Beranda / Nasional Dan Internasional / Trump: Perang Iran akan berakhir usai pemilu, minyak bakal anjlok

Trump: Perang Iran akan berakhir usai pemilu, minyak bakal anjlok

NEW YORK,REDAKSI17.COM – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperkirakan perang Iran akan berakhir tidak lama setelah pemilu sela AS yang dijadwalkan pada November.

Seperti dikutip CNBC, Trump juga memprediksi harga energi akan turun tajam setelah konflik tersebut berakhir.

“Saya pikir itu akan segera terjadi, sebenarnya tepat setelah pemilu sela,” kata Trump kepada wartawan saat melakukan kunjungan ke Irlandia, Sabtu, ketika ditanya kapan perang Iran kemungkinan berakhir.

“Saya akan mengatakan segera, dan harga minyak akan jatuh ketika itu terjadi,” lanjutnya.

Baca Juga: China punya senjata baru untuk jadi penyeimbang harga minyak dunia
Harga minyak memang turun pada perdagangan Jumat.

Namun, secara mingguan harga minyak masih mencatat kenaikan tajam setelah sebelumnya menembus US$100 per barel untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan.

Harga minyak mentah Brent, patokan global, ditutup turun 2,8% menjadi USD104,61 per barel.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 2,4% menjadi USD100,05 per barel.

Sehari sebelumnya, harga Brent sempat mencapai sekitar USD108 per barel, sedangkan WTI menembus USD104 per barel.

Penurunan harga minyak terjadi setelah media pemerintah Iran melaporkan bahwa Teheran akan bertemu dengan negara-negara Teluk di Oman untuk membahas situasi di Selat Hormuz.

Hal tersebut mengindikasikan adanya upaya diplomasi di tengah eskalasi konflik selama sepekan terakhir.

MS NOW melaporkan, pejabat senior pemerintah Iran dan seorang diplomat negara Teluk mengatakan pejabat Iran dan negara-negara Teluk akan bertemu di Muscat, Oman, pada Senin.

Pertemuan tersebut akan membahas kesepakatan pembentukan jalur pelayaran Iran-Oman melalui Selat Hormuz.

Iran Tegaskan Tak Akan Menyerah

Di tengah munculnya sinyal diplomasi tersebut, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya tidak akan menyerah.

Pezeshkian mengatakan Iran telah mampu bertahan menghadapi agresi Amerika Serikat dan Israel.

“Iran telah berhasil berdiri menghadapi Israel dan AS,” kata Pezeshkian pada Jumat malam saat berbicara kepada para pemimpin agama India di New Delhi.

Dia menambahkan bahwa Iran tidak akan tunduk pada tekanan karena negaranya memperjuangkan kebenaran dan keadilan.

Pernyataan tersebut disampaikan menjelang KTT BRICS di India dan setelah Trump sebelumnya mengatakan Iran berpotensi menghancurkan Israel dan kawasan Timur Tengah serta mulai menyerang kota-kota AS jika Washington tidak mengambil tindakan militer.

Trump Kaitkan Iran dengan Serangan Pipa Saudi

Trump juga mengatakan Iran kemungkinan bertanggung jawab atas serangan terhadap pipa minyak East-West milik Arab Saudi.

“Saya pikir mereka memang bertanggung jawab. Mungkin, ya,” kata Trump ketika ditanya mengenai serangan tersebut.

Arab Saudi pada Jumat mengatakan telah menghentikan sementara operasi pipa sebagai langkah pencegahan setelah terjadi sejumlah serangan drone yang diluncurkan dari Irak.

Pemerintah Saudi menyebut drone tersebut menargetkan pipa minyak di wilayah Riyadh dan Madinah pada Kamis pagi.

Serangan itu menyebabkan kebakaran dan sejumlah kerusakan serta melukai beberapa orang.

Pipa East-West memiliki kapasitas sekitar 7 juta barel per hari dan menjadi jalur penting bagi Arab Saudi untuk mengalihkan ekspor minyak mentah dari kawasan Teluk Persia menuju terminal ekspor di Laut Merah.

Langkah tersebut menjadi semakin penting ketika AS dan Iran bersaing memperebutkan kendali atas Selat Hormuz.

Kementerian Energi Arab Saudi mengatakan tim darurat telah dikerahkan untuk mengamankan pipa dan memastikan kondisi fasilitas tersebut setelah serangan.

Trump juga mengatakan telah berbicara dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman setelah serangan tersebut.

Trump Klaim Houthi Tak Ingin Berperang

Trump juga mengatakan kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman telah menghubungi pemerintahannya.

“Para Houthi menghubungi kami dan mereka tidak ingin berperang dengan kami,” kata Trump.

Menurut Trump, kelompok tersebut telah menyampaikan bahwa mereka tidak ingin menjadi sasaran serangan AS.

Pernyataan itu muncul setelah Houthi dilaporkan bergerak maju ke Pulau Perim, wilayah strategis di Yaman, pada Jumat.

Pergerakan tersebut menjadi dorongan signifikan bagi kelompok itu dalam upayanya menguasai salah satu titik sempit pelayaran paling penting di dunia.

Sejumlah kantor berita melaporkan penguasaan Pulau Perim dengan mengutip beberapa sumber pemerintah Yaman.

Namun, laporan tersebut belum dapat dikonfirmasi secara independen.

Pergerakan Houthi itu terjadi sehari setelah kelompok tersebut merebut Kota Pelabuhan Mokha di pesisir Laut Merah.

Jika benar terjadi, perkembangan tersebut menjadi pukulan berat bagi Arab Saudi dan pasukan Yaman yang didukungnya.

Kondisi ini juga berpotensi membuat Iran dan kelompok yang berafiliasi dengannya memiliki pengaruh atas dua jalur pelayaran minyak penting di sisi berlawanan

Semenanjung Arab, yakni Selat Bab el-Mandeb dan Selat Hormuz.

Pulau Perim merupakan wilayah kecil berbatu yang membelah Selat Bab el-Mandeb, jalur laut yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan pasar global.

Kemajuan Houthi menuju Bab el-Mandeb menimbulkan kekhawatiran terhadap perdagangan global, terutama jika kelompok tersebut meningkatkan ancaman atau serangan terhadap kapal-kapal yang melintas di Laut Merah.

Menurut laporan MS NOW, perkembangan tersebut juga mendorong Putra Mahkota Arab Saudi secara langsung meminta Trump mempertimbangkan intervensi militer AS.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *