Beranda / Hikayat Seni dan Budaya / Setia Hati: Pencak dan Jalan Batin

Setia Hati: Pencak dan Jalan Batin

 

Ada suatu masa dalam sejarah manusia ketika pencarian kebenaran tidak mengenal batas sekat agama, bangsa, atau aliran. Orang-orang yang gelisah oleh jawaban-jawaban dangkal menempuh perjalanan panjang, melintasi batas-batas budaya, menziarahi banyak guru, demi menemukan inti pengetahuan yang hakiki. Ki Ngabehi Surodiwiryo, pendiri Setia Hati (SH), adalah salah satu dari para pengelana itu. Dalam dirinya, ilmu silat dan kebatinan bukanlah dua jalan terpisah, melainkan satu nafas: “olah raga untuk mengolah rasa, olah rasa untuk mengolah jiwa”.

Ki Ngabehi Surodiwiryo memang seorang pencari ilmu silat dan ilmu batin yang begitu luar biasa. Sehingga ia sampai melanglang buana di berbagai penjuru Nusantara, mulai dari Jawa Timur, Jawa Barat, Batavia, Bengkulu, hingga sampai “putus kaji” (wisuda) dalam pelajaran ilmu lahir (Pencak Silat) di Sumatera Barat dan putus kaji ilmu batin (Tarekat) di Aceh. Dan yang menarik dalam sejarah pengembaraan ilmu di Sumatra Barat, ia juga berguru ilmu batin pada I Gusti Nyoman Ida Gempol, seseorang yang berlatar belakang kebatinan Hindu dan berasal dari Pulau Dewata, Bali. Kisahnya pada waktu itu, Ki Ngabehi Surodiwiryo muda jatuh cinta pada seorang gadis yang merupakan putri ahli ilmu kebatinan Tasawuf di Minangkabau. Dan sang gadis itu pun rupa-rupanya juga seseorang yang menekuni ilmu Tasawuf, bahkan mempunyai ilmu Tasawuf yang tinggi.

Oleh karenanya sang gadis baru akan mau menerima sepenuh hati Surodiwiryo muda manakala bisa menjawab pertanyaan kebatinan tingkat tinggi tentang “Siapa diriku?” Surodiwiryo muda pada saat itu “kelabakan”, ternyata ilmu-ilmu keagamaan yang telah diperolehnya dari para guru di pondok pesantren di pulau Jawa belum cukup memadai untuk menjawab pertanyaan yang begitu mendasar tetapi sangat mendalam itu. Pertanyaan itu kemudian membuat Surodiwiryo muda pada akhirnya terpantik untuk melakukan sebuah “pencarian”.

Lalu ia kesana kemari mencari seorang guru yang ahli dalam ilmu batin, sampai akhirnya ia berjumpa dengan I Gusti Nyoman Ida Gempol atau yang mempunyai gelar abhiseka “Raja Kenanga Mangga Tengah”, seorang Mpu Pande dari Banjar Jawa, Buleleng Bali yang diasingkan penjajah Belanda ke Sumatra Barat karena pada tahun 1858 memimpin perlawanan mengangkat senjata terhadap pemerintah kolonial Belanda. Dan ia berhadapan langsung dengan armada angkatan laut di bawah komando Letnan Kolonel Laut Van Hasselt, tak tanggung-tanggung pasukan berjumlah satu batalyon yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Steyn Van Heemskerk dan tak kurang dari delapan kapal perang diturunkan hanya untuk memadamkan perlawanan anti Belanda yang dikobarkan oleh I Gusti Nyoman Ida Gempol.

Di tanah pengasingan Sumatra Barat itu, kemudian I Gusti Nyoman Ida Gempol menerima permintaan berguru dari Surodiwiryo muda, terutama karena sama-sama memiliki leluhur dari Trah Majapahit. Jika leluhurnya Surodiwiryo dari Prabu Brawijaya V. Leluhurnya I Gusti Nyoman Gempol berasal dari keturunan keluarga Mpu Pande di kerajaan Majapahit. Kata ”Ida” dalam namanya itu menunjukkan pejabat tinggi dalam “pahom narendra Majapahit” yang berkedudukan sebagai Dewan Penasihat Kerajaan. Dan di Buleleng Tengah, ia berkedudukan sebagai Punggawa yang memang meneruskan perlawanan terhadap Belanda setelah Buleleng jatuh pada tahun 1849.

