75 Tahun Kulon Progo, Merajut Asa Mustikaning Tanah Jawi

Yogyakarta,REDAKSI17.COM – Sebanyak 7.500 obor menerangi puncak peringatan Hari Jadi ke-75 Kabupaten Kulon Progo melalui Seni Kolosal Nyawiji Anjayeng Bawana, Kamis (15/10). Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X pada kesempatan tersebut menitipkan pesan tentang nilai pusaka, persatuan rakyat dan pemimpin, serta cita-cita menjadikan Kulon Progo sebagai Mustikaning Tanah Jawi.

Sri Sultan mengingatkan bahwa pusaka agung Kulon Progo bukan sekadar benda peninggalan budaya, melainkan mengandung nilai luhur yang dapat menjadi tuntunan kehidupan. Pusaka yang dimaksud adalah tombak Kangjeng Kyai Amiluhur dan Kyai Bantar Angin, yang menyimpan filosofi tentang hubungan rakyat dan pemimpin.

Kangjeng Kyai Amiluhur merupakan tombak pusaka buatan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII yang diserahkan kepada Kabupaten Kulon Progo pada peringatan Hari Jadi ke-49 tahun 2000. Pusaka tersebut disandingkan dengan Kyai Bantar Angin, pemberian Kanjeng Gusti Sri Paku Alam VIII, sebagai Pusaka Agung Kulon Progo.

Dalam kebudayaan Jawa, pusaka menyatukan nilai budaya dan spiritual. Sri Sultan menjelaskan bahwa pusaka mengemban watak sepuh, utuh, dan tangguh yang diharapkan melahirkan sikap asah, asih, dan asuh bagi seluruh masyarakat.

“Pusaka mengandung makna yang sangat dalam, sebab ia juga mengemban watak ‘sepuh, utuh, dan tangguh’, yang dapat melahirkan sikap ‘asah, asih, dan asuh’ bagi seluruh warga Kulon Progo,� tutur Sri Sultan.

Kedua pusaka tersebut melambangkan “Dwi Tunggal� Praja Kejawen dan “Manunggaling Kawula-Gusti�. Filosofi ini menggambarkan pentingnya keselarasan hubungan antara rakyat dan pemimpin dalam kehidupan bermasyarakat dan pembangunan daerah.

“Pada akhirnya, hal itu dapat mewujudkan ‘menyatunya rakyat dan pemimpin’ yang sejati di semua tataran dan di seluruh wilayah negeri,� tutur Sri Sultan.

Sri Sultan berharap, nilai-nilai luhur tersebut menjadi bekal untuk mewujudkan Kulon Progo sebagai Mustikaning Tanah Jawi. Cita-cita itu menggambarkan Bumi Adikarta yang gemah ripah loh jinawi, subur dan makmur, dengan masyarakat yang hidup dalam keselamatan, kedamaian, dan ketenteraman.

Semangat kebersamaan dalam peringatan tersebut juga diwujudkan melalui Seni Kolosal Nyawiji Anjayeng Bawana yang terinspirasi dari kisah Api di Bukit Menoreh. Pertunjukan ini melibatkan 750 penari, 75 sinden, dan 40 pelukis lintas usia, dengan Nyawiji bermakna satu jiwa dan satu rasa serta Anjayeng Bawana menggambarkan kontribusi Kulon Progo bagi Indonesia.

Bupati Kulon Progo Agung Setyawan mengatakan, penyalaan 7.500 obor menjadi simbol energi positif yang perlu dihidupkan kembali di tengah masyarakat. Api yang ditata dan dikendalikan menggambarkan semangat yang terarah agar masyarakat lebih fokus dalam membangun daerah.

“Api yang bisa kita tata dan kita kendalikan itu adalah spirit. Kalau api membakar diri, itu yang tidak bersemangat. Maknanya jelas, untuk membakar semangat agar kita semua lebih fokus,� kata Agung.

Humas Pemda DIY