Layanan Prolanis di Puskesmas Kendalikan Penyakit Hipertensi dan Diabetes
Umbulharjo,REDAKSI17.COM-Pemerintah Kota Yogyakarta terus mendorong peningkatan kualitas pelayanan Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) di seluruh puskesmas. Upaya ini dilakukan untuk memastikan masyarakat, khususnya penderita hipertensi dan diabetes melitus, mendapatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, mudah diakses, dan berkesinambungan.
Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, mengatakan penguatan pelayanan Prolanis menjadi salah satu langkah penting dalam menghadapi meningkatnya kasus penyakit tidak menular yang membutuhkan penanganan jangka panjang.
Menurutnya, penderita hipertensi dan diabetes melitus memerlukan pemantauan kesehatan secara teratur, kepatuhan terhadap pengobatan, perubahan perilaku hidup sehat, serta dukungan keluarga dan lingkungan.
Oleh karena itu, Prolanis tidak boleh hanya dipandang sebagai kegiatan pemeriksaan rutin atau pertemuan peserta semata. Program tersebut harus menjadi bagian penting dari transformasi pelayanan kesehatan primer yang berorientasi pada pencegahan komplikasi, pengendalian penyakit, peningkatan kualitas hidup, serta pengurangan kebutuhan rujukan yang sebenarnya dapat dicegah.
“Prolanis harus menjadi bagian penting dari transformasi pelayanan kesehatan primer yang mengutamakan pencegahan komplikasi, pengendalian penyakit, peningkatan kualitas hidup dan pengurangan kebutuhan rujukan yang sebenarnya dapat dicegah,� katanya saat membuka kegiatan Upaya Peningkatan Pelayanan Prolanis di Puskesmas Kota Yogyakarta yang digelar di ruang Bima, Rabu (14/10/2026).
Wawan mengungkapkan untuk mewujudkan pelayanan yang optimal, terdapat tiga aspek strategis yang menjadi perhatian, yakni pemenuhan tenaga kesehatan, kecukupan peralatan dan bahan habis pakai, serta peningkatan pendapatan dan penguatan tata kelola keuangan puskesmas sesuai ketentuan yang berlaku.
Pada aspek sumber daya manusia, puskesmas perlu memastikan ketersediaan tenaga kesehatan yang cukup dan kompeten, meliputi dokter, perawat, tenaga kefarmasian, tenaga gizi, tenaga laboratorium, serta tenaga kesehatan lainnya sesuai kebutuhan pelayanan.
Pihaknya pun meminta agar Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta bersama kepala puskesmas melakukan pemetaan kebutuhan tenaga berdasarkan jumlah peserta Prolanis, beban kerja, kompleksitas kasus, serta capaian pelayanan masing-masing puskesmas.
“Selain kecukupan jumlah tenaga, peningkatan kompetensi melalui pelatihan, pembinaan, evaluasi, dan penguatan kerja sama tim juga perlu dilakukan,” bebernya.
Dengan demikian, lanjutnya, peserta Prolanis dapat memperoleh pemeriksaan sesuai kebutuhan klinis, edukasi kesehatan yang efektif, pelayanan teratur, serta tindak lanjut yang jelas.
Untuk aspek kedua adalah memastikan ketersediaan peralatan medis dan bahan habis pakai untuk mendukung pemeriksaan serta pemantauan kesehatan peserta. Peralatan yang diperlukan antara lain alat pemeriksaan tekanan darah, alat pemeriksaan gula darah, alat antropometri, serta sarana pemeriksaan laboratorium sesuai kebutuhan.
“Sementara ketersediaan bahan habis pakai seperti strip pemeriksaan gula darah, lancet, reagen, alat pelindung diri, dan perlengkapan pemeriksaan lainnya juga harus dikelola melalui perencanaan yang baik,” jelasnya.
Adapun aspek ketiga berkaitan dengan penguatan pengelolaan keuangan dan optimalisasi pendapatan puskesmas. Upaya tersebut dilakukan melalui peningkatan produktivitas pelayanan, efisiensi biaya operasional, kepatuhan terhadap standar pelayanan, serta optimalisasi pendapatan yang sah sesuai peraturan perundang-undangan.
Sementara itu Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Kota Yogyakarta, Waryono, menjelaskan bahwa penguatan layanan Prolanis menjadi salah satu langkah penting untuk mendukung pengelolaan penyakit kronis secara berkelanjutan.
“Program ini terutama berkaitan dengan pengendalian diabetes melitus tipe 2 dan hipertensi yang membutuhkan pemantauan serta penanganan secara rutin,” jelasnya.
Melalui program ini, peserta diharapkan dapat memperoleh pelayanan yang berkesinambungan sehingga kondisi kesehatannya lebih terpantau dan kualitas hidupnya dapat dipertahankan secara optimal.
Kegiatan ini, lanjutnya, melibatkan sebanyak 120 peserta dari unsur terkait, termasuk Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, kepala Puskesmas, serta Tim Penggerak PKK dari 14 kemantren di Kota Yogyakarta.
“Keterlibatan berbagai unsur tersebut diharapkan dapat memperkuat koordinasi dan dukungan terhadap pelaksanaan program pengelolaan penyakit kronis di tingkat pelayanan kesehatan dasar,” bebernya.