Selama 7 hari dan 7 malam Surodiwiryo muda “diwejang” ilmu kebatinan tingkat tinggi yang berkaitan dengan ilmu mengenal diri dan ketuhanan. Dan referensi pelajaran kebatinan Hindu dari I Gusti Nyoman Ida Gempol ini ternyata secara prinsip bertemu dan tidak bertentangan dengan pelajaran Tauhid dalam kebatinan Tasawuf Islam. Hasil akhirnya sama, hanya beda soal cara atau metode. Meskipun begitu Surodiwiryo tetap beragama Islam dan tidak berganti ageman (baju) Hindu. Sebab Surodiwiryo tentu menyadari jika “Tuhannya dirinya” dan “Tuhannya I Gusti Nyoman Ida Gempol” tentunya adalah satu dan sama.

Bahkan Surodiwiryo yang beragama Islam itu bisa tahu dan kenal dengan Tuhannya justru dari ajaran kebatinan Hindu I Gusti Nyoman Ida Gempol, meskipun selain daripada itu juga mendapatkan pelajaran ketuhanan yang sama yang berbasis Islam dari gurunya yang lain seperti Datuk Rajo Batuah dan Teungku Cik Bedaya, maupun dengan pelajaran kebatinan Jawa (Kejawen) yang kelak diperoleh dari pamannya, K.A.A. Serang Soeronegoro (Bupati Kediri yang meninggal tahun 1916). Berkat ilmu kebatinan dari I Gusti Nyoman Ida Gempol itulah akhirnya Surodiwiryo muda bisa menjawab semua pertanyaan-pertanyaan kebatinan dari gadis pujaan hatinya itu. Kebatinan Tasawuf Islam terjawab tuntas dalam kebatinan Hindu I Gusti Nyoman Ida Gempol. Dari I Gusti Nyoman Ida Gempol pula, ia mendapat falsafah TAT TWAM ASI (Ia adalah Aku). Maka kemudian
Surodiwiryo muda pun akhirnya bisa bersama secara lahir dan batin dengan gadis Minang pujaan hatinya itu yang juga merupakan seorang salik (pejalan batin).

Dari pengembaraan ilmu Ki Ngabehi Surodiwiryo itu yang membentang mulai dari pesantren Jombang hingga Sumatra Barat, Pasundan, dan Aceh, mempelajari pencak silat berbagai aliran, juga kung-fu, Tasawuf, hingga spiritualitas Hindu Bali dan Kebatinan Jawa. Bersentuhan dengan Tarekat Syattariyah, berguru pada Datuk Rajo Batuah, lalu Teungku Cik Bedaya, pun menambah khazanah keilmuan spiritual pada I Gusti Nyoman Ida Gempol dan kemudian pada K.A.A. Serang Soeronegoro. Dari lintasan pengetahuan yang panjang merentang itulah lahir sebuah sistem keilmuan kosmopolit dan eklektik bernama “Persaudaraan Setia Hati”.

Tak heran Setia Hati yang didirikan pada awal abad ke-20 (tahun 1903) yang sezaman dengan berdirinya cabang perkumpulan spiritual Teosofi di bumi Nusantara itu, juga sama seperti halnya perkumpulan Teosofi, yakni langsung menarik minat kaum bangsawan, intelektual, dan tokoh pergerakan nasional. Tercatat nama-nama besar seperti K.R.M.T. Wongsonegoro, yang merupakan tokoh nasional aliran kebatinan (Penghayat Kepercayaan), ketua IPSI yang pertama, Gubernur Jawa Tengah ke-2, dan Mendikbud ke-8 adalah murid Ki Ngabehi Surodiwiryo, begitupula pendiri BNI, Margono Djojohadikusumo (kakeknya Prabowo Subianto) juga muridnya Ki Ngabehi Surodiwiryo, begitu juga dengan nama-nama seperti R.M.T. Ario Soerjo (Gubernur Jawa Timur yang pertama) dan R.M. Muhammad Subuh Sumohadiwidjojo (sebelum kemudian mendapat “wahyu oncat” dan mendirikan PPK SUBUD) adalah juga para saudara SH atau murid Ki Ngabehi Surodiwiryo. Bahkan selepas Ki Ngabehi Surodiwiryo meninggal, tercatat pula Paku Alam VIII tertarik masuk dan dikecer menjadi saudara SH. Jadi sudah jelas, bahwa SH bukanlah perguruan silat yang didirikan oleh seorang preman atau tukang pukul jalanan, melainkan oleh seorang yang sangat intelek dan sekaligus spiritual seperti Ki Ngabehi Surodiwiryo.

Dan juga jelas bahwa keilmuan SH yang diajarkan oleh Ki Ngabehi Surodiwiryo tidak semata hanya sebagai pegangan fisik (beladiri pencak silat), tetapi juga sebagai pembelajaran dan tuntunan ilmu spiritual (seperti halnya yang ada di dalam perkumpulan Teosofi). Mungkin itulah sebabnya sejak dari dulu hingga sampai saat ini begitu banyak insan pecinta silat yang sangat mengagumi Ki Ngabehi Surodiwiryo. Ia bukan hanya seorang pendekar pilih tanding di masanya, melainkan juga sekaligus seorang pejalan batin dan pembabar ilmu batin yang mumpuni. Walau sebenarnya ia berdarah Warok Ponorogo dari Trah Bathara Katong, tetapi postur tubuhnya sangat kecil dan ringkih (jauh dari kesan gagah). Meski demikian, tercatat pada masa mudanya, Ki Ngabehi Surodiwiryo terbukti pernah mengalahkan seorang matroos (angkatan laut) Belanda berpostur tinggi besar dalam suatu pertarungan di pinggiran Kalimas, Surabaya. Bahkan matroos Belanda itu sampai dibuat babak belur dan dilemparkan ke sungai Kalimas. Dan pada kisahnya yang lain, Ki Ngabehi Surodiwiryo juga pernah melempar dengan “ilmu batin” seorang R.M. Apuk Suryawinata, pendekar keturunan kesultanan Banten yang berperawakan tinggi besar, yang mana dia selalu penasaran ingin mengadu ilmu silat dengan Ki Ngabehi Surodiwiryo. Tetapi setelah kalah dalam dua kali pertarungan, pada akhirnya R.M. Apuk Suryawinata dengan kesatria mengakui ketinggian ilmu lahir dan ilmu batin dari Ki Ngabehi Surodiwiryo, dan bahkan memintanya untuk diterima sebagai murid.

Bagi saya, nama Ki Ngabehi Surodiwiryo itu memang legenda. Ia orang yang besar. Pengaruhnya diperebutkan. Daya rajutnya diperselisihkan. Masing-masing kelompok muridnya yang mendaku bersanad “Trah SH” seolah seperti memilikinya secara khusus dan bahkan berhak atas diri, hidup, dan ajaran-ajaran yang telah dibabarkannya. Oleh karenanya tidak heran, jika banyak simpang siur berbagai versi tentang kisah hidupnya, bahkan tidak sedikit yang diselimuti oleh mitos berlebihan yang cenderung hoaks atau di sisi lain fitnah-fitnah terselubung yang menuduhnya antek kolonial karena tidak setuju dengan gerakan perlawanan nasional yang radikal dan gegabah. Tetapi terlepas dari semua itu. Menurut saya Ki Ngabehi Surodiwiryo memang dapat disejajarkan dengan para mursyid Tarekat ataupun dengan para guru panuntun aliran Kebatinan. Sebab selain mengajarkan silat, ia juga memberi pelajaran “ngelmu kasampurnan” dan wirid-wirid batin. Ki Ngabehi Surodiwiryo adalah perpaduan sempurna bagi role model seorang pendekar dan sekaligus pejalan spiritual.

Menariknya dari ketokohan Ki Ngabehi Surodiwiryo itu, di antara sekian banyak perguruan yang dulu (para guru pendirinya) pernah menyesap keilmuan di tempat Ki Ngabehi Surodiwiryo (Ndalem Panti jln Gajah Mada, Winongo Madiun) setidaknya bisa dibagi menjadi 3 jalur “trah keilmuan” dalam pewarisan ilmu Surodiwiryo:

Pertama, jalur trah “SH Merah” (politik dan silat perlawanan), yakni yang bersanad dari murid-murid Ki Ngabehi Surodiwiryo yang menjadi aktivis pergerakan kiri radikal dan yang bahkan beberapa di antaranya sampai ikut diasingkan pemerintah kolonial Belanda ke Digul, Papua. Jalur ini, yang lebih berkembang adalah aspek politik, keras, dan punya muatan ideologis tertentu. Mereka mewarisi spirit kependekaran Ki Ngabehi Surodiwiryo semata dan memahami Ki Ngabehi Surodiwiryo hanya sebatas seorang pendekar atau jawara silat belaka. Oleh karenanya mereka mewarisi keilmuan silat SH, tetapi tidak dengan pelajaran spiritual SH. Mereka tidak mengajarkan keilmuan batin Ki Ngabehi Surodiwiryo karena di kala itu melatih silat lebih untuk tujuan pragmatis, yaitu dalam rangka kepentingan melawan penjajah, jadi silat SH hanya dijadikan sebagai media perjuangan revolusioner, tapi sisi pelajaran spiritualnya ditinggal.

Yang kedua, jalur trah “SH Kebatinan” (spiritual murni), yaitu yang lebih condong pada laku spiritual dan pencarian batin, dekat dengan tradisi Kejawen dan penghayatan mistik. Mereka hanya mewarisi spirit laku batin atau aspek spiritualitas dari Ki Ngabehi Surodiwiryo semata dan mereka memahami Ki Ngabehi Surodiwiryo juga hanya dari sisi keilmuan batin belaka. Jalur ini adalah jalur dari R.M. Muhammad Subuh Sumohadiwidjojo/PPK SUBUD, mereka hanya mewarisi tuntunan ilmu batin Ki Ngabehi Surodiwiryo, tetapi sama sekali tidak memberi pelajaran pencak silat SH. Pendiri PPK SUBUD, R.M. Muhammad Subuh Sumohadiwidjojo ini bahkan menjadi guru spiritual kelas dunia dan ajarannya sudah menjangkau 87 negara. Seorang guru spiritual ternama seperti Osho (Rajneesh) juga pernah belajar ke R.M. Muhammad Subuh Sumohadiwidjojo. Menurut seorang murid Pak Subuh; “hanya di negara komunis saja PPK SUBUD tidak ada.”

Dan yang ketiga, jalur trah “SH Surodiwiryan” (pencak dan jalan batin), yaitu pewaris dan pelestari ajaran Ki Ngabehi Surodiwiryo yang menyatukan pencak sebagai wadah lahir dan kebatinan sebagai ruh batin. Jalur trah SH Surodiwiryan ini mewarisi ajaran Ki Ngabehi Surodiwiryo secara utuh, yaitu silat SH dan spiritualitas SH. Salah satu yang termasuk bersanad dalam jalur trah SH Surodiwiryan ini, adalah PSHW TM yang muncul di tahun 1965 oleh Bapak R. Djimat Hendro Soewarno yang dengan Ki Ngabehi Surodiwiryo masih satu trah keluarga dari garis Bathara Katong dan Brawijaya Majapahit.

Jadi meski tidak sama persis, jika dirunut antara PSHW TM (Persaudaraan Setia Hati Winongo Tunas Muda) dengan PPK SUBUD (Perkumpulan Persaudaraan Kejiwaan Susila Budhi Dharma) itu ada satu garis persaudaraan dan leluhur keilmuan yang sama, terutama dalam ranah spiritual. Oleh karena itu saya sangat bersyukur dipertemukan dengan ajaran Ki Ngabehi Surodiwiryo yang edi peni adi luhung itu melalui jalur PSHW TM. Di masyarakat, perguruan kami ini kerap disebut dengan nama STK (Sedulur Tunggal Kecer) dibandingkan dengan nama SH (Setia Hati) sendiri, tapi sebenarnya ya apalah arti sebuah nama/sebutan, yang lebih penting adalah bagaimana kami berusaha bisa mengugemi ajaran Setia Hati yang sangat pokok/mendasar seperti misalnya tidak mendahului salah, tidak jubrio (congkak), dan tidak dahwen (dengki hati). Karena SH (yang pada awalnya bernama STK) itu sudah sejak mula-mula didirikan oleh Ki Ngabehi Surodiwiryo memang lebih sebagai sistematika olah kebatinan (spiritual non klenik). Dan olah pencak silat yang ada di dalamnya itu hanya merupakan bagian pelajaran kecil yang menjadi kurikulum SH di tingkatan paling awal.

Jadi sebagai sistematika olah kebatinan, tentu saja ajaran SH yang ditularkan oleh Ki Ngabehi Surodiwiryo itu berupaya untuk menuntun para saudara SH agar menempuh sebuah “laku” atau perjalanan batin, dan untuk memulainya, saudara SH itu harus melalui tahapan Input (kecer/penerimaan ke-SH-an), Proses (latihan serta laku batin), dan lalu Output (pengamalan di dalam kehidupan). Di PSHW TM, meskipun khazanah keilmuannya memiliki sebuah “ciri kekhususan” dan sangat berbeda dengan trah SH yang lain, karena ajaran SH yang sudah dirangkai dari sejarah panjang pengembaraan ilmu Ki Ngabehi Surodiwiryo di bumi Nusantara, akhirnya masih diramu dan dirangkai lagi dengan riwayat pengembaraan ilmu oleh Bapak R. Djimat Hendro Soewarno dari “sembilan guru” sebelum masuk SH, yaitu dari Pendekar Rantai Bergelung, Pendekar Pencak Anak Sumatra Sekilat (PASS), Pendekar Cimande, Pendekar Kuntho, Pendekar Pecut Jakarta, Pendekar Shianghai, Pendekar Bugis Asli, Pendekar Pondok Pesantren, dan Pendekar Singapura atau KH. Ahmad Dahlan Safari. Akan tetapi meski demikian, ilmu SH dari Ki Ngabehi Surodiwiryo tetap menjadi pancer (kiblat utama) dan ajaran pokok di dalam PSHW TM. Oleh karena itu sistematika pendidikan di PSHW TM juga masih hampir sama dengan ajaran SH awal oleh Ki Ngabehi Surodiwiryo sendiri, yaitu sebelum diberikan materi ketangkasan pencak silat lahiriah, kami dikecer dulu dengan diberikan bekal-bekal ilmu kerohanian SH (yang universal dan bisa diterima lintas agama).

SH tidak menganut sistem pemberian materi pencak silat terlebih dahulu baru kemudian ajaran kerohanian diberikan belakangan seperti perguruan silat pada umumnya. Karena ajaran SH berpandangan bahwa yang lebih utama dalam mendidik manusia adalah menata batinnya (spiritual dan budi pekerti) lebih dahulu baru kemudian menata lahiriahnya (kekuatan fisik dan kepandaian bersilat). Inilah yang bisa mencegah SH menjadi sekadar gerombolan pesilat tanpa moral, karena sejak awal masuk menjadi anggota sudah dibekali dulu dengan pelajaran-pelajaran olah kerohanian dan tidak lupa diikat pula dengan sumpah-sumpah atau paugeran-paugeran mengenai budi pekerti dan moralitas, jauh sebelum kami diajari bagaimana ilmu bertarung yang cerdas dan efektif khas “Joyo Gendilo Cipto Mulyo” atau pencak silat Setia Hati.

Mungkin memang banyak yang telah mendirikan perguruan silat sebelum atau sesudah masa hidup beliau Ki Ngabehi Surodiwiryo, akan tetapi sependek yang saya ketahui sangat langka dijumpai sebuah perguruan yang konsepnya seperti yang pernah ia cetuskan itu, di mana memadukan seni beladiri silat dengan sistem ngelmu kasepuhan atau spiritualitas. Sementara yang banyak dan populer itu adalah jenis perguruan yang hanya memadukan ilmu silat dengan ilmu supranatural (kesaktian) belaka, atau ada juga yang mengajarkan ilmu pencak silat semata, bahkan ada pula yang hanya mengajarkan ilmu supranatural.

Oleh karena itu sangat penting bagi saudara SH untuk memahami terlebih dahulu bahwa antara Spiritual (Ngelmu Kasepuhan) yang dianut SH itu dengan Supranatural (Kesaktian) adalah dua hal yang sangat berbeda, meski keduanya juga bisa saling terkait. Spiritual/Kasepuhan adalah ajaran batin yang memiliki tujuan untuk meraih kesejatian diri dan puncak kesempurnaan hidup sebagai manusia. Jalan yang ditempuh adalah dengan meniti ke dalam diri, masuk ke dalam diri, mengolah batin kita sendiri. Senentara itu Kesaktian/Supranatural adalah mempelajari ilmu Klenik, Gaib, Magic, Sihir, dan sebagainya. Pelet, Santet, Pelarisan, Pesugihan, Tenaga Dalam, Kekebalan, adalah contoh kategori ilmu Kesaktian/Supranatural. Mereka yang belajar ilmu Kasepuhan/Spiritual, memang bisa memiliki bonus berupa kemampuan kesaktian sebagai efek samping. Akan tetapi bagi mereka yang hanya belajar ilmu Kesaktian/Supranatural, pada umumnya tidak akan memahami pencarian jati diri, tidak akan memahami jalan kesempurnaan diri, sebagaimana yang dipahami oleh para penempuh jalan Kasepuhan/Spiritual.

Nah mengenai ilmu Setia Hati yang digagas oleh Ki Ngabehi Surodiwiryo, memang secara ontologis lebih condong pada ajaran Ngelmu Kasepuhan daripada ilmu kanuragan supranatural/perdukunan. Dalam epistemologi Ngelmu Kejawen sendiri, beragam jenis Ngelmu Kasekten itu masih termasuk dalam klasifikasi Ngelmu Kanoman, ia hanya cocok untuk dipelajari kawula muda dalam jangka waktu usia tertentu. Bagi para sepuh atau anak muda yang jiwanya sudah matang dan meneb, tentu sungguh konyol dan kekanak-kanakan jika terus mempelajari ilmu kanuragan sampai tua bahkan sampai akhir hayat, dan tidak beranjak mencari ilmu yang lebih tinggi, ilmu spiritual yang lebih esensial dalam menapaki kehidupan sehari-hari. Karena toh sehebat apapun kanuragan yang orang-orang banggakan itu pada akhirnya si pemiliknya juga tidak akan kebal dari yang namanya kematian.

Ya saya secara pribadi mengakui, memang munafik juga jika saya sebagai anak muda tidak pernah tertarik pada ilmu mistik dan kanuragan semacam tenaga dalam, ilmu katosan badan, pengasihan, kewibawaan, mata batin, kekebalan, dan semacamnya itu. Saya pun juga mendalami ilmu tenaga dalam “gemblengan” dari para kyai NU dan ilmu tenaga dalam “kontak” dari perguruan IKSPI Kera Sakti yang bersilsilah ilmu Al Hikmah warisan Abah Syaki Cisoka Banten yang di mana merupahan gabungan silsilah dari Ilmu Abah Toha (perguruan Sinlamba) dan Abah Amilin (perguruan Abdul Jabbar) yang konon ia merupakan guru supranatural dari Bung Karno sewaktu kuliah di Bandung.

Dan dari situ saya mengerti, jika ilmu supranatural kanuragan adakalanya bisa menjadi bantuan alternatif dalam beberapa hal (ajian perlindungan, pengobatan, penembusan metafisika), juga bisa sebagai media pembuktian akan keberaadaan “daya suksma” (badan halus) manusia sebagaimana yang disangsikan oleh kalangan Ateis. Serta ilmu supranatural kanuragan juga secara kebudayaan menjadi khazanah kekayaan ilmu mistik di bumi Nusantara di satu sisi dan di sisi lain juga ciri khas keilmuan ulama Aswaja di bumi Nusantara yang dalam penelitian Profesor MC Ricklefs mengalami “sintesis mistik” antara keilmuan mistik Tasawuf Islam dengan keilmuan-keilmuan mistik sisa-sisa peradaban Hindu-Buddha dan keilmuan-keilmuan mistik yang asli dari peradaban Nusantara. Meski demikian dalam paradigma ajaran SH (sebagaimana juga dalam paradigma Kejawen) Ngelmu Kanuragan itu bukan segala-galanya. Mangkunegara IV dalam Serat Wedhatama (Pangkur 1 : 9) pernah secara tegas memperingatkan:

“Kekerane ngelmu karang / Kakarangan saking bangsaning gaib / Iku boreh paminipun / Tan rumasuk ing jasad / Amung aneng sajabaning daging kulup / Yen kapengkok pancabaya / Ubayane mbalenjani”

“Mengandalkan ilmu Karang (Ilmu Kesaktian), Segala ilmu yang berasal dari kegaiban, Sungguh itu hanya sebatas boreh (bahan untuk luluran tubuh) seumpama, Tiada meresap dalam jasad, Hanya melindungi di luar kulit tubuh, Jikalau suatu saat terhadang marabahaya, Kebanyakan tidak ada daya khasiatnya.”

Jadi ilmu supranatural atau ajian kanuragan itu memang tidak semestinya selalu diandalkan. Kadang ia bisa ampuh bagi satu orang namun bisa jebol bagi orang lain. Bahkan kebanyakan ilmu supranatural aji-ajian itu hanya bisa aktif ketika lawan dikuasai oleh nafsu amarah. Seperti dulu ketika saya belajar ilmu kontak (inner power) di IKSPI Kera Sakti juga diberi pengertian; bahwasanya orang yang bertarung dalam kondisi batin penuh emosi akan mudah dihantam oleh ilmu kontak atau ilmu tenaga dalam sejenis, sementara itu mereka yang bertarung tanpa distraksi emosi amarah, maka akan cenderung lebih kebal dari segala macam serangan ilmu kontak dan aji-ajian. Oleh karena itu menurut Mangkunegara IV, ilmu yang berdasarkan hal-hal supranatural tersebut bukanlah intisari dari ilmu yang sejati. Ibarat pengetahuan hanya pada kulit terluar saja, belum masuk ke hakekat.

Dan tentang paradigma ilmu SH yang lebih condong ke ilmu kasepuhan daripada ilmu supranatural itu, maka tidak salah jika ada yang mengatakan bahwa SH sesungguhnya adalah lembaga pendidikan “spiritual” yang dikemas dengan wadah seni bela diri pencak silat. Mungkin bisa dipersamakan sebagaimana Sunan Kalijaga yang mengajarkan kerohanian Tasawuf dengan kemasan seni wayang dan syair-syair tembang Jawa, atau dengan pujangga Jawa Ronggowarsito dan pujangga Persia Jalaluddin Rumi yang mengajarkan kerohanian Tasawuf dalam kemasan sastra dan puisi-puisi mistik, atau juga sama halnya dengan Bhikshu Bodhidharma yang mengajarkan kebatinan Zen Buddhisme dengan kemasan seni beladiri kung-funya di daratan China.

SH yang dikonsep oleh Ki Ngabehi Surodiwiryo itu sejatinya memang persis sama dengan yang dikonsep oleh maestro pendiri kung-fu Bodhidharma (Dharma Taishi) yang juga mengajarkan olah kerohanian/spiritualitas dengan kemasan seni beladiri. Ki Ngabehi Surodiwiryo sendiri, jauh sebelum mendirikan SH sudah terbukti sebagai pribadi yang gigih dalam mempelajari ilmu silat dan ilmu batin. Melihat riwayat historis pencarian keilmuan dari Ki Ngabehi Surodiwiryo yang kosmopolit lintas aliran silat dan spiritual itu, maka kiranya bisa dimengerti jika sesungguhnya SH itu adalah perguruan yang cakupan khazanah keilmuannya sangat luas, sumber keilmuannya dihimpun dari berbagai lintas suku bahkan juga lintas agama. Oleh karenanya sudah sangat jelas, jika orientasi/sasaran perguruan SH itu kental dengan ajaran kebatinan yang sangat mendalam.

Dari sini seharusnya dapat diambil kesimpulan, bahwa sehebat dan sekeramat apapun jurus pencak silat SH sesungguhnya hanyalah “media” mengajarkan ilmu kebatinan dengan bingkai seni beladiri dan simbol-simbol jurus pencak silat. Dan saya pikir, semua itu bisa jadi dengan maksud agar lebih menarik bagi jiwa-jiwa kanoman (muda), dan agar tidak terasa ajaran kasepuhan (tua) tersebut diajarkan. Tetapi meskipun demikian, olah lahiriah pencak silat dalam SH pun juga semestinya harus dipelajari dan dilatih dengan sungguh-sungguh. Karena bagaimanapun SH menganut prinsip “Gerak Lahir Luluh Oleh Gerak Batin, Gerak Batin Tercermin Oleh Gerak Lahir” dan juga mewarisi falsafah dari Minangkabau yang berbunyi “Lahir Silat Mencari Kawan, Batin Silat Mencari Tuhan”. Juga sama seperti dalam ilustrasi lambang SH, yang antara huruf “S” dan “H” yang “manunggal” saling berkaitan, begitupun ilmu lahir dan ilmu batin di dalam SH juga harus manunggal saling berkaitan.

Maka ketika melihat mirisnya nama SH yang kini semakin sering tercoreng oleh oknum-oknum yang mencatut identitasnya, mempopulerkan atribut tapi melupakan ajaran luhur yang diajarkan, saya jadi bisa memahami kenapa Ki Ngabehi Surodiwiryo dulu sangat selektif dalam menerima murid (bahkan sempat ada ujaran yang mengatakan bahwa ilmu SH itu hanya boleh dikuasai oleh raja atau para darah biru), tentu saja itu bukan karena faktor sok eksklusif, melainkan orang yang gemar tirakat seperti Ki Ngabehi Surodiwiryo tentu saja waskita dan bisa membaca tanda-tanda zaman ke depan (weruh sakdurunge winarah), bahwa kelak nama SH akan dicatut dan populer, tapi mereka lupa mencatut garis keilmuan dan sistematika ajarannya, lalu malah dengan itu nama SH dijadikan sarana penimbul kezaliman dan kejahiliyahan di tengah masyarakat. Seakan Ki Ngabehi Surodiwiryo ingin menegaskan bahwa dirinya dan komunitas SH-nya yang kecil secara kuantitas itu sama sekali tidak terkait dengan para pencatut yang membludak keanggotaannya secara kuantitas.

Padahal epistemologi SH sendiri adalah sebuah titik temu presisi antara pencak dan jalan batin. Dan tujuan akhirnya adalah mengenali diri dan Sang Sangkan Paraning Dumadi atau Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu, seorang insan SH atau SH-Yer tak semestinya berhenti hanya menjadi seorang “pesilat semata”, yang hanya mengandalkan pelajaran silat sebagai bekal hidup dan kehidupan. Akan tetapi ajaran SH juga menuntut kita untuk menjadi “pejalan spiritual” sepanjang hayat. Karena jika SH tanpa dimensi batin, maka ia hanya akan menjadi sama seperti olahraga beladiri impor yang sekuler, murni mengolah fisik, entertain, komersil, atau bahkan alat untuk membunuh.

Selamanya saya pribadi berterima kasih pada Persaudaraan Setia Hati Winongo Tunas Muda, tempat saya memulai “perjalanan kasatrian” sekaligus “perjalanan spiritual”. Dari sinilah saya memahami bahwa Setia Hati bukan sekadar olah kridha pencak silat, tetapi sandi-sandi pengetahuan sejati untuk mengenali diri. Ilmu kebatinan SH bukanlah ilmu yang klenik mistis, namun ilmu SH adalah ilmu kasunyatan menyelami kesejatian diri.

Maka saya boleh “dolan” sejauh apa pun dalam menambah perbekalan dan perbendaharaan ilmu-ilmu yang lain, seperti misalnya mempelajari Al Hikmah, Kejawen, Tasawuf, mengkaji Hinduisme, membaca Rumi, berdialog dengan filsafat Barat, atau bahkan menelusuri ajaran Zen Buddhisme. Namun saya akan selalu tetap kembali ke “rumah persaudaraan” (PSHW TM) ini, yang merupakan pijakan awal saya dalam belajar “mengenali diri”.

Salam Setia Hati
Eling Kuat Slamet

#1903

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *