Beranda / Nasional Dan Internasional / Sri Paduka: Jejak Masa Lalu Penting untuk Memahami Peradaban

Sri Paduka: Jejak Masa Lalu Penting untuk Memahami Peradaban

Yogyakarta,REDAKSI17.COM— Arkeologi mengajarkan bahwa masa lalu bukanlah ruang sunyi yang ditinggalkan waktu. Setiap artefak, lapisan tanah, dan jejak kehidupan merupakan kesaksian tentang daya cipta, pergulatan, serta kemampuan manusia menghadapi perubahan.

Pesan tersebut disampaikan Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X saat membacakan sambutan Gubernur DIY pada seremoni pembukaan The 23rd Congress of the Indo-Pacific Prehistory Association (IPPA) di Grha Sabha Pramana, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Senin (02/11). Kongres internasional ini merupakan hasil kolaborasi Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya UGM, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY yang diselenggarakan selama sepekan, 1-7 November 2026.

Sri Paduka menjelaskan, melalui kajian arkeologi, sejarah kemanusiaan dapat dipahami sebagai jalinan panjang pengalaman, perjumpaan, dan pertukaran pengetahuan antarmasyarakat, bukan sebagai perjalanan yang terpisah-pisah. Sejalan dengan tema kongres, Tomorrow and Beyond, Sri Paduka pun mengajak para peserta memandang masa depan melalui cakrawala waktu yang lebih luas.

“Kemajuan peradaban tidak semata diukur dari seberapa jauh manusia mampu melangkah, tetapi juga dari kebijaksanaannya memahami perjalanan yang telah dilalui. Atas nama Pemerintah Daerah dan masyarakat DIY, saya menyampaikan selamat datang kepada para ilmuwan dan pemikir dari berbagai penjuru dunia. Yogyakarta, dengan kekayaan sejarah dan warisan peradabannya, menjadi ruang perjumpaan ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan persahabatan antarbangsa,� tutur Sri Paduka.

Sri Paduka pun berharap, penyelenggaraan kongres ini memberikan pengalaman berkesan sekaligus menginspirasi lahirnya gagasan-gagasan bermakna bagi dunia. “Sebab, masa depan peradaban yang bermartabat tidak hanya dibangun oleh apa yang kita temukan, tetapi juga oleh apa yang kita pilih untuk tidak dilupakan,� pungkas Sri Paduka.

Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, yang turut hadir dalam kongres tersebut, menyampaikan bahwa Indonesia memiliki posisi penting dalam kajian paleoantropologi dan arkeologi. Menurutnya, Nusantara bukan sekadar lokasi penemuan, melainkan sebuah laboratorium alam yang merekam jejak krusial peradaban awal manusia.

“Pertemuan ini sangat penting, terutama karena Indonesia merupakan salah satu laboratorium paleoantropologi dan arkeologi untuk mengkaji asal-usul serta migrasi manusia, mulai dari Homo erectus hingga Homo sapiens,” ungkap Fadli Zon saat ditemui usai seremoni pembukaan.

Menbud juga menyoroti berbagai temuan mutakhir di Indonesia yang terus menarik perhatian dunia, seperti cave painting (lukisan gua), rock art, dan rock shelters yang tersebar di Sulawesi, Kalimantan, hingga Sumatera dari era puluhan ribu tahun lalu. Ditambah lagi dengan temuan historis Homo Erectus di Jawa serta temuan di Liang Bua, NTT.

“Temuan-temuan ini menunjukkan bahwa Nusantara adalah salah satu pusat migrasi penting dalam rangkaian migrasi manusia, khususnya di wilayah Indo-Pasifik hingga ke berbagai belahan dunia lain. Melalui kajian, diskusi, dan puluhan panel di kongres ini, kita berharap terjadi pertukaran informasi (exchange of information) dan debat ilmiah yang menarik. Hasil riset terakhir ini akan sangat berguna bagi konstruktivitas kita,” jelas Menbud.

Presiden IPPA periode 2024–2028, Prof. Anggraeni, menyampaikan bahwa kongres ke-23 ini diikuti lebih dari 800 peserta dari 42 negara. Para peserta berasal dari beragam bidang keilmuan, antara lain arkeologi, antropologi, paleoantropologi, sejarah, linguistik, dan pengelolaan warisan budaya. Sebagai organisasi nirlaba internasional yang telah berkembang selama lebih dari lima dekade, IPPA menjadi wadah bagi akademisi dan praktisi untuk mengembangkan kajian arkeologi serta bidang terkait di kawasan Indo-Pasifik.

Anggraeni menilai Yogyakarta menjadi tempat yang tepat untuk penyelenggaraan kongres karena sejarah, budaya, kegiatan akademik, dan warisan budaya yang masih hidup saling berpadu di kota ini. Keberadaan Universitas Gadjah Mada sebagai salah satu pusat pendidikan tinggi dan penelitian terkemuka di Indonesia, serta kekayaan lanskap arkeologi dan budaya di sekitarnya, turut memberikan konteks yang relevan bagi pertemuan ilmiah tersebut.

“Di sini, masa lalu tidak terasa jauh atau abstrak. Masa lalu hadir dalam lanskap, monumen, artefak, tradisi, bahasa, komunitas, dan ingatan. Bagi para peneliti yang mengkaji masa lalu, kehadiran tersebut memiliki makna intelektual sekaligus tanggung jawab,� ujar Anggraeni.

Ia menegaskan bahwa tanggung jawab terhadap warisan budaya tidak berhenti pada kegiatan penelitian, dokumentasi, dan penafsiran. Upaya pelestarian serta memastikan pengetahuan masa lalu tetap bermakna bagi generasi sekarang dan mendatang juga menjadi bagian penting dari tanggung jawab tersebut. Karena itu, ia berharap para peserta tidak hanya mengikuti agenda akademik, tetapi juga berkesempatan mengenal kekayaan budaya dan keramahan masyarakat Yogyakarta serta Indonesia.

Lebih lanjut, Anggraeni menyampaikan bahwa Indonesia menjadi tuan rumah Kongres IPPA untuk kedua kalinya. Kongres pertama di Indonesia diselenggarakan di Yogyakarta pada 1990 di bawah kepemimpinan almarhum Prof. R.P. Soejono, salah satu tokoh penting dalam perkembangan arkeologi Indonesia. Kembalinya IPPA ke Yogyakarta setelah lebih dari tiga dekade menjadi penghubung antargenerasi akademisi sekaligus bagian dari kesinambungan kontribusi Indonesia dalam pengembangan studi prasejarah dan arkeologi di kawasan Indo-Pasifik.

Kongres yang berlangsung selama 1–7 November 2026 ini tidak hanya menghadirkan forum pertemuan akademik, tetapi juga membuka kesempatan bagi para peserta untuk memperluas jejaring dan kerja sama penelitian. Agenda ilmiah dijadwalkan berlangsung pada 3–4 November dan 6–7 November melalui delapan sesi diskusi paralel serta pameran poster yang membahas berbagai perkembangan dan isu arkeologi di kawasan Indo-Pasifik maupun wilayah lainnya.

Selain itu, pada 5 November, para peserta akan mengikuti Mid Conference Tour dengan mengunjungi sejumlah situs warisan budaya dan arkeologi, meliputi Candi Borobudur, Situs Liyangan, Kompleks Candi Prambanan dan Plaosan, serta Situs Manusia Purba Sangiran. Kunjungan ini memberikan kesempatan bagi peserta untuk mengenal secara langsung kekayaan peninggalan arkeologi Indonesia.

Rangkaian kongres juga dilengkapi dengan berbagai kegiatan pendukung, seperti pameran buku dan jurnal ilmiah, peralatan lapangan dan laboratorium, serta pameran batik, lurik, dan kuliner. Melalui perpaduan kegiatan akademik dan kebudayaan tersebut, kongres ini diharapkan dapat memperluas pertukaran pengetahuan sekaligus memperkuat kolaborasi internasional dalam penelitian dan pelestarian warisan budaya.

Humas Pemda DIY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *