PONOROGO,REDAKSI17.COM — Pondok Modern Darussalam Gontor memasuki usia satu abad pada 2026. Momentum tersebut menjadi refleksi atas perjalanan panjang pendidikan Islam sekaligus penegasan tantangan baru dalam membentuk generasi yang mampu menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan iman, akhlak, dan nilai-nilai kemanusiaan.

Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua MPR RI sekaligus Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI saat hadir pada Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor 1926–2026.

Edhie Baskoro mengajak seluruh keluarga besar Gontor untuk tidak sekadar memaknai 100 tahun sebagai perjalanan sejarah, tetapi juga sebagai momentum menyiapkan arah pendidikan dan peradaban untuk satu abad berikutnya.

“Kita tidak sekadar merayakan 100 tahun berdirinya Gontor. Kita merayakan 100 tahun perjalanan menghadirkan nilai-nilai Islam dan membangun manusia,” ujarnya.

Ibas Yudhoyono menyampaikan penghormatan kepada para pendiri Gontor, Trimurti, yakni KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fannanie, dan KH Imam Zarkasyi, yang telah meletakkan fondasi pendidikan Gontor sejak 20 September 1926.

Menurutnya, dunia telah mengalami perubahan yang sangat cepat. Teknologi berkembang dari era radio dan televisi hingga internet dan kini memasuki era artificial intelligence (AI). Namun, di tengah perubahan tersebut, terdapat nilai-nilai yang tetap relevan, yakni iman, ilmu, akhlak, kemandirian, dan keikhlasan.

“Semakin canggih teknologi, semakin kita membutuhkan adab. Semakin cepat informasi, semakin kita membutuhkan hikmah. Dan semakin pintar artificial intelligence, semakin kita membutuhkan manusia yang berkarakter,” tegasnya.

Karena itu, EBY berpesan kepada para santri agar tidak memandang kehidupan pesantren sebagai sesuatu yang tertinggal dari perkembangan zaman. Santri justru harus menjadi bagian dari masa depan dengan menguasai ilmu pengetahuan, bahasa, teknologi, serta memahami perkembangan dunia.

Namun, penguasaan tersebut harus tetap disertai fondasi iman dan akhlak.

“Indonesia tidak hanya membutuhkan orang pintar. Indonesia membutuhkan orang pintar yang bisa dipercaya,” katanya.

Teknologi Harus Menjadi Alat, Bukan Pengendali

Perkembangan teknologi digital dan AI juga menjadi perhatian khusus dalam pesannya kepada generasi muda, khususnya Generasi Z dan Generasi Alpha.

Ibas Yudhoyono mengajak para santri untuk tidak takut terhadap perubahan teknologi, tetapi mampu menempatkan teknologi sebagai alat untuk menciptakan manfaat.

“Kuasi teknologi, jangan diperbudak teknologi. Gunakan media sosial untuk menyebarkan kebaikan, bukan sekadar mengejar perhatian,” pesannya.

Dr. EBY juga mengingatkan generasi muda agar tetap memiliki kendali atas identitas dan arah kehidupannya di tengah kuatnya pengaruh algoritma digital.

“Algoritma boleh menentukan apa yang kita lihat, tetapi jangan biarkan algoritma menentukan siapa diri kita. Karakter, nilai, dan imanlah yang harus menentukan arah hidup kita,” ujarnya.

Menurutnya, tantangan pendidikan di era teknologi bukan semata-mata menghasilkan manusia yang memiliki kecerdasan tinggi, tetapi membentuk manusia yang mampu menggunakan kecerdasannya untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.

Nilai Gontor Dibawa Sepanjang Hayat

Kepada para alumni Gontor, Wakil Ketua MPR RI tersebut berpesan agar nilai-nilai yang diperoleh selama berada di pondok tetap menjadi bagian dari kehidupan setelah kembali ke tengah masyarakat.

Ia menggambarkan bahwa keberadaan Gontor tidak berhenti ketika seorang santri meninggalkan lingkungan pondok.

“Ketika alumni menjadi guru yang ikhlas, Gontor hadir. Ketika alumni menjadi pengusaha yang jujur, Gontor hadir. Ketika alumni menjadi pemimpin yang amanah, Gontor hadir,” tuturnya.

Menurutnya, pondok bukan hanya tempat yang pernah ditinggali, melainkan nilai yang dibawa sepanjang kehidupan.

Pesan tersebut sejalan dengan tema peringatan 100 tahun Gontor, “Gontor Menghadirkan Nilai-Nilai Islam, Membangun Peradaban Utama.”

Edhie Baskoro menilai tema tersebut menegaskan bahwa Islam tidak hanya mengajarkan kesalehan pribadi, tetapi juga mendorong umat untuk membangun kehidupan yang berilmu, berkeadilan, berakhlak, menghargai perbedaan, serta memberikan manfaat bagi sesama.

“Peradaban utama bukan sekadar bangunan yang tinggi dan bukan sekadar teknologi yang canggih. Tetapi manusia yang tinggi ilmunya, mulia akhlaknya, dan besar manfaatnya,” ujarnya.

Abad Kedua Gontor

Memasuki satu abad berikutnya, ia menyebut tantangan Gontor bukan semakin ringan. Dunia yang terus berubah menuntut pendidikan yang mampu menjaga akar nilai sekaligus terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

“100 tahun pertama adalah sejarah. 100 tahun berikutnya adalah tanggung jawab,” tegasnya.

EBY berharap Gontor terus melahirkan generasi yang mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi tetap berakar pada nilai-nilai Islam.

Menurutnya, masa depan membutuhkan generasi yang mampu membangun peradaban modern tanpa kehilangan akhlak dan kemanusiaan.

“Peradaban yang maju, tetapi tetap berakar pada nilai-nilai Islam. Peradaban yang modern, tetapi tetap menjunjung akhlak. Peradaban yang menguasai teknologi, tetapi tidak kehilangan kemanusiaan,” katanya.

Wakil Ketua MPR RI tersebuta juga menyampaikan ucapan selamat atas satu abad perjalanan Pondok Modern Darussalam Gontor.

Ia berharap Gontor terus menghadirkan nilai-nilai Islam, melahirkan generasi berilmu dan berakhlak, serta memberikan kontribusi bagi pembangunan peradaban Indonesia dan dunia.

Khusus kepada para santri, ia menitipkan pesan agar berani memiliki cita-cita besar, menguasai ilmu dan teknologi, memahami dunia, namun tetap menjaga adab.

“Bermimpilah besar. Kuasai dunia. Gunakan teknologi. Tetapi jangan pernah kehilangan adab,” pesannya.

EBY menutup dengan optimisme bahwa setelah 100 tahun mengabdi, mendidik, dan menginspirasi, Gontor akan terus menjalankan perannya dalam menghadirkan nilai-nilai Islam dan membangun peradaban utama pada satu abad berikutnya.