Pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing gagal menyepakati jalan untuk akhiri perang AS-Israel vs Iran. Foto/CCTV A A A
WASHINGTON,REDAKSI17.COM – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping gagal menyepakati jalan konkret untuk mengakhiri perang AS-Israel dengan Iran selama pertemuan kedua pemimpin di Beijing. Kegagalan ini memutus harapan untuk mengakhiri konflik yang telah menghancurkan Timur Tengah selama lebih dari dua bulan. Baca Juga : Menteri Radikal Israel Geruduk Masjid Al Aqsa Kunjungan pertama Trump—di masa jabatan keduanya—ke China disambut dengan meriah, dengan harapan bahwa Beijing—sekutu terkuat Teheran—dapat membantu menengahi kesepakatan perdamaian selama 48 jam pertemuan bilateral.
Setelah pembicaraan, Trump mengatakan dia dan Xi Jinping sepakat bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Trump kemudian mengeklaim kedua negara menginginkan Selat Hormuz dibuka. “Kami telah menyelesaikan banyak masalah berbeda yang tidak dapat diselesaikan oleh orang lain,” kata Trump. Namun, tanpa adanya kesepakatan antara AS, yang memicu perang dengan serangannya bersama Israel pada 28 Februari, dan China mengenai blue print konkret untuk perdamaian, Timur Tengah tetap berada dalam ketidakpastian.
“Kami memang membahas Iran,” kata Trump, seperti dikutip The Independent, Sabtu (16/5/2026).
“Kami memiliki pandangan yang sangat mirip tentang bagaimana kami ingin ini berakhir. Kami tidak ingin mereka memiliki senjata nuklir. Kami ingin selat itu terbuka,” katanya lagi. “Kami ingin mereka [Iran] mengakhirinya karena itu hal yang gila di sana, sedikit gila. Dan itu tidak baik, itu tidak boleh terjadi,” imbuh Trump.
Namun, kegagalannya untuk mencapai terobosan terlihat jelas dalam sebuah unggahan di Truth Social setelah pertemuan tersebut berlangsung, di mana Trump mengatakan, “Penghancuran militer Iran dapat dilanjutkan.” Menjelang pertemuan tersebut, Washington telah menyatakan dengan jelas keinginannya agar China berbuat lebih banyak untuk mengakhiri perang. Meskipun Menteri Keuangan AS Scott Bessent mendesak China untuk bergabung dengan Amerika dalam operasi internasional untuk membuka kembali Selat Hormuz, tidak ada indikasi bahwa Trump mendorong Xi Jinping untuk melakukannya selama pertemuan mereka.
Gedung Putih mengatakan pada hari Kamis bahwa Xi Jinping telah memperjelas penentangan China terhadap militerisasi Selat Hormuz dan setiap upaya untuk mengenakan biaya tol untuk penggunaannya, seperti yang telah diancam Iran. Trump mengatakan kepada Fox News bahwa Xi Jinping juga berjanji untuk tidak mengirimkan peralatan militer ke Iran, yang disebutnya sebagai “pernyataan besar”. Namun, ada spekulasi tentang seberapa jauh AS telah menekan China, yang merupakan importir minyak Iran terbesar, akan menggunakan pengaruhnya untuk memaksa Teheran mencabut blokade Selat Hormuz. Beijing mungkin melihat sedikit insentif untuk melakukannya.
Iran mengatakan awal pekan ini bahwa mereka telah mencapai kesepakatan dengan China, yang telah mengizinkan sejumlah besar kapal tanker minyak untuk melewati Selat Hormuz, dengan Beijing menyetujui biaya terbatas yang dikenakan Teheran untuk melewati selat tersebut. Halaman :
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengatakan sekitar 30 kapal telah melintasi Selat Hormuz dengan izin Teheran sejak Rabu malam, termasuk beberapa kapal China. Hal ini terjadi beberapa hari setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengunjungi Menteri Luar Negeri China Wang Yi, di mana yang terakhir mengatakan gencatan senjata diperlukan dan menyerukan transit bebas melalui selat tersebut—tanpa menyebutkan pasukan mana yang memblokirnya. Kementerian Luar Negeri China kemudian mendesak “pihak-pihak yang terlibat” untuk segera memulihkan “jalur normal dan aman” melalui Selat Hormuz.
“Mengenai isu nuklir, disebutkan bahwa China menghargai komitmen Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir, sekaligus mengakui hak sah Iran untuk penggunaan energi nuklir secara damai,” katanya.





