Yogyakarta,REDAKSI17.COM – Pendidikan berbasis budaya dinilai tetap relevan untuk menjawab tantangan zaman, namun perlu disederhanakan agar lebih mudah dipahami dan diterapkan oleh anak-anak. Penekanan ini disampaikan Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X saat menerima silaturahmi Pusat Pengembangan Diri & Komunitas (PPDK) Kemuning Kembar Parama Witatama di Gedhong Pare Anom, Kompleks Kepatihan, Jumat (17/4).
Sri Paduka menyebut, DIY memiliki kekayaan nilai budaya yang dapat menjadi fondasi kuat dalam pendidikan karakter. Menurutnya, pendekatan pendidikan tidak harus selalu bertumpu pada teori baru, karena nilai-nilai lokal seperti Tut Wuri Handayani telah lama menjadi pijakan yang relevan. “Kita tidak perlu mencari teori ke mana-mana. Kita sudah punya dasar yang kuat dari budaya kita sendiri,” ungkapnya.
Namun demikian, Sri Paduka menekankan pentingnya penyesuaian metode agar sesuai dengan dunia anak. Anak-anak, menurutnya, bukanlah “miniatur orang dewasa” sehingga pendekatan pembelajaran harus lebih sederhana dan kontekstual. “Perlu ada penyederhanaan pola pikir terhadap apa yang ingin disasar, supaya mudah diterima dan menjadikan anak sebagai subyek. Yang terpenting, harus aplikatif,” tegasnya.
Wagub DIY juga menyoroti proses belajar tidak selalu harus dalam bentuk pengajaran langsung. Dalam tradisi Jawa, nilai-nilai kehidupan justru banyak disampaikan melalui media seperti wayang, tembang, dan cerita rakyat. “Orang Jawa itu menemukan cara belajar tanpa menggurui. Anak-anak itu seeing is believing, mereka belajar dari apa yang dilihat dan dirasakan,” imbuhnya.
Lebih jauh, Sri Paduka mengingatkan pentingnya peran lingkungan, khususnya keluarga, dalam membentuk karakter anak. Lingkungan yang tidak sehat, termasuk pola asuh yang kurang tepat, dapat berdampak pada menurunnya kepercayaan diri dan semangat juang generasi muda. Ia juga menyinggung meningkatnya keresahan terkait kesehatan mental anak dan remaja yang perlu menjadi perhatian bersama.
Sementara itu, Pimpinan PPDK Kemuning Kembar Parama Witatama, Indria Laksmi Gamayanti, menyampaikan pihaknya akan menggelar Sarasehan Nasional Resiliensi Berbasis Budaya pada 2–3 Mei mendatang di Taman Budaya Embung Giwangan. Forum ini mengangkat tema kesehatan mental, pendidikan, dan pembentukan karakter sebagai respons atas berbagai persoalan yang kini mengemuka.
Menurut Gamayanti, selama ini masyarakat kerap melupakan bahwa Indonesia memiliki beragam model pendidikan dan pengasuhan berbasis tradisi yang telah diwariskan turun-temurun. “Melalui sarasehan ini, kami ingin menggali kembali praktik-praktik tersebut, sekaligus mengkajinya dari perspektif psikologi perkembangan anak, khususnya dalam membangun ketahanan mental,” jelasnya.
Pihaknya berharap, forum ini dapat melahirkan langkah konkret agar nilai-nilai budaya tidak hanya dipahami, tetapi juga diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. “Pesan dari Pak Wagub sangat jelas, bagaimana nilai-nilai ini bisa diterapkan secara nyata di masyarakat. Ini menjadi poin penting yang perlu ditindaklanjuti bersama,” pungkas Gamayanti.
Humas Pemda DIY





