JAKARTA, REDAKSI17.COM — Pilpres 2029 memang masih jauh, tetapi manuver dan spekulasi politik sudah mulai bermunculan.
Nama Dedi Mulyadi alias KDM, Gubernur Jawa Barat, semakin sering dikaitkan dengan kekuatan politik di sekitar Joko Widodo. Bahkan, muncul isu bahwa KDM masuk radar Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang kini dipimpin Kaesang Pangarep, putra Jokowi.
Yang membuat isu ini semakin menarik adalah elektabilitas KDM yang disebut terus menanjak.
Dalam survei SMRC Juli 2026 yang diberitakan sejumlah media, KDM disebut memperoleh 35 persen dalam simulasi semi-terbuka, sementara Prabowo berada di angka 14,5 persen.
Dalam simulasi head-to-head yang sama, KDM juga disebut unggul 59 persen berbanding 28,3 persen atas Prabowo.
Angka survei tersebut kemudian membuka ruang bagi berbagai skenario politik 2029.
Salah satunya adalah wacana KDM meninggalkan Gerindra dan bergabung dengan PSI. Bahkan, mulai muncul spekulasi mengenai duet Dedi Mulyadi–Gibran Rakabuming Raka.
Namun, sampai saat ini belum ada bukti bahwa KDM akan pindah partai.
Justru sebaliknya, KDM telah membantah isu tersebut. Ia menegaskan masih berstatus Wakil Ketua Umum Dewan Pembina Gerindra dan menyebut kabar kepindahannya ke PSI sebagai hoaks.
Menariknya, KDM memang bukan nama asing dalam lingkaran politik Jokowi. Ia pernah menjadi Ketua Tim Kampanye Jokowi di Jawa Barat pada Pilpres 2019, sebelum kemudian keluar dari Golkar dan bergabung dengan Gerindra pada 2023.
Spekulasi kembali menghangat setelah dalam sebuah acara yang dihadiri Jokowi dan Budi Arie muncul seruan agar Gibran dipasangkan dengan KDM untuk Pilpres 2029.
Dari sinilah muncul pertanyaan yang lebih besar:
Apakah ini hanya wacana politik biasa, atau tanda sedang terbentuknya poros baru menuju 2029?
Namun, satu hal harus dipisahkan dari spekulasi tersebut: belum ada pernyataan resmi Jokowi bahwa dirinya akan meninggalkan atau berhenti mendukung Prabowo.
Karena itu, menyimpulkan bahwa “Jokowi meninggalkan Prabowo” saat ini masih terlalu dini.
Tetapi jika elektabilitas KDM terus meningkat, komunikasi politik semakin intens, dan dukungan partai-partai mulai mengarah kepadanya, peta Pilpres 2029 jelas bisa berubah.
Bisa saja KDM menjadi aset penting Gerindra. Tapi di sisi lain, popularitasnya juga dapat membuatnya menjadi salah satu figur paling diperhitungkan dalam pertarungan politik berikutnya.
Dan kalau suatu hari muncul duet KDM–Gibran, pertanyaannya tinggal satu: siapa yang akan berada di seberang mereka?
Prabowo vs KDM–Gibran?