Sekutu Dekat, Mengapa AS Ogah Bantu Saudi Serang Houthi?

Kenapa AS ogah bantu Arab Saudi serang Houthi meski merupakan sekutu dekat? (AFP/BRENDAN SMIALOWSKI)

Jakarta,REDAKSI17.COM — Serangan milisi Houthi Yaman ke Bandara dan pangkalan minyak di Arab Saudi terus terjadi.
Pada Minggu (11/10), dua warga negara Indonesia (WNI) menjadi korban luka dalam serangan kelompok milisi Houthi Yaman di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, Arab Saudi.

Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Arab Saudi pada Selasa (13/10) melaporkan bahwa dua WNI mengalami luka ringan dalam serangan Houthi di Bandara Internasional King Khalid.

Serangan Houthi juga menyasar kilang minyak terbesar di dunia, Saudi Aramco. Sebuah gedung administrasi milik Aramco, terkena serangan yang menyebabkan kebakaran berskala kecil pada Selasa (13/10).

Seorang sumber mengatakan kepada Reuters bahwa sebuah rudal balistik menghantam kompleks kantor pusat Aramco di Dhahran. Sebuah menara perkantoran di kompleks itu terkena serangan dan tiga lantai teratasnya mengalami kerusakan.

Mengapa AS tak mau bantu Saudi serang Houthi?
Setidaknya dua kali Arab Saudi minta kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk membantu secara total melawan Houthi.

Menurut laporan Al Jazeera, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) setidaknya dua kali berbicara langsung dengan Trump untuk meminta bantuan militer tersebut.

Permintaan ini datang ketika Arab Saudi kembali terlibat saling serang dengan milisi Houthi dalam beberapa waktu terakhir, dan ketika perang AS vs Iran sejak Februari lalu juga belum rampung.

Al Jazeera melaporkan, selain MbS, Menteri Pertahanan Arab Saudi Khalid bin Salman juga turut membujuk AS melalui mitranya, Menhan AS Pete Hegseth. Khalid meminta AS melakukan serangan militer untuk membela Saudi dari gempuran Houthi.

Dari Perang Saudara & Kelaparan, Kemajuan Rwanda Melesat di Afrika
Namun, semua permintaan Saudi tersebut ditolak AS. Padahal Amerika Serikat adalah sekutu dekat Arab Saudi di Timur Tengah sejak lama.

Menurut sumber Al Jazeera, penolakan AS ini muncul karena posisi resmi pemerintahan Trump saat ini adalah fokus tertuju pada perang mereka sendiri dengan Iran.

Namun ada kabar yang beredar seperti disampaikan mantan wakil duta besar AS untuk Yaman, Nabeel Khoury, bahwa “ada semacam kesepahaman diam-diam” antara pemerintahan Trump dan Houthi.

Khoury menambahkan: “Houthi berjanji kepada pemerintahan Amerika bahwa navigasi Amerika dan internasional tidak akan terpengaruh di Laut Merah, tetapi satu-satunya bahaya adalah bagi kapal-kapal Saudi atau kapal-kapal yang membawa minyak Saudi,” katanya dikutip The Guardian.

China Makin Canggih, Bikin Tank Bisa Beroperasi 2 Jam di Bawah Air
Amerika Serikat memberi label Houthi sebagai entitas teroris asing pada Maret 2025, tetapi baru-baru ini para pejabat Amerika telah bertemu dengan para pemimpin dari Hamas, Hizbullah, dan Iran. Wakil Presiden AS, JD Vance, mengkonfirmasi bahwa AS telah melakukan kontak langsung dengan Houthi.

Penolakan AS untuk terlibat secara langsung telah memberi tekanan pada Arab Saudi untuk mencapai solusi diplomatik dengan Houthi mengenai pemerintahan Yaman di masa depan, atau untuk mencoba membangun aliansi regional dengan Pakistan dan Turki untuk memaksa Houthi mundur.

Tim Redaksi

Wirausaha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *