Beranda / Daerah / Tanggapi Polemik Pemasangan Kawat Berduri, Pemda DIY Minta Pengamanan Lebih Terkoordinasi

Tanggapi Polemik Pemasangan Kawat Berduri, Pemda DIY Minta Pengamanan Lebih Terkoordinasi

Yogyakarta,REDAKSI17.COM – Pemerintah Daerah (Pemda) DIY menanggapi polemik pemasangan kawat berduri oleh pihak kepolisian di kawasan Titik Nol Kilometer, Yogyakarta, yang menuai beragam respons masyarakat. Melalui Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, Pemda DIY berharap setiap langkah pengamanan di kawasan cagar budaya dapat dikoordinasikan terlebih dahulu dengan berbagai pihak terkait.

Ni Made mengapresiasi langkah kepolisian dalam upaya menjaga keamanan wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, termasuk kawasan cagar budaya. Meski demikian, ia berharap adanya komunikasi dan koordinasi terlebih dahulu antara kepolisian dengan Pemda DIY sebelum pelaksanaan simulasi pengamanan.

“Kami menghargai dan memahami tugas kepolisian untuk menjaga keamanan wilayah, seperti itu ya. Tapi memang ketika ini bicaranya di kawasan heritage, kawasan cagar budaya, saya kira ini menjadi berbeda, seperti itu. Sehingga harapan besar kami, ini kan inisiatif dari kepolisian ya, untuk memasang kawat berduri itu mungkin sebagai latihan atau apa ya, soalnya kami belum diberitahu untuk berkaitan dengan hal itu, mungkin perlu penekanan di sisi koordinatif,� ungkap Ni Made saat ditemui pada Selasa (03/11/2026).

Ni Made berharap, ke depan, setiap langkah pengamanan di kawasan Yogyakarta dapat dikoordinasikan terlebih dahulu dengan pihak-pihak terkait. Hal ini penting untuk mengantisipasi munculnya persepsi mengenai pengamanan yang berlebihan di tengah masyarakat.

“Mungkin kami berharap ke depannya hal-hal yang seperti ini kita kuatkan koordinasinya. Sehingga ketika ada langkah-langkah persuasif yang dilakukan, ini kami bisa mengantisipasi hal-hal yang mungkin dianggap sebagai persepsi terjadinya penjagaan yang berlebihan. Ini yang mungkin juga kami berharap bahwa ke depan tingkat koordinatifnya lebih diperkuat,� lanjut Ni Made.

Menurut Ni Made, koordinasi antarpihak perlu dilakukan dengan mengedepankan pendekatan yang humanis serta mempertimbangkan karakteristik kawasan yang menjadi ruang aktivitas masyarakat dan wisatawan. Terlebih, Titik Nol Kilometer merupakan bagian dari kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta yang terhubung dengan kawasan Malioboro dan ramai dikunjungi masyarakat maupun wisatawan.

“Jadi ketika ada pihak-pihak yang punya niat baik, mestinya ya juga seperti itu, mungkin bisa berkoordinasi dengan kita. Karena itu kan termasuk kawasan sumbu filosofis, kawasan Malioboro, banyak pengunjung, banyak wisatawan. Jadi bagaimana kemudian ketika akan dilakukan tindakan preventif dan lain-lain, itu mungkin perlu ada koordinasi yang humanis, yang bisa diterima oleh semua,� jelas Ni Made.
Humas Pemda DIY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *