Beranda / Ekonomi dan Bisnis / Kredit Investasi Melejit di Tengah Perang AS-Iran, Ini Motor Pendorongnya

Kredit Investasi Melejit di Tengah Perang AS-Iran, Ini Motor Pendorongnya

Ilustrasi/Foto: Rachman Haryanto

Jakarta,REDAKSI17.COM – Di tengah tingginya tensi konflik di Timur Tengah, pelaku usaha dalam negeri masih meningkatkan investasinya. Hal ini terlihat dari laporan Bank Indonesia (BI) yang mencatat kredit investasi tumbuh 20,85% (yoy).
Kondisi ini didorong berbagai berbagai aspek. Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad mengatakan peningkatan itu terjadi karena pelaku usaha masih melihat manfaat dari investasi itu untuk jangka panjang daripada untuk kredit modal.

“Padahal yang paling bagus untuk ekonomi itu sebenarnya modal kerja. Karena modal kerja itu untuk bahan baku, biaya tenaga kerja, bahan penolong. Sementara investasi banyak ke bangunan dan aset tetap. Jadi, dalam situasi seperti sekarang, uang yang ada daripada menganggur dan kondisi belum pasti, mereka memilih investasi saja,” kata dia saat dihubungi detikcom, Sabtu (2/5/2026).

Meski begitu, masih ada sejumlah pekerjaan rumah (PR) bagi pemerintah untuk meningkatkan kredit investasi ini. Pertama, sektor yang perlu didorong dari sisi kredit investasinya adalah manufaktur.

“Kalau kita lihat sekarang, banyak investasi itu bukan di manufaktur tetapi lebih ke sektor jasa, bangunan, lahan, toko retail, dan sebagainya. Menurut saya seharusnya ke pembangunan industri, pabrik, itu yang paling penting,” tuturnya.

Kedua, lokasi investasi. Menurutnya, saat ini kredit investasi justru banyak digunakan di luar kawasan industri yang disiapkan pemerintah.

“Saya kira pemerintah harus memastikan kawasan industri justru lebih murah dan lebih menarik dibandingkan di luar kawasan. Insentifnya juga bisa diberikan lebih kuat,” terangnya.

Kredit Investasi Naik Imbas Hilirisasi
Dihubungi terpisah, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menyebut faktor pendorong tumbuhnya kredit investasi adalah proyek hilirisasi, terutama di sektor berbasis sumber daya seperti nikel dan tembaga, yang menurutnya padat investasi.

“Selain itu, ada peluang relokasi industri dari negara lain yang masuk ke Indonesia. Di sisi perbankan, likuiditas juga masih longgar, sehingga ruang untuk menyalurkan kredit terbuka lebar,” jelasnya.

Menurut dia, gambarnya berbeda ketika dibandingkan dengan segmen lain. Kredit modal kerja tumbuh jauh lebih rendah, begitu juga kredit konsumsi.

“Ini memberi sinyal bahwa ekspansi yang terjadi belum diikuti oleh aktivitas produksi dan permintaan yang kuat. Perusahaan mungkin sudah membangun kapasitas, tetapi belum sepenuhnya yakin untuk menjalankan produksi secara agresif. Ada kecenderungan wait and see,” tuturnya.

Saat ini, pertumbuhan kredit untuk segmen UMKM dan konsumsi belum pulih kuat karena dianggap lebih berisiko. Padahal, Yusuf menilai sektor ini yang paling besar menyerap tenaga kerja.

“Jadi tantangannya bukan sekadar mendorong kredit tumbuh, tetapi memastikan kredit tersebut benar-benar mengalir ke aktivitas ekonomi riil dan menciptakan lapangan kerja,” pungkasnya.

Sebagai informasi, BI mencatat kredit perbankan terus diperkuat guna mendukung pertumbuhan ekonomi. Kredit perbankan pada Maret 2026 tumbuh sebesar 9,49% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada Februari 2026 sebesar 9,37% (yoy).

Berdasarkan kelompok penggunaan, perkembangan ini didukung oleh kredit investasi, kredit modal kerja, dan kredit konsumsi yang pada Maret 2026 masing-masing tumbuh sebesar 20,85% (yoy), 4,38% (yoy), dan 5,88% (yoy). BI memperkirakan pertumbuhan kredit 2026 tetap terjaga pada kisaran 8-12% dipengaruhi oleh sisi permintaan dan penawaran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *