Home / Nasional dan Internasional / Trump Ngamuk di ’60 Minutes’, Damprat Jurnalis soal Manifesto Penembak

Trump Ngamuk di ’60 Minutes’, Damprat Jurnalis soal Manifesto Penembak

Presiden AS Donald Trump berbicara saat pengarahan di Gedung Putih tak lama setelah penembakan dalam acara jamuan makan malam di Hotel Washington Hilton, pada 25 April 2026. (Foto: Politico/Francis Chung)

Washington,REDAKSI17.COM – Harapan akan adanya ‘gencatan senjata’ antara Donald Trump dan media Amerika Serikat pascatragedi penembakan dalam acara jamuan makan malam di Hotel Washington Hilton sirna seketika. Hubungan yang sempat menghangat karena nasib serupa di bawah ancaman peluru itu rupanya hanya bertahan seumur jagung.

Dalam wawancara eksklusif program 60 Minutes di Gedung Putih, Minggu (26/4/2026) waktu setempat, Presiden ke-45 AS tersebut terekam melabrak jurnalis veteran CBS News, Norah O’Donnell. Amarah Trump meledak saat narasi wawancara bergeser dari kronologi kejadian menuju isi manifesto gelap sang pelaku penembakan, Cole Tomas Allen (31).

Awalnya, suasana terasa tenang. Trump dengan gaya khasnya menceritakan detik-detik mencekam saat rentetan tembakan menyalak di tengah jamuan makan malam White House Correspondents’ Association (WHCA). Namun, atmosfer ruangan mendadak beku ketika O’Donnell membacakan baris kalimat dari manifesto sepanjang 1.100 kata milik tersangka.

“Saya tak sudi lagi membiarkan seorang pedofil, pemerkosa, dan pengkhianat melapisi tangannya dengan kejahatan,” kutip O’Donnell.

Kalimat itu bak sumbu pendek yang memicu ledakan emosi Trump. Tanpa basa-basi, ia langsung melayangkan serangan verbal kepada O’Donnell dan institusi media yang diwakilinya.

“Saya sudah menduga Anda akan membacakan itu, karena kalian memang orang-orang jahat. Sangat jahat!” damprat Trump dengan nada meninggi.

“Ya, dia (pelaku) memang menulis itu. Tapi saya bukan pemerkosa. Saya tidak pernah memerkosa siapa pun!”

Meski nama Trump tidak tersurat dalam manifesto tersebut, sang Presiden merasa O’Donnell sedang menggiring opini publik untuk mengaitkannya dengan mendiang Jeffrey Epstein.

“Anda membaca omong kosong dari orang sakit. Saya sudah sepenuhnya dibebaskan dari tuduhan!” cecarnya tanpa memberi ruang interupsi.

Di balik drama adu mulut tersebut, Trump membagikan sisi lain yang belum terungkap saat Paspampres AS (Secret Service) berupaya menyelamatkannya di malam berdarah tersebut. Alih-alih langsung tiarap, Trump mengaku rasa penasarannya sempat membuat petugas kewalahan.

“Saya ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi. Saya sempat membuat mereka bertindak lebih lambat karena saya bilang, ‘Tunggu sebentar, tunggu sebentar’,” kenang Trump.

Baginya, dunia yang ‘gila’ adalah realitas yang sudah ia pahami betul, sehingga rasa panik tidak sempat menghinggapinya.

Trump baru bersedia menunduk setelah petugas memberikan instruksi keras kepada dirinya dan Melania Trump untuk menghantam lantai demi menghindari potensi peluru nyasar.

Sementara itu, Cole Tomas Allen, pria asal California yang menjadi tersangka utama, kini mendekam di balik jeruji besi usai baku tembak dengan aparat. Penyelidikan awal menunjukkan bahwa aksinya bukan sekadar tindakan acak, melainkan serangan yang direncanakan secara matang dengan target politik yang jelas.

Plt Jaksa Agung AS, Todd Blanche, menyebut Allen membawa gudang senjata kecil yang terdiri dari pisau, senapan berburu, hingga pistol.

“Kami meyakini tersangka secara spesifik menargetkan anggota administrasi kabinet,” ungkap Blanche.

Meski kembali terlibat perseteruan sengit dengan pers, Trump secara mengejutkan meminta acara makan malam jurnalis Gedung Putih tersebut segera dijadwalkan ulang dalam waktu 30 hari.

“Jangan biarkan orang gila membatalkan agenda penting seperti ini,” tutupnya, memberikan pesan bahwa ia tidak akan mundur sejengkal pun dari panggung publik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *