Yogyakarta,REDAKSI17.COM – Tol Jogja–Solo Masuk Rencana Divestasi, Adhi Karya Siapkan Strategi Baru
Pembangunan infrastruktur jalan tol tidak hanya membutuhkan investasi besar, tetapi juga strategi keuangan yang matang. Hal inilah yang menjadi perhatian PT Adhi Karya (Persero) Tbk atau ADHI melalui rencana penjualan seluruh sahamnya di PT Jasamarga Jogja Solo (JMJ).
Berdasarkan informasi perusahaan yang Anda berikan, ADHI berencana menjual 1.714.808 saham atau setara 47,18% kepemilikannya di JMJ kepada PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero), yang dikenal sebagai SMI. Nilai transaksi tersebut mencapai Rp1.765.816.000.000 atau sekitar Rp1,766 triliun.
JMJ sendiri merupakan pemegang konsesi Jalan Tol Solo–Yogyakarta–NYIA Kulon Progo, jalur strategis yang diharapkan mendukung konektivitas antardaerah serta perjalanan menuju kawasan Yogyakarta dan sekitarnya.
Perjanjian Jual Beli Bersyarat antara ADHI dan SMI telah ditandatangani pada 30 September 2026. Namun, transaksi ini belum sepenuhnya rampung karena masih memerlukan pemenuhan sejumlah persyaratan, termasuk konfirmasi dari Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) dan persetujuan pemegang saham ADHI melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB).
Rapat tersebut dijadwalkan berlangsung pada 13 November 2026.
Lalu, apa alasan di balik rencana penjualan saham ini?
Manajemen ADHI menyebut dana hasil divestasi akan digunakan untuk sejumlah kebutuhan perusahaan, antara lain membayar utang berbunga, mendukung modal kerja, dan memenuhi kebutuhan usaha lainnya. Langkah ini juga berkaitan dengan upaya mengurangi kebutuhan tambahan setoran modal ke JMJ, yang diperkirakan masih menghadapi kerugian pada tahap awal operasional jalan tol.
Penilaian independen dari KJPP Toto Suharto & Rekan menyebut nilai pasar saham yang akan dijual mencapai sekitar Rp1,74 triliun per 30 Juni 2026. Harga transaksi yang disepakati dengan SMI tercatat sekitar 1,75% di atas nilai pasar tersebut.
Jika transaksi selesai, ADHI tidak lagi memiliki saham di JMJ. Kepemilikan saham yang tersisa sebesar 52,82% berada pada PT Jasa Marga (Persero) Tbk.
Bukan hanya menjual saham, ADHI juga mengubah strategi penggunaan dana.
Perusahaan mengusulkan pengalihan sisa dana hasil rights issue tahun 2022 sebesar Rp378,69 miliar menjadi modal kerja. Dana tersebut sebelumnya dialokasikan untuk penyertaan modal pada sejumlah entitas usaha.
Rencananya, dana itu digunakan untuk mendukung penyelesaian proyek yang masih berjalan, termasuk pembelian material konstruksi, pembayaran tenaga kerja dan subkontraktor, serta mobilisasi peralatan.
Manajemen berharap langkah tersebut dapat mempercepat penyelesaian proyek dan membantu arus kas perusahaan, terutama ketika terdapat jeda antara pengeluaran biaya konstruksi dan penerimaan pembayaran dari pekerjaan yang telah diselesaikan.
Dengan demikian, rencana ADHI ini mencakup dua langkah penting: melepas kepemilikan di JMJ dan mengarahkan sisa dana rights issue untuk mendukung kegiatan operasional.
Meski demikian, keputusan akhir tetap menunggu persetujuan pemegang saham serta pemenuhan persyaratan transaksi yang berlaku.
Perkembangan ini menarik untuk dicermati karena berkaitan dengan pengelolaan keuangan perusahaan konstruksi sekaligus kelanjutan pengembangan infrastruktur jalan tol di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah.
Rencana penjualan saham ini menjadi bagian dari strategi ADHI untuk mengatur keuangan dan mendukung penyelesaian proyek. Menurut Anda, aspek apa yang paling penting diperhatikan dalam pengelolaan investasi jalan tol: kelancaran pembangunan, kondisi keuangan perusahaan, atau manfaatnya bagi masyarakat?
Sumber informasi: Materi berita mengenai rencana divestasi saham ADHI di PT Jasamarga Jogja Solo dan perubahan penggunaan dana rights issue, berdasarkan keterbukaan informasi perusahaan yang Anda berikan.








