasi pola asuh ini yang masih menjadi PR kita, terutama bagaimana menyusun menu dan manajemen waktu setelah masa ASI eksklusif selesai atau saat masuk masa MPASI,” jelas Susilaningsih.

Dampak langsung dirasakan oleh para ibu penerima manfaat. Sri Setyowati, ibu dari Nabila Valencia, tak kuasa menahan haru saat menceritakan betapa sulitnya menaikkan berat badan sang anak yang sering mandek atau hanya naik 1 ons per bulan. Baginya, program edukasi yang mendampingi bantuan gizi ini adalah sebuah titik balik.

“Kalau orang biasa seperti saya, tahunya habis masak ya memberi makan anak, lalu diajak ke ladang. Tapi lewat edukasi ini, saya jadi tahu kalau ada jam-jamnya, ada waktu yang tepat agar berat badan anak bisa naik. Ini jadi pembelajaran yang sangat bermanfaat,” tutur Sri.

Harapan senada juga disampaikan oleh Euis Fatimah, ibu dari Adara Naura. Ia sangat bersyukur karena PMT yang diberikan melengkapi asupan nutrisi rumahan.

“Harapan saya anak bisa berkembang bagus, berat badannya tambah ideal. Otomatis kalau gizinya bagus, kecerdasannya juga ikut bagus di masa depan,” tambahnya.

Sinergi yang terbangun di Kalurahan Pleret hari ini memberikan pesan kuat: pengentasan stunting adalah kerja bersama yang didasari oleh cinta, kepedulian, dan komunikasi yang terbuka. Dari Pleret, Kulon Progo merajut asa untuk melahirkan generasi penerus yang cerdas, tangguh, dan berdaya saing tinggi.

Kegiatan ini dihadiri oleh Regional CSR & General Service Dept. Head Heri Trisno Wibowo, Branch Communication & CSR Perwakilan Forum TJSL Kabupaten Kulon Progo, Panewu Panjatan beserta unsur Forkopimkap, Kepala Puskesmas Panjatan II, Lurah Pleret, kader posyandu, serta para orang tua dan balita penerima manfaat.

Source: media center

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *