Home / Hikayat, Seni dan Budaya / TAMAN SARI: SURGA YANG SETENGAH TERKUBUR

TAMAN SARI: SURGA YANG SETENGAH TERKUBUR

Membaca Taman Sari Bukan sebagai Objek Wisata, melainkan sebagai Dokumen Arkeologis yang Masih Belum Tuntas Dibaca
Oleh: Mohammad Basyir Zubair (Embas)
Ditulis 22 Oktober 2022, di revisi 26 April 2026
Setiap tahun jutaan orang berjalan di atasnya. Memotret kolam-kolam yang biru. Berswafoto di depan menara Pulo Kenanga. Lalu pulang dengan perasaan sudah “melihat Taman Sari”.
Mereka belum melihat apa-apa.Yang mereka lihat hanyalah sepotong kecil, fragmen yang berhasil selamat dari gempa 1867, dari penjarahan bahan bangunan, dari tumbuhnya kampung di atas reruntuhan, dan dari ketidakpedulian yang berlangsung selama dua abad.
Yang sesungguhnya adalah Taman Sari jauh lebih besar, jauh lebih kompleks, dan jauh lebih misterius dari yang bisa ditangkap oleh lensa kamera wisatawan mana pun.
Dan sebagai seorang yang terbiasa membaca bukan hanya teks tertulis tetapi juga teks yang terkubur di dalam tanah, batu, lapisan stratigrafi, denah bangunan yang hilang, fragmen keramik yang berserakan di bawah kampung, saya ingin mengajak Anda membaca Taman Sari dengan cara yang berbeda.
Bukan sebagai objek wisata. Bukan sebagai latar foto pernikahan.
Melainkan sebagai sebuah dokumen arkeologis yang masih setengah terkubur, yang menyimpan pertanyaan-pertanyaan besar yang belum terjawab dan mungkin, justru itulah yang membuatnya paling menakjubkan.
“Taman Sari bukan kolam pemandian. Ia adalah kota di dalam kota,dan separuhnya masih terkubur di bawah kampung yang hari ini kita anggap biasa.”
Embas
I. SEBELUM ADA TAMAN SARI, ADA UMBUL PACETHOKAN
Ini yang hampir tidak pernah disebutkan dalam brosur wisata mana pun: Taman Sari tidak dibangun di tanah kosong. Ia dibangun di atas dan di sekeliling sebuah mata air tua yang sudah lama dikenal oleh penduduk setempat, bernama Umbul Pacethokan.
Dalam arkeologi pemukiman, mata air adalah magnet peradaban. Di mana ada mata air, ada kehidupan. Di mana ada kehidupan yang berkelanjutan, ada lapisan-lapisan budaya yang menumpuk selama generasi. Umbul Pacethokan bukan sekadar sumber air, ia adalah titik koordinat yang sudah masuk dalam peta kultural Mataram jauh sebelum Sultan HB I meletakkan batu pertama Taman Sari.
Ketika Sultan HB I memilih lokasi ini pada 1757 untuk membangun kompleks istananya, ia tidak sedang memilih tanah tak bertuan. Ia sedang mengambil alih titik yang sudah sakral secara hidrologi dan kultural. Umbul Pacethokan kemudian dikembangkan dan diintegrasikan ke dalam sistem air Taman Sari, dan hari ini kita mengenalnya sebagai bagian dari sistem Umbul Winangun di dalam kompleks.
FAKTA ARKEOLOGIS
Situs Resmi Pemerintah Kota Yogyakarta dan Dinas Kebudayaan DIY secara konsisten menyebut Umbul Pacethokan sebagai titik awal lokasi Taman Sari. Dalam kajian arkeologi pemukiman, keberadaan mata air bernama spesifik menunjukkan bahwa komunitas manusia sudah berinteraksi dengan titik geografis tersebut cukup lama untuk memberinya identitas. Mata air tidak diberi nama oleh orang yang baru kemarin datang.
Dan di sekeliling mata air itu, sebelum 1757, sudah ada dusun bernama Pachetokan, nama yang berakar dari kata cethok, sejenis alat pertanian. Ini adalah komunitas agraris yang sudah mapan. Bukan hutan kosong tanpa penghuni.
