Beranda / Daerah / Tumata Ing Rasa, Harmoni Tradisi dan Semangat “Miniature Indonesia” di Bersih Desa Kepek

Tumata Ing Rasa, Harmoni Tradisi dan Semangat “Miniature Indonesia” di Bersih Desa Kepek

Gunungkidul,REDAKSI17.COM – Suasana khidmat menyelimuti Kalurahan Kepek, Kapanewon Wonosari, saat barisan Bergada bersiaga memulai upacara adat Bersih Desa yang digelar pada hari Sabtu Pahing, (8/8/2026). Di bawah langit Gunungkidul, masyarakat berkumpul untuk menyaksikan sebuah tradisi luhur yang bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan wujud syukur dan permohonan keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Upacara dimulai dengan laporan pemimpin upacara kepada pimpinan upacara bahwa seluruh prosesi telah siap dilaksanakan. Puncak prosesi awal ditandai dengan penyerahan 10 gunungan yang berisi hasil bumi dari Wasta selaku perwakilan warga kepada Lurah Kepek, Bambang Setiawan Budi Santosa. Sepuluh gunungan tersebut terdiri dari lima gunungan jaler (laki-laki) dan lima gunungan estri (perempuan) sebagai simbol keseimbangan alam.

Tahun ini, Bersih Desa Kepek mengusung tema “Tumata ing Rasa”, yang bertepatan dengan hari jadi ke-115 kalurahan tersebut. Lurah Kepek, Bambang Setiawan Budi Santosa, menjelaskan bahwa tema ini mengandung makna mendalam tentang keikhlasan dan niat yang bersih dalam setiap tindakan.

Bambang juga menegaskan identitas Kepek sebagai “Miniature Indonesia”. Di desa ini, keberagaman latar belakang, mulai dari tokoh politik, pemuka agama, hingga pejabat, hidup berdampingan secara harmonis. “Meskipun kita berbeda, kita tetap mengutamakan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi,” ujarnya dalam sambutan yang penuh semangat.

Ada hal unik yang mencuri perhatian dalam deretan gunungan tahun ini. Berbeda dari biasanya, terdapat dua gunungan yang puncaknya dihiasi dengan “Onthel Pisang” atau Jantung Pisang.

Filosofi di balik jantung pisang ini sangat mendalam, melambangkan sebuah proses perjuangan yang panjang dan tidak ringan. Hal ini menggambarkan bahwa kepemimpinan dan kesuksesan, seperti halnya pertumbuhan pohon pisang hingga menghasilkan buah, tidak terjadi secara instan melainkan melalui proses yang luar biasa.

Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih yang turut hadir dalam acara tersebut memberikan apresiasi tinggi terhadap pelaksanaan tradisi ini. Bupati menyampaikan bahwa Bersih Desa adalah simbol kemanunggalan antara manusia, alam, dan Tuhan.

Dalam sambutannya, Bupati mengutip pesan Bung Karno mengenai semangat bangsa yang tidak boleh dirantai. Ia menekankan bahwa semangat gotong royong dan kemandirian (berdiri di atas kaki sendiri) adalah kunci kemajuan Kalurahan Kepek. “Tidak ada yang bisa menghalangi kemajuan Kepek jika semangat gotong royong warga sudah menyatu,” tegasnya.

Prosesi diakhiri dengan doa bersama dan kenduri wilujengan di sanggar pamujan, diiringi alunan Gending Ladrang Ganti Padih yang menambah suasana sakral. Melalui upacara ini, warga Kepek berharap senantiasa dianugerahi ketenteraman, rezeki yang berkah, dan kerukunan yang abadi (ayem toto titi tentrem).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *