Beranda / Tokoh / Try Sutrisno, Dari Ajudan Hingga Menjadi Wapres

Try Sutrisno, Dari Ajudan Hingga Menjadi Wapres

Perjalanan karier Try Sutrisno menjadi salah satu kisah menarik dalam sejarah kepemimpinan Indonesia. Berawal sebagai perwira militer dari korps Zeni, ia kemudian dipercaya mendampingi Presiden Soeharto sebagai ajudan, menempati sejumlah jabatan strategis di lingkungan ABRI, hingga akhirnya terpilih sebagai Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia.
Jalan panjang menuju posisi orang nomor dua di Indonesia itu tidak terjadi dalam semalam. Pengalaman di lapangan, penugasan di lingkungan Istana, serta kepercayaan dari Soeharto menjadi bagian penting dalam perjalanan kariernya.
Memulai Karier dari Lapangan Militer
Try Sutrisno memulai pengabdiannya di dunia militer pada 1960. Ia bergabung dengan korps Zeni, satuan yang memiliki tugas teknis, termasuk pembangunan, perbaikan, dan penghancuran prasarana militer sesuai kebutuhan operasi.
Dalam perjalanan kariernya, Try sempat bertugas di Palembang, kemudian berpindah ke Jakarta, Bandung, dan sejumlah wilayah di Jawa Timur. Pengalaman sebagai perwira lapangan tersebut dijalaninya hingga 1974.
Pada masa itu, karier Try masih jauh dari pusat kekuasaan nasional. Namun, sebuah penugasan kemudian mengubah arah perjalanan hidupnya.
Dipercaya Menjadi Ajudan Presiden Soeharto
Pada 1974, Try Sutrisno mendapat tugas sebagai ajudan Presiden Soeharto. Penunjukan tersebut menjadi titik penting yang membawanya ke lingkungan terdekat kepala negara.
Dalam buku Pak Harto: The Untold Stories (2011), Try mengungkapkan bahwa dirinya tidak pernah membayangkan akan menjadi ajudan presiden. Ia merasa selama ini lebih banyak menjalani tugas sebagai perwira di lapangan.
Meski demikian, selama kurang lebih empat tahun mendampingi Soeharto, Try memperoleh pengalaman di lingkungan kepresidenan sekaligus membangun kedekatan profesional dengan pemimpin Orde Baru tersebut.
Setelah menyelesaikan tugas sebagai ajudan pada 1978, ia kembali menapaki jenjang karier militer dengan menduduki sejumlah posisi penting.
Karier Terus Menanjak di Jajaran ABRI
Perjalanan Try berlanjut ketika ia dipercaya menjadi Kepala Staf Kodam Udayana. Pada 1979, ia kemudian menjabat Panglima Kodam Sriwijaya, sebelum beralih menjadi Panglima Kodam Jakarta Raya pada 1982.
Kariernya terus berkembang di tingkat pusat. Try pernah menduduki jabatan Wakil Kepala Staf Angkatan Darat sebelum akhirnya dipercaya sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD).
Pengangkatan Try sebagai KSAD menarik perhatian karena ia berasal dari korps Zeni, bukan dari korps tempur yang kerap dianggap memiliki jalur karier berbeda dalam tradisi militer.
Pengamat politik Salim Said, dalam buku Dari Gestapu ke Reformasi: Serangkaian Kesaksian (2013), menilai bahwa penunjukan tersebut mencerminkan besarnya kepercayaan Soeharto kepada Try. Faktor loyalitas dan hubungan yang terbangun selama bertahun-tahun turut menjadi bagian dari penilaian terhadap posisinya.
Menjadi Panglima ABRI, tetapi Belum Terpilih sebagai Wapres
Pada 1988, Try Sutrisno mencapai posisi yang semakin strategis setelah diangkat menjadi Panglima ABRI.
Jabatan tersebut membuat namanya mulai diperhitungkan dalam dinamika politik nasional. Spekulasi mengenai peluang Try menjadi wakil presiden pun bermunculan.
Namun, pada periode itu, Soeharto justru memilih Sudharmono untuk mendampinginya sebagai Wakil Presiden.
Try tetap menjalankan tugasnya sebagai Panglima ABRI hingga akhirnya memasuki babak baru dalam perjalanan politiknya lima tahun kemudian.
1993: Try Sutrisno Terpilih sebagai Wakil Presiden ke-6 RI
Pada 1993, Try Sutrisno resmi diangkat menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia untuk mendampingi Soeharto pada periode 1993–1998.
Pemilihannya mengakhiri perjalanan panjang dari perwira lapangan hingga ke pucuk kepemimpinan nasional. Try juga menjadi figur yang dipilih setelah melalui dinamika politik di lingkungan elite Orde Baru.
Nama B.J. Habibie, yang saat itu dikenal sebagai Menteri Riset dan Teknologi serta memiliki pengaruh di kalangan tertentu, turut disebut dalam pembahasan mengenai kandidat wakil presiden.
Menurut Salim Said, kedekatan Try dengan Soeharto menjadi salah satu faktor yang membantu menjelaskan mengapa ia memperoleh kepercayaan tersebut. Selain loyalitas, Try juga dinilai memiliki citra pribadi yang sederhana dan relatif tidak dibebani kontroversi politik yang menonjol pada masa itu.
Sementara itu, sejarawan M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern (2004) membahas peran lingkaran dalam Soeharto dalam dinamika suksesi kepemimpinan. Dalam konteks tersebut, Try dipandang sebagai figur yang dapat mendukung kesinambungan pemerintahan apabila terjadi perubahan kepemimpinan.
Tugas Try Sutrisno Selama Menjadi Wakil Presiden
Selama menjabat sebagai wakil presiden, Try menjalankan fungsi pendampingan terhadap Presiden Soeharto dan terlibat dalam pengawasan pelaksanaan pembangunan nasional.
Masa jabatannya berlangsung di tengah kuatnya pengaruh Soeharto dalam sistem politik Indonesia. Posisi wakil presiden ketika itu berada dalam struktur pemerintahan yang sangat terpusat pada presiden.
Try mengakhiri masa jabatannya pada 1998. Setelah Soeharto mengundurkan diri pada Mei tahun tersebut, B.J. Habibie mengambil alih jabatan presiden sekaligus mengakhiri masa Try sebagai wakil presiden.
Kisah tentang Karier, Kepercayaan, dan Kekuasaan
Perjalanan Try Sutrisno memperlihatkan bagaimana karier seorang perwira militer dapat berkembang dari penugasan teknis di lapangan menuju posisi strategis di pusat pemerintahan.
Pengalamannya menjadi ajudan Soeharto kemudian diikuti oleh jabatan-jabatan penting di tubuh ABRI, sebelum akhirnya mengantarkannya ke kursi Wakil Presiden RI.
Kisah tersebut juga menunjukkan bahwa dalam dinamika politik Orde Baru, pengalaman militer, loyalitas, jaringan kekuasaan, serta kepercayaan dari presiden memiliki peran penting dalam menentukan arah karier seseorang.
Dari seorang perwira korps Zeni hingga menjadi Wakil Presiden ke-6 RI, Try Sutrisno menempuh perjalanan panjang yang memperlihatkan eratnya hubungan antara karier militer dan politik Indonesia pada era Soeharto.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *