Umbulharjo,REDAKSI17.COM – Pemerintah Kota Yogyakarta menggelar upacara perdana di tahun 2026 dengan mengusung tema selaras dengan Tema Pembangunan Daerah Kota Yogyakarta Tahun 2026, yakni Penguatan Potensi Daerah sebagai Pondasi Transformasi Pembangunan untuk Kesejahteraan Masyarakat Kota Yogyakarta. Upacara dilaksanakan di halaman Balai Kota Yogyakarta, Senin (19/1).

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo menegaskan bahwa penguatan potensi daerah, termasuk industri dan kekayaan khas lokal, perlu terus dikembangkan sebagai unggulan sekaligus bagian dari promosi Kota Yogyakarta. Namun demikian, ia menekankan bahwa sumber daya manusia (SDM) tetap menjadi penggerak utama pembangunan, pertumbuhan ekonomi, serta tata kelola pemerintahan secara keseluruhan.

“Transformasi pembangunan harus dilakukan secara efektif dan efisien, dengan manusia sebagai pelaku utama sekaligus penentu keberhasilan pembangunan di Kota Yogyakarta,” ujarnya.

Ia memaparkan empat prioritas pembangunan Kota Yogyakarta tahun 2026, yakni pemantapan kualitas SDM, pembangunan infrastruktur, peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, serta penguatan kinerja aparatur dan birokrasi untuk pelayanan publik.

Upacara diikuti oleh pegawai Pemkot Yogya

Hasto juga mengungkapkan keterbatasan ruang fiskal dalam APBD Kota Yogyakarta. Pembangunan infrastruktur melalui belanja modal pada tahun 2026 diperkirakan hanya sekitar 7 persen dari total APBD. Sementara itu, belanja pegawai mencapai sekitar 41 persen, dan belanja pendidikan serta kesehatan sebagai belanja mandatori hampir menyentuh 47 persen. Jika ditambah berbagai kewajiban mandatori lainnya, ruang belanja modal menjadi sangat terbatas.

Meski demikian, Pemerintah Kota Yogyakarta tetap optimistis dapat menghadirkan perubahan melalui inovasi dan gotong royong masyarakat. Ia mencontohkan program bedah rumah yang dijalankan tanpa menggunakan APBD maupun APBN. Sepanjang tahun 2025, sebanyak 82 rumah berhasil diperbaiki berkat partisipasi warga dan komunitas.

“Ini adalah pengamalan nyata Segoro Amarto, Semangat gotong royong agawe majune Ngayogyokarto, bukan sekadar slogan, tapi kerja nyata,” katanya.

Uparaca berlangsung dengan khidmat

Hasto juga berbagi pengalaman saat meninjau langsung kondisi warga kurang mampu, termasuk keluarga rentan dengan persoalan kesehatan dan ekonomi yang kompleks. Menurutnya, kehadiran langsung aparatur di lapangan sangat penting agar persoalan riil masyarakat tidak terlewatkan.

“Kita jangan menjadi menara gading. Kita harus hands on, melihat langsung penderitaan warga agar kebijakan yang diambil benar-benar menyentuh kebutuhan mereka,” tegasnya.

Ia berharap seluruh perangkat daerah dapat bekerja lebih baik di tahun 2026 dengan prinsip efisiensi dan money follow program, demi mewujudkan pembangunan yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat Kota Yogyakarta.

 

Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo juga menyerahkan piagam penghargaan kepada mitra swasta yang berperan aktif sebagai orang tua asuh dalam program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING). Penghargaan diserahkan kepada Facility Service & Stakeholder Relations Manager PT Sarihusada Generasi Mahardika, Syarif Karnadi, serta Asisten Manajer Supermarket Pamella, Anjar Setyono.

Syarif Karnadi menyampaikan bahwa keterlibatan PT Sarihusada Generasi Mahardika dalam upaya pencegahan stunting di Kota Yogyakarta bukanlah yang pertama. Perusahaan tersebut telah terlibat selama beberapa tahun, dengan penguatan program yang signifikan pada tahun 2025 dan akan terus diperkuat pada tahun 2026.

“Di tahun 2025 kami menitikberatkan pendampingan di wilayah Tamanan dan Sorosutan, dengan masa pendampingan sekitar delapan bulan. Ke depan, di 2026, program ini akan kami perkuat, khususnya di wilayah sekitar pabrik kami di Yogyakarta, dengan kolaborasi bersama berbagai pihak,” jelasnya.

 

Syarif menambahkan bahwa pendekatan yang dilakukan tidak bersifat sporadis, melainkan diawali dengan pemetaan (mapping), pengumpulan data, analisis, hingga perancangan intervensi yang tepat sasaran. Intervensi tidak hanya menyasar anak stunting, tetapi juga kelompok berisiko tinggi seperti calon pengantin, ibu hamil, dan balita.

“Stunting bukan hanya soal gizi, tetapi juga soal edukasi, lingkungan, dan akses air bersih. Karena itu kami fokus pada edukasi, pendampingan keluarga, serta penguatan pemahaman masyarakat,” ujarnya.