Jakarta,REDAKSI17.COM – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada hari Senin (6/7/2026) menegaskan bahwa negaranya hanya memiliki dua opsi: mencapai kesepakatan damai dengan Iran atau “menyelesaikan tugas secara total”. Pernyataan ini memperbarui ancaman aksi militer AS di saat Teheran justru menunjukkan sikap menantang setelah pemakaman Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
“Kita akan membuat kesepakatan atau kita akan menyelesaikan tugas ini secara total. Oke. Dan tidak akan sulit untuk menyelesaikan tugas tersebut. Saya lebih suka membuat kesepakatan, karena saya tidak ingin berdampak buruk pada 91 juta orang di sana,” ujar Trump kepada para wartawan di Oval Office, dikutip dari Reuters.
“Kami bisa merubuhkan jembatan-jembatan mereka dalam waktu satu jam, kami bisa melumpuhkan pasokan energi mereka. Mereka tidak punya uang sekarang. Kami belum memberikan uang sepeser pun kepada mereka.”
Merespons gertakan tersebut, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Agung Iran, Mohammad Baqer Zolqadr, langsung melayangkan kecaman dan menyebut ancaman Trump sebagai hal yang “mengada-ada”.
“Bangsa Iran tidak akrab dengan bahasa ancaman. Jadi, berbicaralah kepada rakyat Iran dengan rasa hormat, jika tidak, kami akan merespons Anda dengan bahasa yang lain,” tegas Zolqadr dalam pernyataan yang disiarkan oleh media pemerintah Iran.
Trump melontarkan ancaman tersebut tepat setelah upacara pemakaman akbar Khamenei selesai digelar pada akhir pekan lalu. Ali-alih terlihat melemah akibat perang yang dipicu oleh serangan AS dan Israel pada 28 Februari lalu, rakyat Iran justru tampak kian menantang, bersatu, dan bertekad kuat dalam menentukan arah masa depan negara mereka.
Adapun kesepakatan gencatan senjata selama 60 hari tersebut awalnya digagas oleh Washington dengan tujuan utama untuk menghidupkan kembali jalur diplomasi guna menghentikan ambisi Iran dalam mengembangkan persenjataan nuklir.




