Umbulharjo,REDAKSI17.COM – Pemerintah Kota Yogyakarta mulai merancang konsep wisata budaya yang tidak lagi menempatkan wisatawan hanya sebagai penonton, tapi sebagai bagian dari aktivitas sosial dan kebudayaan warga. Gagasan tersebut mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) antara Pemkot Yogyakarta dan Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta pada Selasa (20/1/2026) di Ruang Yudistira, Balai Kota.
Diskusi tersebut membahas inovasi program wisata berbasis budaya yang diharapkan mampu menjadi pengungkit ekonomi masyarakat wilayah.
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menekankan pengembangan kebudayaan perlu diarahkan pada lahirnya karya, kreativitas, dan inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat. Menurutnya, kebudayaan tidak cukup hanya dipelihara, tapi harus dikelola secara terencana agar mampu mendorong kemajuan masyarakat dan sifatnya produktif.
“Kalau karya, kreativitas, dan inovasi terus lahir, itu sudah menjadi modal besar. Tinggal bagaimana kita menyusunnya menjadi rencana yang memberi daya ungkit bagi ekonomi dan kemajuan wilayah,” kata Hasto.
Dalam diskusi tersebut, salah satu gagasan yang mengemuka adalah pengembangan program belajar budaya yang dikolaborasikan dengan konsep bule mengajar. Program ini dirancang sebagai aktivitas edukatif sekaligus atraksi wisata, khususnya bagi wisatawan asing yang berkunjung ke Yogyakarta.
Melalui skema ini, wisatawan asing tidak hanya menjadi penonton, namun terlibat langsung dalam aktivitas belajar dan berbagi pengetahuan, seperti pengenalan budaya lokal, kedisiplinan, hingga interaksi sosial dengan masyarakat dan anak-anak. Program tersebut diusulkan digelar pada waktu-waktu tertentu, seperti Sabtu pagi, ketika aktivitas wisata relatif tidak padat.
“Sebagai bentuk apresiasi, wisatawan yang mengikuti program kita beri sertifikat penghargaan, ya dari Wali Kota atas partisipasi mereka dalam kegiatan sosial dan kebudayaan. Jadi pengalamannya tidak hanya berwisata saja, tapi ada dampak yang didapatkan dan diberikan oleh wisatawan,” terangnya.
Perwakilan Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta, Setyo Harwanto, menyampaikan Kota Yogyakarta saat ini memiliki Indeks Pembangunan Kebudayaan 73,79 tertinggi secara nasional. Selain itu, terdapat lebih dari 400 komunitas dan pelaku seni budaya yang memiliki kesadaran hukum dan kelembagaan.
Namun demikian, ia mengungkapkan adanya tantangan besar berupa tekanan gentrifikasi pariwisata. Banyak usaha dan atraksi budaya tumbuh di Yogyakarta, namun manfaat ekonominya belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat lokal.
“Perputaran uang sering kali tidak tinggal di Yogyakarta. Ini menjadi tantangan bagaimana kebudayaan naik kelas, dari program berbasis orientasi kegiatan menjadi program yang berorientasi pasar, tanpa kehilangan nilai budaya,” ujarnya.
FGD ini juga membahas pentingnya penguatan ekosistem budaya melalui pemanfaatan ruang-ruang publik seperti Malioboro, kampung wisata, taman budaya, serta kawasan penyangga kota. Aktivitas budaya diarahkan tidak hanya sebagai tontonan, tapi juga sebagai pengalaman yang memberi nilai edukatif dan ekonomi.
Melalui forum ini, Pemkot Yogyakarta dan Dewan Kebudayaan Yogyakarta berharap dapat merumuskan model wisata berbasis budaya yang lebih partisipatif, berkeadilan, dan mampu menjaga identitas lokal, sekaligus mendorong pemerataan ekonomi di wilayah Kota Yogyakarta.


