Umbulharjo,REDAKSI17.COM – Semangat membangun pendidikan yang inklusif mewarnai peringatan Hari Ulang Tahun ke-59 SLB Negeri 1 Yogyakarta yang digelar di Taman Budaya Embung Giwangan, Jumat (31/7). Momentum tersebut menjadi ajang refleksi atas perjalanan panjang sekolah dalam mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus sekaligus memperkuat sinergi antara sekolah, pemerintah, orang tua, dan masyarakat untuk mewujudkan kemandirian peserta didik.

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengapresiasi tema peringatan tahun ini, yakni Meningkatkan Kompetensi, Membangun Masyarakat Inklusi, Menjalin Kemitraan dengan Masyarakat Umum untuk Mempersiapkan Kemandirian Sosial dan Ekonomi dalam Tubuh Budaya Mataraman Berbudaya. Menurutnya, tema tersebut mencerminkan komitmen yang menyeluruh dalam membangun masyarakat yang tidak meninggalkan siapa pun.

“Keberhasilan pemerintah itu terletak pada kemampuan mengurus yang lemah. No one left behind, tidak ada satu pun yang ditinggalkan. Ketika kita mampu mengangkat dan menginklusikan mereka yang lemah, itulah indikator keberhasilan,” ujar Hasto.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para guru dan tenaga pendidik SLB Negeri 1 Yogyakarta yang dinilainya memiliki dedikasi luar biasa dalam mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus agar memiliki kesempatan yang setara.

“Guru-guru SLB adalah orang-orang hebat yang mengurus mereka yang membutuhkan perhatian lebih hingga mampu berdiri sejajar dengan yang lain. Kami mengucapkan terima kasih atas pengabdian yang luar biasa,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Hasto menegaskan komitmen Pemerintah Kota Yogyakarta dalam mendukung pendidikan inklusif melalui kebijakan pembiayaan pendidikan bagi peserta didik difabel yang ber-KTP Kota Yogyakarta. Selain sekolah negeri yang telah bebas biaya, pemerintah juga menanggung biaya pendidikan apabila peserta didik difabel harus bersekolah di sekolah swasta.

“Kami tidak membedakan berdasarkan desil. Selama merupakan warga Kota Yogyakarta dan penyandang disabilitas, pemerintah akan memberikan dukungan pembiayaan pendidikan, termasuk jika bersekolah di swasta,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala SLB Negeri 1 Yogyakarta Jumarsih mengatakan peringatan ulang tahun sekolah bukan sekadar seremoni, tetapi menjadi momen untuk mensyukuri perjalanan sekolah dalam memberikan layanan pendidikan khusus yang berorientasi pada pembentukan karakter, keterampilan, dan kemandirian peserta didik.

Ia menyampaikan bahwa sekolah terus mengembangkan potensi siswa tidak hanya di bidang akademik, tetapi juga melalui pelestarian budaya lokal seperti angklung, membatik, memasak tradisional, hingga penguatan kepedulian sosial.

“Anak-anak kami tidak hanya belajar menjadi pintar di kelas, tetapi juga memiliki karakter yang kuat, mencintai budaya, serta memiliki empati dan kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai inilah yang akan menjadi bekal mereka di masa depan,” ujarnya.

Jumarsih menambahkan, tema HUT ke-59 menjadi semangat untuk memperkuat kolaborasi antara sekolah, dunia usaha, dunia industri, dan masyarakat sehingga lulusan SLB memiliki peluang yang lebih besar untuk hidup mandiri secara sosial maupun ekonomi.

“Kami berharap tema ini mampu membangun kesadaran, edukasi, dan sinergi dari berbagai unsur masyarakat, sekaligus menjadi jembatan transformasi lulusan SLB menuju dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat yang lebih inklusif,” katanya.

Dukungan terhadap pendidikan inklusif juga dirasakan langsung oleh para orang tua. Salah seorang wali murid, Puspo Eka Wati, mengaku berbagai fasilitas dan perhatian pemerintah terhadap penyandang disabilitas terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Menurutnya, bantuan alat bantu seperti kursi roda yang disesuaikan dengan kebutuhan anak melalui kerja sama Dinas dengan berbagai lembaga sangat membantu keluarga penyandang disabilitas. Ia juga menilai fasilitas publik di Kota Yogyakarta kini semakin ramah bagi penyandang disabilitas.

“Saya senang karena sekarang pemerintah sudah banyak mendukung teman-teman kami. Masyarakat juga semakin terbuka menerima anak-anak istimewa. Menurut saya, kondisinya sudah jauh lebih baik,” ungkapnya.

Puspo juga mengapresiasi lingkungan belajar di SLB Negeri 1 Yogyakarta. Baginya, para guru mampu memberikan pendekatan pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap anak sehingga mereka merasa nyaman dan bersemangat datang ke sekolah.

“Guru-gurunya sabar, metode belajarnya menyesuaikan kemampuan masing-masing anak. Anak saya tipe introvert, awalnya gak mau sekolah, sekarang justru senang sekolah, bahkan saat libur sering bertanya kapan bisa masuk sekolah lagi. Itu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi kami sebagai orang tua,” tuturnya.