Bantul,REDAKSI17.COM – Tak hanya berupaya mencukupi kebutuhan masyarakat, menyambut Iduladha 2026, Pemerintah Kabupaten Sleman juga berkomitmen untuk menyediakan hewan kurban yang Aman, Sehat, Utuh, dan Halal (ASUH). Hal ini salah satunya dipastikan melalui pemeriksaan dan pemantauan langsung ke lapangan, yang dilakukan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DIY bersama TPID Kabupaten Sleman, pada Selasa (05/05).
Dipimpin Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, pemeriksaan dan pemantauan ketersediaan ternak kurban di Kabupaten Sleman ini dilaksanakan di Kelompok Ternak Karya Tunggal yang berlokasi di Nyamplung Kidul, Balecatur, Gamping, dan di UPTD Pasar Hewan Ambarketawang dan Rumah Potong Hewan DP3 Kabupaten Sleman. Dari pemantauan yang dilakukan, Danang menyebut, hingga awal Mei ini, ketersediaan ternak kurban di Kabupaten Sleman sementara masih mencukupi atau terbilang aman terhadap permintaan pasar.
“Dari pantauan sampai hari ini, memang ketersediaan untuk hewan kurban kami masih mencukupi aman. Tetapi biasanya nanti kan peningkatan permintaan itu di dekat-dekat pelaksanaan hari kurban, tanggal 27 Mei. Jadi yang paling penting hari ini kita memantau terkait dengan kesehatan hewan yang ada di sini dan juga harganya,” papar Danang.
Ternak kurban yang tersedia dilaporkan sehat dan terbebas dari penyakit, seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dan antraks. Danang mengatakan, selama ini Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan selalu rutin mengadakan pantauan di kandang kelompok ternak masyarakat dan juga pasar hewan, termasuk vaksinasi, pemantauan penyakit PMK, serta antraks.
“Saya kira kalau dari sapi kita aman. Tetapi karena ternak kurban ini biasanya juga ada drop-drop-an atau pendatangan sapi dari luar, ini yang memang harus kita pantau terus karena untuk mencukupi persediaan kita tidak mungkin dari sini saja,” kata Danang.
Berbicara mengenai harga ternak kurban, disampaikan Danang, memang ada kenaikan harga sekitar Rp1.000.000,00-Rp2.000.000,00 per ekor untuk sapi dan Rp500.000,00-Rp1.000.000,00 per ekor untuk kambing dan domba. “Ini mudah-mudahan nanti walaupun ada kenaikan tidak memberatkan masyarakat untuk tetap melaksanakan kurban,” ucap Danang.
Lebih lanjut, untuk tahun ini, dikatakan Danang, ketersediaan sapi kurban di Kabupaten Sleman, yakni sekitar 3.800 ekor. Sedangkan, ternak kambing kurban tersedia sekitar 4.000 dan domba sekitar 7.800. Dari jumlah tersebut, Kabupaten Sleman pun masih kekurangan stok untuk ternak sapi kurban dan domba yang pada tahun 2026 memiliki estimasi kebutuhan hingga 9.200-an ekor sapi dan 15.700-an ekor domba.
“Untuk kambing kira-kira aman, yang domba ini yang agak banyak sekitar permintaannya 15.000-an. Sehingga ini kami masih memantau, di saat stok nanti kurang biasanya masyarakat selain beli dari kelompok-kelompok ternak di kampung dan di pasar hewan ini, mereka juga biasanya nanti beli di pinggir-pinggir jalan yang ada jualan ternak kurban. Pasar tiban namanya. Dari situ nanti mencukupinya,” jelas Danang.
Hal terpenting, dalam kesempatan ini, Danang sekaligus mengimbau penggunaan wadah ramah lingkungan untuk mengemas daging kurban. “Diharapkan bisa menggunakan besek atau dari anyaman bambu dalam rangka kita berusaha untuk cinta lingkungan, mengurangi sampah plastik yang ada di masyarakat sebagai efek dari pelaksanaan kurban,” pungkas Danang.
Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan, Rofiq Andriyanto mengutarakan, sebagai upaya pencegahan penyakit pada ternak kurban, di awal April sampai dengan pertengahan April pihaknya telah melaksanakan vaksinasi antraks mengingat penyakit ini bisa menular ke manusia. Vaksinasi dilakukan khususnya untuk wilayah perbatasan dengan Kabupaten Gunungkidul, di Gayamharjo dan Sambirejo, Prambanan.
Untuk PMK, Rofik melaporkan kasus yang terjadi sudah menurun jauh hanya 1-2 ekor per bulan. Upaya pencegahan yang dilakukan pihaknya pun tidak hanya menjelang Iduladha, melainkan rutin diulang setiap 6 bulan sekali dilakukan vaksinasi PMK.
“Alhamdulillah untuk teman-teman dokter hewan mendapat bantuan untuk vaksin PMK-nya dari pemerintah pusat, melalui Kementerian Pertanian. Dan rata-rata sapi di Sleman ini yang populasinya sekitar 3.800 sampai 4.000 ini sudah minimal 2 kali divaksin insyaallah. Bahkan rata-rata vaksin 3 kali divaksin untuk PMK karena masih latent untuk timbul lagi penyakit PMK di Kabupaten Sleman,” ungkap Rofiq.
Di Pasar Hewan Ambarketawang, pencegahan pun dilakukan dengan melakukan dipping. Yang mana setiap truk masuk di dipping kemudian disemprot sebagai upaya mensterilkan kendaraan pengangkut ternak dari bakteri penyakit. “Selebihnya juga ada pemeriksaan kesehatan untuk hewan tenak yang masuk. Sebelum ada kasus PMK tidak, ini sekarang menjadi wajib setiap hewan yang masuk di pasar hewan wajib diperiksa kesehatannya. Insyaallah aman,” ujar Rofiq.
Menurut Rofik, yang perlu diwaspadi sebenarnya adalah penyakit antraks. Sebab menular ke manusia. “Kalau PMK kan mungkin aman. Kalau antraks karena menular ke manusia, kita harus bentengi dengan khususnya di Prambanan tadi, perbatasan wilayah, dengan vaksin antraks,” tegas Rofiq.
Adapun, di Pasar Hewan Ambarketawang, per Selasa (05/05), harga ternak sapi kurban sekitar Rp40.000 per kg. Sedangkan untuk kambing, yaitu Rp50.000 per kg. Situasi di pasar hewan ini pun mengalami kenaikan jumlah ternak yang masuk kurang lebih 10%.
Ditemui di peternakan, Sekretaris Kelompok Tani Karya Tunggal, Trisno Dulrahman menceritakan, setidaknya terdapat 40-an ekor sapi yang ada di kandang milik kelompoknya yang dikelola oleh 24 anggota kelompok ternak. Dilaporkan, sebanyak 18 ekor sapi telah terjual.
Menurut Trisno, penjualan tahun ini pun terbilang lebih laris dari tahun-tahun sebelumnya. Bahkan, sejak dua bulan sebelum Iduladha, beberapa pembeli harus pesan dan DP terlebih dahulu untuk mengamankan stok hewan sapi kurban.
“Dua bulan ini sudah ada yang pesan, nanti saya (pembeli) pesan ini sudah di DP itu,” sebut Trisno.
Harga masing-masing sapi di kelompok ternak ini pun dibanderol dengan harga yang bervariasi. Harga berkisar mulai dari Rp25 juta hingga Rp28 juta perekor. Harga ini naik sebesar Rp1 juta jika dibandingkan dengan harga sapi pada Iduladha tahun lalu.
Diungkapkan Trisno, sapi yang paling banyak dicari adalah sapi jenis Peranakan Ongole (PO), Limosin dan Metal. Sementara, pembeli paling banyak datang dari wilayah sekitar Sleman.
Trisno turut memastikan, sampai dengan saat ini, seluruh hewan ternak yang ada di kelompoknnya tidak ada yang terkontaminasi penyakit, baik PMK maupun antraks. Menjelang Iduladha, ia bersama peternak lainnya juga memberikan perlakuan khusus kepada sapi, seperti dengan memberikan vitamin serta pakan yang berkualitas.
Humas Pemda DIY





