Mlati,REDAKSI17.COM – Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, mengajak generasi muda untuk berperan aktif dalam upaya pencegahan stunting sebagai kunci memanfaatkan bonus demografi Indonesia. Hal itu disampaikannya saat menjadi narasumber dalam Kajian Iftar di Masjid Mardliyyah Islamic Center UGM pada Selasa (10/3/2026).

Dalam kajian tersebut, Hasto menjelaskan bahwa Indonesia tengah berada dalam momentum bonus demografi yang hanya bisa memberikan manfaat apabila kualitas sumber daya manusia (SDM) mampu ditingkatkan sejak dini.

Menurutnya, keberhasilan memanfaatkan bonus demografi sangat ditentukan oleh kualitas generasi muda saat ini. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi tersebut justru berpotensi menjadi beban demografi di masa depan.

“Bonus demografi bisa membawa masyarakat menuju kesejahteraan, tetapi juga bisa menjadi bencana demografi jika kualitas SDM tidak dipersiapkan dengan baik. Penentunya adalah generasi muda saat ini,” ujarnya.

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo.

Hasto mengatakan generasi muda saat ini merupakan generasi “sandwich” yang memiliki tanggung jawab besar. Selain menopang orang tua, mereka juga akan menjadi penopang generasi berikutnya.

Ia menyebutkan, untuk mencapai kesejahteraan dan mewujudkan Indonesia maju pada 2045 diperlukan sejumlah syarat, di antaranya generasi yang sehat, tidak mengalami stunting, tidak putus sekolah, serta memiliki produktivitas kerja yang baik.

Dalam paparannya, Hasto juga menyoroti pentingnya peningkatan kualitas SDM melalui pendekatan Human Capital Index (HCI). Menurutnya, indikator tersebut menilai seberapa besar kualitas manusia mampu berkontribusi terhadap produktivitas dan pembangunan.

Ia menilai salah satu faktor penting yang memengaruhi kualitas SDM adalah stunting yang terjadi pada anak usia di bawah lima tahun.

“Stunting tidak hanya dipengaruhi oleh kekurangan makanan. Sekitar 70 persen penyebabnya adalah faktor sensitif seperti lingkungan, sanitasi, air bersih, pendidikan, dan kondisi sosial ekonomi keluarga,” jelasnya.

Sesi Diskusi bersama Mahasiswa UGM tentang Stunting.

Hasto menambahkan bahwa hanya sekitar 30 persen penyebab stunting yang berasal dari faktor spesifik seperti kekurangan gizi atau penyakit.

Karena itu, upaya pencegahan stunting harus dilakukan secara menyeluruh dengan memperbaiki ekosistem kehidupan anak, mulai dari lingkungan yang sehat, sanitasi yang baik, hingga pola pengasuhan yang tepat.

Ia juga menekankan bahwa pencegahan stunting seharusnya dimulai sejak sebelum pernikahan melalui pemeriksaan kesehatan calon pengantin, termasuk pemantauan kondisi gizi perempuan.

“Pencegahan stunting harus dimulai sejak pra-konsepsi, bahkan sebelum menikah. Kondisi kesehatan calon ibu harus dipastikan baik agar anak yang lahir tumbuh sehat,” katanya.

Hasto juga memaparkan perkembangan penanganan stunting di Kota Yogyakarta. Berdasarkan data yang disampaikannya, angka stunting di Kota Yogyakarta berhasil ditekan dari 14,8 persen pada 2024 menjadi sekitar 8,2 persen di tahun 2025.

Ia menambahkan bahwa upaya penurunan stunting dilakukan melalui pendataan calon pengantin, ibu hamil, hingga pemberian intervensi gizi bagi kelompok berisiko.

Melalui kegiatan kajian tersebut, Hasto berharap mahasiswa sebagai generasi muda dapat memahami pentingnya menjaga kualitas kesehatan dan lingkungan sejak dini sebagai bagian dari upaya menciptakan generasi unggul di masa depan.