Jetis,REDAKSI17.COM – Pemerintah Kota Yogyakarta meluncurkan Outcome Based Learning (OBL) Akademi Pencegahan Stunting sebagai upaya meningkatkan kompetensi aparatur sipil negara (ASN) sekaligus mendorong penurunan angka stunting melalui intervensi yang terukur. Program ini akan dievaluasi dalam enam bulan ke depan untuk memastikan pembelajaran menghasilkan perubahan nyata di masyarakat.
Peluncuran dan pembukaan program tersebut dilakukan Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo di Khas Tugu, Senin (12/10/2026). Akademi Pencegahan Stunting menjadi proyek percontohan penerapan Jogja Corporate University (Jogja Corpu) dengan pembelajaran yang berorientasi pada hasil dan penyelesaian persoalan di lapangan.
Hasto menegaskan, program pengembangan kompetensi ASN harus memiliki tema yang spesifik, target yang jelas, serta hasil yang dapat diukur. Dengan demikian, keberhasilan pembelajaran tidak hanya dinilai dari pelaksanaan pelatihan, tapi juga dari dampaknya terhadap kinerja organisasi dan masyarakat.
“Kalau kita belajar susah-susah, berlatih dengan mengeluarkan tenaga, biaya, dan waktu, tetapi tidak ada perubahan, untuk apa? Makanya harus ada outcome yang bisa dibuktikan,� tegasnya.
Menurutnya, pendekatan OBL menjadi langkah untuk memastikan setiap program pembelajaran memberikan kontribusi terhadap penyelesaian masalah prioritas daerah. Akademi Pencegahan Stunting ditetapkan sebagai salah satu program quick win yang hasilnya harus dapat dievaluasi secara konkret.
Hasto menyebut, upaya pencegahan stunting perlu menyasar masyarakat berdasarkan tingkat risiko, bukan semata-mata kondisi ekonomi. Pendampingan harus diberikan kepada kelompok yang membutuhkan intervensi, termasuk calon pengantin, ibu hamil, dan balita.
Berdasarkan data Pemantauan Status Gizi (PSG) periode Agustus 2026, prevalensi stunting di Kota Yogyakarta tercatat 8,25 persen. Jumlah ini mengalami tren penurunan, data pertengahan 2026 menunjukkan sekitar 764 dari 9.235 balita mengalami stunting atau setara 8,27 persen.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Kota Yogyakarta Budi Santosa Asrori mengatakan, Akademi Pencegahan Stunting merupakan penerapan pembelajaran berbasis kinerja dalam pengembangan Jogja Corpu. Melalui pendekatan tersebut, peningkatan kompetensi ASN diharapkan sejalan dengan pencapaian target organisasi dan kebijakan pemerintah daerah.
“OBL berorientasi pada hasil dan dikaitkan dengan penyelesaian permasalahan nyata dalam pelaksanaan tugas. Kami berharap peningkatan kompetensi ASN tidak berhenti di ruang kelas, namun benar-benar terhubung dengan kebutuhan masyarakat,� ungkapnya.
Program percontohan ini diikuti 18 pejabat pengawas, terdiri atas tiga lurah, 12 kepala seksi pemberdayaan masyarakat di kelurahan, dua kepala jawatan sosial di kemantren, serta satu kepala seksi promosi kesehatan masyarakat pada Dinas Kesehatan.
Peserta dipilih dengan mempertimbangkan keterkaitan tugas dan kedekatan mereka dengan masyarakat, sehingga hasil pembelajaran dapat diterapkan langsung dalam upaya pencegahan stunting di wilayah masing-masing.
Pembelajaran berlangsung pada 21 September hingga 23 Desember 2026 dengan total 409 jam pembelajaran. Tahapannya meliputi Overview Program, Mindset Builder, Problem Discovery, Pitch and Tool Performance, Matching Program, Execution Pass, Impact Showcase, serta Monitoring dan Evaluasi.