Mengapa ini penting secara arkeologis? Karena ketika kita ingin memahami bagaimana Taman Sari diintegrasikan ke dalam jaringan sosial dan spatial kota Yogyakarta yang lebih besar, kita harus memahami bahwa ia bukan titik awal, ia adalah kelanjutan dari kepadatan pemukiman dan aktivitas manusia yang sudah ada lebih dulu.
II. SIAPA YANG BENAR-BENAR MERANCANG TAMAN SARI?
Inilah salah satu perdebatan paling menarik, dan paling belum tuntas dalam sejarah arsitektur Jawa abad ke-18. Narasi yang paling populer menyebut seorang arsitek Portugis bernama Demang Tegis sebagai perancang Taman Sari. Kisahnya dramatis: seorang pelaut Portugis terdampar di pantai selatan Jawa, diselamatkan oleh orang-orang kesultanan, kemudian mengabdi kepada Sultan HB I dan mendapat nama Jawa. Kisah ini cantik. Kisah ini menarik. Dan sebagian besar orang menerimanya begitu saja.Tetapi seorang arkeolog tidak boleh menerima narasi hanya karena ia cantik.
“Dalam arkeologi, kita tidak bertanya ‘apakah cerita ini indah?’ Kita bertanya: ‘di mana buktinya?’”
Antonio Pinto da Franca, mantan Duta Besar Portugal untuk Indonesia, memang menyebut kemungkinan keterlibatan arsitek Portugis dalam perancangan Taman Sari, tetapi ia sendiri menggunakan kata “kemungkinan” (kemungkinan dirancang, bukan “pasti dirancang”). Sumber primernya adalah tradisi lisan yang dihubungkan dengan catatan Portugis di Goa.
Sementara itu, Babad Tanah Jawi dan Serat Rerenggan menyebut bahwa Sultan HB I sendiri yang memiliki visi arsitektur Taman Sari, bahwa ia “ingin memadukan unsur Jawa dengan gaya arsitektur asing yang megah.” Artinya: konsepnya dari Sultan, eksekusinya melibatkan keahlian dari berbagai tradisi.
DEBAT ILMIAH
Hingga hari ini belum ada sumber primer yang secara eksplisit menyebut nama arsitek Taman Sari dengan identitas yang dapat diverifikasi. Nama ‘Demang Tegis’ muncul dalam tradisi lisan dan beberapa babad, namun belum dikonfirmasi oleh arsip VOC atau dokumen Belanda yang terdapat di Nationaal Archief, Den Haag. Ini adalah celah penelitian yang terbuka. Peneliti yang ingin menyumbang pada historiografi Taman Sari perlu menelusuri arsip Batavia ca. 1757–1765 secara sistematis.
Yang jauh lebih menarik dari pertanyaan ‘siapa arsiteknya’ adalah pertanyaan arkeologis yang lebih dalam: dari mana asal pengetahuan teknis yang digunakan untuk membangun Taman Sari?
Sistem pengairan Taman Sari adalah keajaiban teknik abad ke-18.
Kolam-kolam bertingkat, saluran air tersembunyi, sistem drainase yang mampu mengelola banjir dari Sungai Winongo yang berada di sebelah barat, semua ini membutuhkan pengetahuan hidrologi dan teknik sipil yang tidak bisa muncul dari satu orang saja, Portugis atau Jawa. Ini adalah akumulasi pengetahuan dari berbagai tradisi: arsitektur istana Jawa, teknik pengairan Mughal yang diserap melalui jaringan Muslim Asia, dan mungkin juga elemen dari tradisi Eropa.
Taman Sari adalah hibridisasi teknologi abad ke-18 yang paling canggih di Jawa, dan kita belum selesai membacanya.
III. TAMAN SARI YANG SESUNGGUHNYA: KOTA DI DALAM KOTA
Inilah yang paling jarang dipahami oleh pengunjung biasa, bahkan oleh banyak penulis sejarah populer: Taman Sari yang kita kunjungi hari ini hanyalah sekitar 10–15 persen dari kompleks aslinya.
Ya. Anda tidak salah baca. Kompleks Taman Sari yang asli, sebagaimana digambarkan dalam beberapa peta Belanda abad ke-18 dan catatan perjalanan, membentang jauh lebih luas dari yang bisa kita bayangkan sekarang. Ia mencakup tidak hanya area kolam pemandian dan Pulo Kenanga yang kita kenal, tetapi juga:
Danau buatan (segaran) yang luas di sebelah barat kompleks, tempat Sultan berlayar dengan perahu di dalam lingkungan istananya sendiri.
