Redaksi17

Pemkot Yogya Dorong Inovasi Otentik dan Konkret Dirasakan Masyarakat

Pemkot Yogya Dorong Inovasi Otentik dan Konkret Dirasakan Masyarakat

GONDOKUSUMAN,REDAKSI17.COM – Pemerintah Kota Yogyakarta mendorong inovasi dan penelitian organisasi perangkat daerah yang otentik dan konkret dirasakan masyarakat. Penelitian dan pengembangan yang tidak sekadar pendukung birokrasi. Namun inovasi dan penelitian harus menjawab persoalan dan memberikan manfaat nyata kepada masyarakat. Begitu pula dengan kegiatan Festival Inovasi Jogja (FIJ) 2026 diharapkan tidak hanya berhenti di pameran maupun seminar.

Asisten Administrasi Umum Pemkot Yogyakarta Dedi Budiono mengatakan atas nama Pemkot Yogyakarta khususnya Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo memberikan apresiasi kepada Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Yogyakarta dan para pendukung atas penyelenggaraan FIJ 2026. Termasuk mengucapkan terima kasih kepada Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) yang memfasilitasi tempat untuk kegiatan FIJ 2026. Pihaknya juga sepakat dan mendukung harapan dan dorongan Bappeda Kota Yogyakarta mewujudkan inovasi yang otentik dan konkret dirasakan masyarakat.

“Jangan hanya berhenti di pameran, jangan hanya berhenti di seminar. Tapi bagaimana bisa menjadi landasan bertindak, cara kita bersikap menghadapi persoalan bersama. Tentu kita sangat ingin hadirnya kesejahteraan masyarakat bisa segera terwujud,� kata Dedi saat Forum Kelitbangan Bappeda/Bapperinda DIY sekaligus penutupan FIJ di UKDW, Kamis (15/10/2026).

Asisten Administrasi Umum Pemkot Yogyakarta Dedi Budiono saat memberikan sambutan dan menutup FIJ 2026.

Dia menyatakan indeks pembangunan manusia, angka kebahagiaan dan lama hidup di DIY tinggi. Tetapi ada anomali terkait kemiskinan dan dan gini rasio yang masih tinggi. Oleh sebab itu, pihaknya berharap Forum Kelitbangan Bappeda/Bapperinda bisa mengungkap anomali-anomali dan fakta yang sebenarnya. Penelitian, pengembangan, inovasi-inovasi diharapkan sejalan dengan pengarusutamaan kebijakan, strategi pembangunan yang menjadi prioritas di masing-masing daerah.

“Ini saya kira tantangan yang harus kita hadapi bersama sebagai pelayan publik, bagaimana mampu menghadirkan harapan-harapan dari masyarakat. Apalagi sekarang manajemen pemerintahan itu berubah menuju ke new public management. Dulu kalau program itu yang penting banyak programnya, sekarang itu program apa dampaknya, hasilnya dan perubahan yang langsung dirasakan masyarakat,� tambahnya.

Pihaknya menegaskan Pemkot Yogyakarta di bawah kepemimpinan Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menekankan 4 pengarusutamaan kebijakan yang harus dikawal yakni propoor, projob, progrowth dan proenvironment. Propoor program pemberantasan kemiskinan da projob program yang mampu memberikan lapangan pekerjaan. Sedangkan progrowth program terkait pertumbuhan ekonomi dan proenvironment pro terhadap lingkungan.

Rektor UKDW Dr.-Ing. Wiyatiningsih menyerahkan katalog inovasi FIJ 2026 kepada Asisten Administrasi Umum Pemkot Yogyakarta Dedi Budiono.

“Jadi harapannya nanti teman-teman di perguruan tinggi melalui penelitian, pengembangan, serta inovasi-inovasi yang dihasilkan arahnya bagaimana kita bisa mengatasi seperti kemiskinan,� papar Dedi.

Sementara itu Kepala Bappeda Kota Yogyakarta Agus Tri Haryono menyampaikan, Forum Kelitbangan Bappeda/Bapperinda DIY, mempertemukan para perencana, peneliti, penggerak inovasi pembangunan di DIY. Agus menilai kelitbang-an merupakan fondasi kecerdasan kebijakan yang memastikan bahwa setiap keputusan dan kebijakan pembangunan disusun berdasarkan data, riset dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan

“Kami berharap forum ini tidak berhenti sebagai ruang berbagi informasi. Tetapi menjadi ruang untuk mempertemukan gagasan, menyatukan perspektif, dan bagaimana merumuskan langkah nyata bagi pembangunan daerah yang lebih maju, inklusif, dan berkelanjutan,� tutur Agus.

Kepala Bappeda Kota Yogyakarta Agus Tri Haryono menyampaikan laporan kegiatan Forum Kelitbangan DIY dan FIJ 2026.

Dia menyebut ukuran keberhasilan kelitbang-an bukanlah banyaknya dokumen- kajian yang dihasilkan. Melainkan sejauh mana hasil kajian mampu memperbaiki kualitas kebijakan, mempertajam prioritas program dan anggaran, serta menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat. Untuk itu riset harus menjadi dasar pengambilan keputusan, inovasi harus menjawab persoalan, dan setiap rekomendasi harus memiliki jalan yang jelas menuju implementasi.

“Kita boleh berbeda wilayah, berbeda gagasan, dan berbeda tantangan.Tetapi tujuan kita tetap satu, menjadikan inovasi yang benar-benar dirasakan oleh masyarakat. Jangan sampai inovasinya juara, tetapi manfaatnya belum terbaca. Mari kita wujudkan inovasi yang otentik dalam gagasan, konkret dalam tindakan, dan nyata dalam kesejahteraan,� pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *