Jakarta,REDAKSI17.COM – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menyatakan masih mempertimbangkan keputusan terkait potensi kesepakatan dengan Iran untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah. Namun, Teheran menegaskan hingga kini belum ada kesepakatan final yang tercapai antara kedua negara.
Menurut sejumlah sumber AS, rancangan kesepakatan sebenarnya hanya tinggal menunggu persetujuan akhir dari Trump setelah berminggu-minggu negosiasi yang berlangsung alot. Perundingan tersebut bertujuan meredakan konflik yang telah mengguncang kawasan Timur Tengah dan berdampak pada perekonomian global.
Trump diketahui menggelar rapat selama dua jam di Situation Room Gedung Putih pada Jumat (29/5/2026). Namun, laporan media AS menyebutkan pertemuan itu belum menghasilkan keputusan terkait proposal kesepakatan baru dengan Iran.
Melalui unggahan di media sosial, Trump kembali menegaskan tuntutannya agar Iran berkomitmen tidak pernah memiliki senjata nuklir dan membuka kembali Selat Hormuz sebagai jalur pelayaran internasional yang vital.
Namun, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, membantah adanya kesepakatan yang telah disepakati kedua pihak. “Republik Islam Iran telah meninggalkan bahasa ‘harus’ sejak 47 tahun lalu,” tegasnya kepada media pemerintah Iran, seperti dinukil France24.com.
Baghaei menambahkan komunikasi dan pertukaran pesan antara kedua negara masih berlangsung, tetapi belum menghasilkan kesepakatan akhir. “Belum ada kesepakatan final yang dicapai,” ujarnya.
Dalam pernyataannya, Trump menyebut Iran akan mencabut blokade Selat Hormuz, menghapus ranjau laut di kawasan tersebut, serta menghentikan pungutan terhadap kapal-kapal yang melintas. Sebagai imbalannya, AS disebut akan mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran.
Trump juga mengeklaim kedua negara akan bekerja sama untuk memusnahkan cadangan uranium Iran yang telah diperkaya.
Namun, kantor berita Iran, Fars News Agency, mengutip sumber yang mengetahui jalannya negosiasi dan menyebut pernyataan Trump sebagai percampuran antara fakta dan kebohongan.
Menurut sumber tersebut, Iran justru menuntut pencairan segera dana Iran senilai US$ 12 miliar yang selama ini dibekukan. “Iran tidak akan melanjutkan ke tahap negosiasi berikutnya sebelum pembayaran dilakukan,” demikian pernyataan sumber yang dikutip Fars.
Sumber yang sama juga membantah adanya klausul pembukaan Selat Hormuz tanpa pungutan biaya serta menegaskan tidak ada kesepakatan mengenai penghancuran material nuklir Iran. Baghaei bahkan menegaskan saat ini tidak ada pembicaraan aktif mengenai program nuklir Iran.
AS dan Iran saling menuduh melanggar gencatan senjata di sekitar Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir. Serangan AS terhadap pelabuhan Bandar Abbas di Iran selatan disebut dibalas dengan serangan balasan dari pihak Iran. Meski demikian, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz masih terus berlangsung.
Televisi pemerintah Iran melaporkan sebanyak 24 kapal berhasil melintasi Selat Hormuz dalam 24 jam terakhir dengan koordinasi dari Korps Garda Revolusi Islam Iran dan Kementerian Luar Negeri Iran.
Namun, Iran memberikan peringatan keras kepada negara-negara yang dianggap bermusuhan. “Kapal-kapal dari negara musuh akan menghadapi respons keras dari militer Iran,” demikian peringatan yang disampaikan televisi pemerintah Iran.
Pada sisi lain, konflik di Lebanon juga terus meningkat. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan pasukan negaranya telah bergerak lebih jauh ke wilayah Lebanon dalam operasi militer melawan kelompok Hezbollah yang didukung Iran.
Netanyahu mengatakan pasukan Israel telah melintasi Sungai Litani, sekitar 30 kilometer dari perbatasan Lebanon-Israel. “Kami menyerang Hezbollah secara langsung,” tegas Netanyahu.
Sementara itu, kelompok Hezbollah mengeklaim bertanggung jawab atas serangkaian serangan drone terhadap target-target militer Israel di wilayah utara, termasuk barak militer dan lokasi berkumpulnya pasukan.
Serangan tersebut terjadi saat delegasi militer Israel dan Lebanon sedang melakukan pembicaraan keamanan di Washington. Meski gencatan senjata antara Israel dan Hezbollah seharusnya berlaku sejak 17 April 2026, kedua pihak terus saling menuduh melakukan pelanggaran dan tetap melancarkan serangan satu sama lain.
Lebanon terseret dalam konflik pada awal Maret setelah Hezbollah meluncurkan roket ke wilayah Israel sebagai respons atas tewasnya pemimpin tertinggi Iran dalam serangan gabungan AS dan Israel. Serangan itu kemudian memicu operasi militer besar-besaran Israel di Lebanon, termasuk invasi darat dan serangan udara berkelanjutan.