Pasarean Ledoksari, kompleks tempat tinggal para abdi dalem dan prajurit yang mengelilingi inti Taman Sari.
Jaringan lorong bawah tanah yang menghubungkan Taman Sari dengan Keraton dan, menurut beberapa sumber keluar jauh ke arah barat, melewati Sungai Winongo.
Masjid bawah tanah Sumur Gumuling dengan arsitektur berbentuk lingkaran berlapis yang hingga hari ini masih membingungkan para arsitek modern tentang bagaimana akustiknya bisa sedemikian sempurna.
TITIK BALIK
Peta Belanda ca. 1765 yang tersimpan di Nationaal Archief Den Haag menggambarkan kompleks Taman Sari yang jauh lebih luas dari yang tersisa hari ini. Danau buatan (segaran) yang dulu mengelilingi kompleks inti kini sudah menjadi daratan, sebagian menjadi jalan, sebagian menjadi perkampungan. Lapisan arkeologis di bawah perkampungan Taman Sari hari ini secara teoretis masih menyimpan sisa-sisa infrastruktur abad ke-18 yang belum pernah digali secara sistematis.
Yang terjadi pada Taman Sari setelah gempa 1867 adalah salah satu tragedi warisan budaya terbesar di Yogyakarta. Bukan hanya karena bangunannya runtuh. Tetapi karena keruntuhan itu kemudian diikuti oleh proses yang lebih perlahan dan lebih merusak: penduduk mulai membangun rumah di atas reruntuhan. Batu-batu Taman Sari diambil sebagai bahan bangunan. Sistem pengairan ditinggalkan. Danau buatan yang dulu mengisi segaran mengering dan diuruk.
Dalam terminologi arkeologi, ini disebut secondary disturbance, gangguan sekunder yang merusak konteks stratigrafi asli. Dan sekali konteks stratigrafi rusak, sebagian informasi arkeologis di dalamnya hilang untuk selamanya.
Eliza Ruhamah Scidmore yang mengunjungi Taman Sari pada 1897, tiga puluh tahun setelah gempa, sudah menyaksikan kondisi yang mengenaskan: lorong-lorong berlumut, tangga rusak, bangunan tak terawat. Tapi bahkan dalam kondisi rusak pun, ia masih bisa merasakan kehebatan arsitekturnya. Yang tidak bisa ia bayangkan adalah betapa jauh lebih luas kompleks itu sebelum bencana.
IV. SUMUR GUMULING: MISTERI YANG BELUM TERPECAHKAN
Jika ada satu bangunan di dalam kompleks Taman Sari yang paling menantang pemahaman kita tentang arsitektur Jawa abad ke-18, itu adalah Sumur Gumuling, masjid bawah tanah yang bentuknya tidak menyerupai masjid mana pun yang pernah dibangun di Jawa sebelum atau sesudahnya.
Bentuknya melingkar. Di tengahnya ada sumur atau kolam. Di sekeliling lingkaran itu ada tangga melingkar yang menghubungkan beberapa tingkat. Di bagian atas ada ruang terbuka yang memancarkan cahaya ke bawah. Tidak ada kiblat yang eksplisit dalam bentuk arsitekturnya, kiblatnya harus dikonstruksi sendiri oleh jamaah berdasarkan arah.
Para arsitek modern yang mempelajari Sumur Gumuling dibuat terpana oleh satu fenomena: akustiknya luar biasa. Suara yang diucapkan di satu titik tertentu bisa terdengar dengan jelas di titik lain yang secara geometri seharusnya tidak terhubung langsung. Ini bukan kebetulan. Ini adalah desain akustik yang disengaja, dan membutuhkan pemahaman fisika gelombang suara yang tidak sederhana untuk zamannya.
“Siapa yang mengajari arsitek Taman Sari tentang akustik melingkar? Ini adalah pertanyaan yang belum ada jawaban akademisnya.”
Embas
DEBAT ILMIAH
Beberapa peneliti menghubungkan desain Sumur Gumuling dengan tradisi arsitektur Sufi yang menggunakan ruang melingkar untuk dzikir berjamaah, di mana bentuk lingkaran memiliki makna kosmologis sekaligus fungsi akustik. Tradisi ini dikenal dalam arsitektur tekke (tempat kumpul sufi) di dunia Ottoman dan Persia. Apakah ada jalur transmisi pengetahuan arsitektur Sufi dari dunia Islam barat ke Jawa abad ke-18 melalui jaringan ulama dan pedagang? Ini adalah hipotesis yang layak diteliti lebih lanjut dengan sumber primer yang lebih kuat.
Yang juga belum terjawab secara arkeologis: apakah lorong-lorong yang menghubungkan Sumur Gumuling dengan bagian lain Taman Sari, dan yang konon terus ke arah Keraton masih utuh di bawah tanah? Beberapa survei geofisika non-destruktif yang pernah dilakukan di sekitar Keraton dan Taman Sari mengindikasikan adanya rongga di bawah tanah. Namun survei sistematis yang cukup komprehensif belum pernah dilakukan. Ini adalah pekerjaan rumah besar bagi arkeologi Indonesia.
V. ARKEOLOGI DI BAWAH KAMPUNG: YANG TERSEMBUNYI DI BAWAH KAKI KITA
Inilah kenyataan yang paling tidak nyaman untuk disampaikan kepada warga Yogyakarta yang mencintai kotanya: Sebagian besar sisa-sisa arkeologis Taman Sari yang belum pernah digali secara sistematis kini berada di bawah perkampungan yang hidup dan aktif, Kampung Taman, Kampung Patehan, dan kampung-kampung di sekitarnya.
Ini bukan tuduhan kepada penduduk. Mereka tidak bersalah. Mereka datang ke sana karena ada lahan, ada batu yang bisa dipakai membangun, ada sumur yang bisa dimanfaatkan. Yang bersalah adalah absennya kebijakan perlindungan warisan budaya yang sistematis pasca gempa 1867 dan sepanjang abad ke-20.
BATAS KLAIM
Klaim bahwa ‘lorong bawah tanah Taman Sari terhubung langsung ke Keraton dan ke pantai selatan’ adalah klaim yang beredar luas dalam narasi populer dan pariwisata. Namun hingga kini belum ada survei arkeologis atau geofisika yang dipublikasikan secara ilmiah yang memverifikasi klaim tersebut secara menyeluruh. Ada indikasi keberadaan rongga bawah tanah, tetapi panjang, kondisi, dan titik-titik tujuannya belum terkonfirmasi secara akademis. Ini harus dibedakan dari klaim yang sudah terverifikasi.
Dalam konteks arkeologi perkotaan (urban archaeology), situasi seperti ini bukan hal baru. Di banyak kota kuno di dunia, Roma, Istanbul, Athena, bahkan Kotagede di halaman belakang kita sendiri, lapisan arkeologis yang paling kaya justru tersembunyi di bawah lapisan pemukiman modern.
Tantangannya adalah bagaimana melakukan penelitian arkeologis tanpa merusak kehidupan masyarakat yang ada di atasnya, dan tanpa mengorbankan hak hidup mereka atas nama warisan budaya. Jawaban yang paling bijaksana adalah arkeologi non-destruktif: survei geomagnetik, ground-penetrating radar (GPR), survei resistivitas tanah, dan pemindaian LiDAR.
Teknologi ini memungkinkan kita memetakan apa yang ada di bawah tanah tanpa menggali satu meter pun. Beberapa institusi internasional sudah menawarkan kerja sama untuk survei semacam ini di Jawa, pertanyaannya adalah apakah kita cukup serius untuk mengambil kesempatan itu.
VI. GEMPA 1867 DAN DOSA YANG TIDAK PERNAH DISELESAIKAN
Gempa bumi 10 Juni 1867 adalah bencana yang mengubah wajah Yogyakarta untuk selamanya. Magnitude-nya diperkirakan antara 7,0–7,5 skala Richter berdasarkan deskripsi kerusakan dalam catatan Belanda. Keraton rusak parah. Taman Sari hancur sebagian besar. Namun yang terjadi setelah gempa itulah yang sesungguhnya menjadi bencana kedua, bencana yang lebih lambat, lebih senyap, dan jauh lebih permanen.
Dalam catatan perjalanan Scidmore (1897), ia menulis dengan nada melankolis tentang kondisi Taman Sari tiga dekade setelah gempa: bangunan-bangunan besar sudah menjadi puing, kolam-kolam mulai mengering, dan tidak ada tanda-tanda upaya pemugaran yang serius. Yang ada justru tanda-tanda bahwa batu-batu bangunan mulai diambil oleh warga untuk keperluan lain.
Proses ini yang dalam arkeologi disebut spoliation atau pengambilan bahan bangunan dari situs kuno untuk dipakai ulang, adalah salah satu penyebab kerusakan situs arkeologi yang paling umum di seluruh dunia. Dan di Taman Sari, proses ini berlangsung selama berpuluh-puluh tahun tanpa ada yang menghentikannya.
“Taman Sari tidak hanya rusak oleh gempa. Ia juga rusak oleh dua abad ketidakpedulian yang terorganisir.”
Embas
Pemugaran yang dilakukan oleh pemerintah dan Keraton sejak dekade 1970-an patut diapresiasi, terutama pemugaran Umbul Pasiraman (kolam pemandian) dan konservasi Sumur Gumuling. Namun ada masalah mendasar dalam pemugaran yang dilakukan tanpa didahului oleh penelitian arkeologis yang memadai: kita tidak tahu persis apa yang kita pugar. Kita memugar berdasarkan apa yang masih terlihat, bukan berdasarkan pemahaman menyeluruh tentang apa yang seharusnya ada.
Ini adalah kritik yang perlu disampaikan dengan hormat kepada semua pihak yang terlibat: pemugaran yang baik niatnya bisa menjadi pemugaran yang salah arahnya jika tidak didahului oleh penelitian arkeologis yang komprehensif. Dan dalam beberapa kasus, sebagaimana yang terjadi di berbagai situs di Indonesia, pemugaran yang terburu-buru justru menghancurkan lapisan stratigrafi yang seharusnya menjadi sumber informasi utama.
VII. APA YANG BELUM KITA KETAHUI DAN MENGAPA ITU JUSTRU MENARIK
Saya ingin mengakhiri artikel ini bukan dengan kesimpulan yang tertutup, melainkan dengan daftar pertanyaan yang terbuka. Karena dalam arkeologi, pertanyaan yang belum terjawab adalah tanda bahwa kita masih hidup, masih ada pekerjaan yang harus dilakukan, masih ada situs yang harus dipahami.
Pertanyaan pertama: Seberapa luas sesungguhnya kompleks Taman Sari yang asli? Peta Belanda menunjukkan luasan yang jauh lebih besar dari yang tersisa. Survei GPR di bawah perkampungan sekitarnya bisa menjawab sebagian pertanyaan ini.
Pertanyaan kedua: Apakah lorong-lorong bawah tanah yang menghubungkan Taman Sari dengan Keraton masih utuh? Dan sampai seberapa jauh jaringan lorong itu sesungguhnya membentang?
Pertanyaan ketiga: Siapa arsitek sesungguhnya Taman Sari, dan tradisi teknik apa yang ia bawa? Jawaban atas pertanyaan ini membutuhkan penelusuran arsip VOC di Nationaal Archief Den Haag secara lebih sistematis.
Pertanyaan keempat: Apa fungsi sesungguhnya Sumur Gumuling dalam praktik keagamaan dan ritual istana Sultan HB I? Apakah ada hubungannya dengan tradisi tasawuf yang diketahui dipeluk oleh sebagian lingkaran keraton?
Pertanyaan kelima: Apa yang ada di bawah danau buatan (segaran) yang dulu mengisi area sebelah barat Taman Sari, kini sudah menjadi jalan dan kampung? Apakah ada fondasi, artefak, atau infrastruktur yang tersimpan di sana?
TITIK BALIK
Taman Sari belum pernah mendapatkan ekskavasi arkeologis yang komprehensif dan sistematis menggunakan metodologi modern. Yang ada baru berupa survei parsial dan pemugaran arsitektur. Ini berarti kita sesungguhnya belum membaca ‘teks’ Taman Sari secara penuh, kita hanya membaca sampulnya.
VIII. PENUTUP: JANGAN HANYA MEMOTRET, MULAILAH MEMBACA
Jutaan orang datang ke Taman Sari setiap tahun. Mereka memotret kolam yang biru, mengagumi menara Pulo Kenanga, merasakan kesejukan Sumur Gumuling. Dan itu semua sah-sah saja.
Tetapi Taman Sari layak mendapat lebih dari sekadar dikagumi.
Ia layak untuk diteliti. Ia layak untuk disurvei secara geofisika. Ia layak untuk dijadikan prioritas penelitian arkeologi nasional. Ia layak untuk mendapatkan program dokumentasi 3D yang komprehensif, sebelum lebih banyak lagi bagiannya yang hilang ditelan waktu, gempa berikutnya, atau pembangunan yang tidak memperhitungkan warisan di bawah tanah.
Sultan HB I membangun Taman Sari bukan hanya sebagai taman. Ia membangunnya sebagai pernyataan, tentang kekuasaan, tentang estetika, tentang kosmologi, tentang visi seorang pemimpin yang ingin melampaui zamannya. Pernyataan itu masih terkubur sebagian besar di bawah tanah Yogyakarta.
Dan tugas kita, tugas generasi yang menyebut diri pewaris peradaban ini adalah menggali, membaca, dan memahaminya. Bukan dengan sekop dan linggis yang merusak. Tetapi dengan ilmu, teknologi, dan rasa hormat yang cukup kepada mereka yang membangunnya dua setengah abad lalu.
SUMBER PUSTAKA
1. Scidmore, Eliza Ruhamah. Java: The Garden of the East. New York: Century Co., 1897. [Deskripsi kondisi Taman Sari tiga dekade pasca gempa 1867, sumber primer terpenting untuk memahami kerusakan Taman Sari pasca bencana.]
2. Ki Sabdacarakatama. Sejarah Keraton Yogyakarta. Yogyakarta: Narasi, 2009. [Fungsi-fungsi Taman Sari dalam kehidupan istana, termasuk dimensi militer dan ritual.]
3. Lombard, Denys. Nusa Jawa: Silang Budaya (3 jilid). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1996. [Konteks budaya istana Jawa dan dinamika arsitektur hibrid abad ke-18.]
4. Carey, P.B.R. The Power of Prophecy: Prince Dipanagara and the End of an Old Order in Java, 1785–1855. Leiden: KITLV Press, 2008. [Konteks Taman Sari dalam lanskap politik dan budaya akhir era HB I menuju era HB II.]
5. Da Franca, Antonio Pinto. Portugis di Nusantara. Jakarta: Sinar Harapan, 1997. [Hipotesis keterlibatan arsitek Portugis dalam perancangan Taman Sari, perlu dibaca kritis sebagai hipotesis, bukan fakta final.]
6. Ricklefs, M.C. Yogyakarta Under Sultan Mangkubumi 1749–1792. London: Oxford University Press, 1974. [Konteks historis pembangunan Taman Sari dalam kerangka pemerintahan HB I.]
7. Pigeaud, Th. G. Th. dan Adam, L. “De Sultans van Djokjakarta.” Djawa: Tijdschrift van het Java Instituut, 1940. [Sumber Belanda sezaman yang mendeskripsikan kompleks Taman Sari dalam konteks kesultanan.]
8. Arsip Belanda. Nationaal Archief, Den Haag, khususnya VOC-archief ca. 1757–1770 dan kaarten (peta) Batavia/Yogyakarta abad ke-18. [Sumber primer yang paling urgen untuk ditelusuri lebih lanjut.]
9. Pemerintah Kota Yogyakarta. “Sejarah Kota.” jogjakota.go.id. Diakses 2026. [Data tentang Umbul Pacethokan dan Dusun Pachetokan sebagai titik awal lokasi Taman Sari.]
10. Dinas Kebudayaan DIY. “Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.” budaya.jogjaprov.go.id. Diakses 2026. [Data tentang sistem pengairan dan konteks budaya Taman Sari.]
Catatan metodologis: Artikel ini membedakan secara ketat antara fakta yang terverifikasi, hipotesis yang layak diuji, dan klaim populer yang belum terkonfirmasi. Pembaca didorong untuk menelusuri sumber-sumber primer yang dirujuk.
Mohammad Basyir Zubair (Embas) Yogyakarta 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *