Tantri Kridhamardawa menjadi ruang bagi para perempuan untuk mengeksplorasi kedalaman estetika melalui seni karawitan. Menariknya, aktivitas ini juga menghidupkan kembali fungsi sosial dari Kanjeng Nyai Marikangen, perangkat gamelan (gangsa) yang memiliki keterkaitan erat dengan kelembutan dan dinamika rasa perempuan. Berdasarkan sejarahnya, Kanjeng Nyai Marikangen merupakan perangkat gamelan yang dibuat khusus untuk perempuan. Hal ini dapat dibuktikan dengan bentuk dan ukuran setiap instrumen gamelan yang lebih kecil dari pada gamelan umumnya.
Gamelan Kanjeng Nyai Marikangen juga menjadi gamelan yang selalu dimainkan oleh Korps Langenkusuma setelah latihan watangan setiap sabtu pagi di Alun-alun Selatan. Dengungan nada dari setiap bilah gamelan yang dimainkan oleh tangan-tangan terampil ini menciptakan harmoni yang magis. Upaya ini memastikan bahwa regenerasi pengrawit putri terus berjalan, menjaga agar denyut tradisi tetap hidup di tengah derasnya arus modernitas.
•••
Tantri Kridhamardawa serves as a space for women to explore the depths of aesthetics through the art of gamelan. This activity also revives the social function of Kanjeng Nyai Marikangen, a set of gamelan instruments (gangsa) closely associated with the tenderness and emotional dynamics of women. Historically, Kanjeng Nyai Marikangen was a gamelan set specifically crafted for women. This is evident in the smaller size and design of each instrument compared to standard gamelan sets.
Gamelan Kanjeng Nyai Marikangen is also the gamelan always played by the Langenkusuma Corps after their watangan practice every Saturday morning at the South Square. The resonant tones from each gamelan bar, played by these skilled hands, create a magical harmony. This effort ensures that the regeneration of female gamelan players continues, keeping the pulse of tradition alive amidst the relentless tide of modernity.
© Kawedanan Tandha Yekti
Source:
Sutton, R. A. (2021). Gamelan di Yogyakarta: Tradisi, Inovasi, dan Gender dalam Seni Karawitan. (Trans. B. Murti). Yogyakarta: Pustaka Budaya.





