Jakarta,REDAKSI17.COM– Serangan keras dilontarkan politikus PDIP, Ferdinand Hutahaean, kepada Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Ia menilai kinerja bendahara negara tersebut sudah tidak layak dipertahankan di tengah tekanan ekonomi, khususnya anjloknya nilai tukar rupiah.
Ferdinand secara blak-blakan menyebut kondisi rupiah yang menyentuh angka Rp17.300 per dolar AS sebagai sinyal kegagalan serius dalam pengelolaan ekonomi.
“Rupiah kita sudah tidak punya harga. Purbaya tampaknya tidak bisa melakukan apa-apa,” tegas Ferdinand.
Kritik Pedas: Hanya Bicara, Minim Solusi
Menurut Ferdinand, pernyataan-pernyataan Purbaya belakangan justru mencerminkan kepasrahan, bukan solusi. Ia menyoroti pernyataan “mode survival” yang dinilai menunjukkan pemerintah hanya bertahan, bukan memperbaiki keadaan.
“Kalau sudah bicara survival, artinya kita memang sedang dalam kondisi berat dan tidak punya langkah konkret,” sindirnya.
Isu Internal Kemenkeu Ikut Disorot
Tak hanya soal kebijakan, Ferdinand juga mengungkit kabar pencopotan dua direktur jenderal di Kementerian Keuangan. Ia menduga ada gejolak internal yang mencerminkan keraguan terhadap kepemimpinan Purbaya.
“Dari dalam sendiri muncul suara-suara yang meragukan kapasitasnya. Ini alarm serius,” ujarnya.
Dinilai Lempar Tanggung Jawab
Ferdinand juga mengkritik sikap Purbaya yang dianggap cenderung mengalihkan tanggung jawab ke Bank Indonesia.
“Masalah keuangan itu domain Kementerian Keuangan. Tidak bisa dilempar begitu saja,” tegasnya.
Desak Presiden Cari Pengganti
Dengan berbagai catatan tersebut, Ferdinand mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk segera mengevaluasi posisi Menteri Keuangan dan mencari figur yang dinilai lebih kompeten.
“Mungkin sudah waktunya Purbaya mundur. Kita butuh orang yang paham dan bisa menyelesaikan masalah,” katanya.
Sentil Janji Lama
Di akhir pernyataannya, Ferdinand juga mengungkit janji lama Purbaya yang pernah optimistis mampu memulihkan ekonomi dalam waktu singkat.
“Dulu sesumbar tiga bulan bisa bangkitkan ekonomi. Sekarang? Kalau sudah tidak mampu, mundur saja. Bulan madumu sudah berlalu,” pungkasnya.
Pernyataan keras ini menambah panas dinamika politik dan ekonomi nasional, di tengah tekanan global yang turut memengaruhi stabilitas rupiah dan kepercayaan publik terhadap pengelolaan keuangan negara.





