Nama lain dari Sastra jendra hayuningrat adalah Sastra Cetha, alias sastra tanpa papan dan sastra tanpa tulis, walaupun tanpa tulis dan papan tapi maknanya terang alias cetha dan bisa digunakan sebagai serat Papakem Paugeraning gesang.
Untuk mencapai Sastra Cetha ada 7 tahapan yg harus di lalui yaitu :
1. Tapaning Jasad.
Mengendalikan atau memghentikan gerak tubuh dan gerak fisik lainnya, lakunya tidak dendam, Sakit hati, semua hal diterima dengan legawa, tabah dgn kesungguhan hati, hati tan milih, tan nolak.
2.Tapaning Budhi.
Menghilangkan perbuatan yg hina nista dan hal-hal yang tidak jujur.
3. Tapaning Hawa Nafsu.
Mengendalikan nafsu atau sifat angkara murka dari pribadi Kita lakunya sabar, dan selalu berusaha mensucikan diri, punya perasaan mendalam, mudah memberi maaf, dan taat kepada Tuhan YME.
4. Tapaning Cipta
Artinya memperhatikan perasaan secara sungguh-sungguh atau dalam bahasa jawanya “Ngesti Sarasaning Raos Ati”. Berusaha sekuat tenaga menuju heneng, meneng, khusyuk, tumakmina sehingga hasilnya tidak diombang-ambingkan oleh siapapun dan apapun, dan yang Ahkir selalu hening, wening atau waspada supaya bisa konsentrasi ke Allah SWT.
5. Tapaning Sukma.
Dalam tahapan ini Kita fokus ketenangan jiwa amalnya ihklas dan memperluas rasa kedermawaan kita. Dengan memberi derma kepada Fakir miskin. Secara ihklas.
6. Tapaning Cahya.
Maknanya dalam tataran ini selalu eling awas dan waspada, sehingga hasilnya kita mempunyai daya, meramalkan sesuatu secara tepat alis waskita, amal eling lan waspada diikuti dengan menghindari hal 2 bersifat glamour dunia atau memabukan yang mengakibatkan batin Kita menjadi samar.
7. Tapaning Gesang.
Dalam tahapan Ahkir ini Kita berusaha sekuat tenaga dengan hati menuju kesempurnaan hidup dan Taat kepada Tuhan YME.





