Mantrijeron,REDAKSI17.COM – Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menekankan pentingnya kualitas sumber daya manusia (SDM), khususnya dari sisi moral dan kesehatan mental, saat menjadi narasumber dalam Forum Ukhuwah Islamiyah DIY bertajuk Srawung Warga Jogja yang digelar di Masjid Jogokariyan pada Minggu (19/4/2026).

Dalam forum tersebut, Hasto menyampaikan bahwa Kota Yogyakarta tidak memiliki sumber daya alam yang melimpah. Sebaliknya, lebih dari 95 persen kekuatan kota ini bertumpu pada kualitas SDM. Oleh karena itu, kemajuan kota sangat ditentukan oleh kreativitas, moral, mental, dan akhlak masyarakatnya.

“Kalau sumber daya manusianya kreatif, bermoral, dan berakhlak baik, insya Allah kita bisa maju. Tapi kalau tidak, akan sulit untuk berkembang,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa para leluhur telah memberikan pesan penting melalui semangat “bangunlah jiwanya, bangunlah badannya”. Menurutnya, pembangunan tidak cukup hanya berfokus pada aspek fisik, tetapi harus dimulai dari pembentukan jiwa dan karakter.

Hasto juga memaparkan capaian pemerintah dalam menurunkan angka stunting. Ia menyebut, angka stunting nasional yang sebelumnya berada di kisaran 28 persen kini turun menjadi sekitar 16 persen, sementara di Kota Yogyakarta telah mencapai 8 persen. Namun demikian, ia mengingatkan adanya tantangan lain yang tidak kalah serius, yakni peningkatan gangguan mental emosional.

“Sekarang ini, stunting turun, tapi gangguan mental meningkat. Angkanya naik dari 6,1 persen menjadi 9,8 persen. Ini harus menjadi perhatian serius,” tegasnya.

Ia menjelaskan berbagai bentuk gangguan mental yang kerap muncul di masyarakat, seperti sikap sombong, tidak mau menerima pendapat orang lain, hingga fenomena “I know syndrome” atau merasa paling tahu. Bahkan, ia menyebut kondisi tersebut dapat berkembang menjadi perilaku toksik yang menghambat terciptanya lingkungan sosial yang sehat.

Selain itu, Hasto menyoroti tingginya angka perceraian yang dipicu oleh kondisi mental dan tekanan dalam keluarga. Ia menekankan pentingnya peran kepala keluarga, khususnya laki-laki, dalam menjaga keharmonisan rumah tangga.

“Sebagian besar pengajuan perceraian berasal dari pihak perempuan. Ini menjadi refleksi bahwa peran laki-laki sebagai pemimpin keluarga perlu diperkuat,” katanya.

Melalui forum seperti Srawung Warga Jogja, Hasto berharap terbangun ruang dialog dan silaturahmi yang mampu memperkuat nilai-nilai akhlak di tengah masyarakat. Ia meyakini, perbaikan moral akan berdampak langsung pada kemajuan SDM dan kesejahteraan kota.

Di akhir pemaparannya, Hasto juga menyinggung kebijakan Pemerintah Kota Yogyakarta terkait pelarangan minuman beralkohol (mihol). Ia menyampaikan bahwa Peraturan Daerah (Perda) terkait hal tersebut telah rampung dan akan segera disosialisasikan.

Menurutnya, konsumsi alkohol tidak hanya bertentangan dengan nilai sosial dan agama, tetapi juga berdampak serius terhadap kesehatan, khususnya organ hati. Oleh karena itu, kebijakan ini diharapkan dapat melindungi masyarakat dari dampak negatif alkohol.

“Ini bagian dari ikhtiar kita menjaga kesehatan dan moral masyarakat Kota Yogyakarta,” pungkasnya.