Beranda / Hikayat Seni dan Budaya / Sultan Sugih,Kekayaan yang Melahirkan Peradaban,Pengkhianatan yang Memendam Luka

Sultan Sugih,Kekayaan yang Melahirkan Peradaban,Pengkhianatan yang Memendam Luka

Oleh M. Basyir Zubair (Embas)
Bayangkan seorang raja yang begitu kaya raya hingga rakyatnya sendiri membaptisnya dengan gelar yang tak lazim: Sultan Sugih. Sultan yang Kaya. Bukan Sultan Agung. Bukan Sultan Perkasa. Tapi Sultan Kaya.
Tapi apakah kekayaan itu miliknya? Atau ia hanya makelar bergelar sultan duduk di singgasana emas, sementara gula mengalir ke tangan-tangan Belanda yang tak pernah bisa disebut saudara?
Hamengkubuwana VII memerintah Yogyakarta selama 44 tahun, dari 1877 hingga 1921. Ini bukan sekadar angka. Ini hampir setengah abad. Dua generasi manusia lahir, tumbuh, dan mati dalam bayang-bayang seorang sultan yang sama.
Selama empat puluh empat tahun itu, ia menyaksikan Yogyakarta berubah rupa: dari kerajaan Jawa yang masih menyimpan detak Mataram, menjadi mesin produksi gula kolonial yang berdenyut mengikuti ritme pasar Amsterdam.
LAHIR DARI RAHIM PERGOLAKAN
Nama aslinya adalah Gusti Raden Mas Murteja. Ia lahir 4 Februari 1839, tepat ketika Belanda sedang dalam euforia Cultuurstelsel, sistem tanam paksa yang menguras keringat dan darah petani Jawa demi mengisi pundi-pundi negeri kincir angin. Ia putra tertua Hamengkubuwana VI, lahir dari rahim permaisuri kedua, GKR Sultan.
Ini penting: ia bukan anak permaisuri pertama. Permaisuri pertama putri Pakubuwana VIII dari Surakarta tidak punya anak laki-laki. Maka GRM Murteja naik ke takhta bukan karena keistimewaan darah semata, tapi karena ketiadaan pilihan lain. Nasib kerap bekerja dengan cara paling sederhana: ia ada, maka ia terpilih.
Pada 13 Agustus 1877, GRM Murteja dinobatkan. Ia kini adalah Hamengkubuwana VII. Senapati-ing-Ngalaga. Abdurrahman. Sayyidin Panatagama. Khalifatullah. Gelar-gelar itu berderak berat seperti gamelan yang dipukul serentak, agung, penuh makna, tapi juga penuh beban.
“Seorang sultan yang kaya tidak selalu berarti seorang sultan yang merdeka.”
17 PABRIK GULA DAN HARGA SEBUAH SINGGASANA
Di bawah pemerintahannya, 17 pabrik gula berdiri di wilayah Yogyakarta. Tujuh belas. Angka yang tidak kecil untuk sebuah kerajaan yang sedang belajar bernafas di bawah tekanan kolonial.
Setiap kali sebuah pabrik baru diizinkan berdiri di atas tanah Yogyakarta, Sultan menerima dana f 200.000, florin, mata uang Belanda.
Uang itu nyata. Mengalir deras. Dan Hamengkubuwana VII menggunakannya dengan cerdas: membangun sekolah-sekolah modern, mengirim putra-putranya belajar hingga ke negeri Belanda, mendirikan jaringan kebudayaan yang kelak melahirkan warisan tak ternilai.
Tapi ada yang tak pernah dihitung dalam neraca keuangan keraton: berapa hektar sawah petani Jawa yang tergusur untuk membangun pabrik-pabrik itu? Berapa keluarga yang kehilangan tanah leluhurnya demi sebuah angka di buku besar perusahaan Belanda?
Sistem Hak Sewa Tanah 70 tahun yang diperkenalkan Liberalisme 1870 terdengar modern dan elegan di atas kertas tapi di lapangan, ia berarti tanah Jawa disewa murah, diolah Belanda, dan hasilnya diangkut ke Eropa dengan kereta api yang baru saja dibangun oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij.
TITIK BALIK
Kereta api NIS yang dibangun untuk mengangkut tebu dari ladang ke pabrik gula turut memberikan pemasukan bagi keraton. Tapi kereta yang sama itu juga memperlancar cengkeraman kolonial atas tanah Jawa. Sebuah kemewahan yang datang bersama rantai yang tak kasat mata.
Hamengkubuwana VII kaya. Sangat kaya. Tapi kekayaannya adalah kekayaan seorang mandor yang berhasil, bukan kekayaan seorang raja yang berdaulat.
WARISAN YANG TUMBUH DI ANTARA DESINGAN MESIN
Namun ada satu hal yang tak boleh dilupakan: di tengah seluruh paradoks itu, Hamengkubuwana VII tetap membangun peradaban.
Sekolah-sekolah modern tumbuh di Yogyakarta. Anak-anaknya dikirim belajar ke Belanda, bukan untuk menjadi Belanda, tapi untuk memahami dunia yang sedang berubah. Tari Bedaya Sumreg lahir. Srimpi Dhendhang Sumbawa diciptakan. Tugu Golong Gilig yang rusak akibat gempa 1867 dibangun ulang, diresmikan pada 3 Oktober 1889, dan kini tetap berdiri sebagai simbol kota Yogyakarta.
Di era ini pula, Kridha Beksa Wirama didirikan, sekolah tari gaya Yogyakarta yang untuk pertama kalinya terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar, bukan hanya kerabat keraton. Tari Jawa turun dari istana, menyentuh tanah, dan menjadi milik semua orang.
Dan yang mungkin paling menggetarkan: Gedung Loji Mataram di Jalan Malioboro milik keraton, dipinjamkan kepada Budi Utomo untuk menggelar kongres pertamanya. Kongres yang kini diingat sebagai benih awal kebangkitan nasional Indonesia. Sultan Sugih, secara sadar atau tidak, menjadi saksi dan fasilitator lahirnya benih-benih itu.
Bahkan Muhammadiyah, organisasi Islam terbesar kedua di Indonesia hari ini, lahir dari lingkar keraton masa ini. KH Ahmad Dahlan adalah abdi dalem yang dikirim belajar ke Arab Saudi, lalu pulang membawa visi pembaruan Islam yang melampaui batas tembok keraton.
“Sejarah tidak bekerja dalam garis lurus. Ia bekerja dalam ironi, dan Hamengkubuwana VII adalah ironi yang berjalan dengan jubah emas.”
PUTRA MAHKOTA YANG GUGUR SATU PER SATU
Inilah bagian yang paling gelap dari kisah ini, dan bagian yang paling jarang diceritakan.
Hamengkubuwana VII punya banyak putra. Tapi takdir atau sesuatu yang lebih jahat dari takdir, mengambil mereka satu per satu dari barisan pewaris.
Putra mahkota pertama, KGPAA Hamengkunegara I, mendadak meninggal dunia. Penyebabnya? Sampai hari ini kabur. Tidak ada catatan resmi yang memuaskan. Ia dikenal sebagai sosok yang sering berbenturan dengan pemerintah Batavia, sering menentang aturan-aturan kolonial. Dan kemudian ia mati. Mendadak.
DEBAT ILMIAH
Dugaan keterlibatan pihak Belanda dalam kematian putra mahkota pertama ini beredar luas dalam ingatan kolektif masyarakat Yogyakarta. Hingga kini belum ada dokumen arsip yang dapat memastikan atau menyangkalnya secara definitif. Ini adalah salah satu titik gelap sejarah keraton yang masih menunggu investigasi serius.
Putra mahkota kedua, Hamengkunegara II, diberhentikan dari posisinya, alasan resminya: kesehatan. Berapa banyak ‘alasan kesehatan’ dalam sejarah kerajaan yang sebenarnya adalah alibi untuk pembungkaman politik?
Putra mahkota ketiga, GRM Putro bergelar Hamengkunegara III, meninggal 21 Februari 1913 setelah sakit keras, tak lama sepulang dari perjalanan ke Kulon Progo.
Tiga putra mahkota. Tiga kali duka. Tiga kali Hamengkubuwana VII harus menelan pahit nasib sambil tetap duduk tegak di singgasana.
Maka yang naik sebagai pengganti adalah putra mahkota keempat, GRM Sujadi, bergelar Gusti Pangeran Harya Purbaya. Bukan pilihan utama. Bukan yang pertama dalam barisan. Tapi ia yang tersisa.
PENGASINGAN DI AMBARUKMO: AKHIR YANG TAK BERMARTABAT?
Pada 29 Januari 1921, Hamengkubuwana VII saat itu 81 tahun, memutuskan turun takhta. Atau lebih tepat: dipaksa untuk memutuskan.
Versi resminya indah: ia ingin madeg pandita, menjadi pertapa, memilih kehidupan spiritual di Pesanggrahan Ambarukmo yang sejuk di luar tembok keraton. Ada sesuatu yang mulia dalam gambaran itu, seorang raja tua yang melepaskan kuasa demi keheningan.
Tapi ada cerita lain yang beredar, turun-temurun, dalam bisikan keluarga dan catatan yang tidak pernah menjadi dokumen resmi: bahwa sang anak, putra mahkota keempat yang kini hendak menjadi Hamengkubuwana VIII, telah menguasai kondisi politik di dalam keraton. Dan sang ayah, yang sudah tua dan rapuh, memilih untuk mikul dhuwur mendhem jero. Menanggung beban dalam diam. Menjaga nama baik keluarga meski harus diasingkan ke pesanggrahan.
Seorang sultan yang dulu memerintah 44 tahun, kini tinggal di luar keraton yang pernah menjadi dunianya. “Tidak pernah ada raja yang meninggal di keraton setelah saya.”
Itulah kata-katanya setelah turun takhta. Kalimat pendek. Ambigu. Penuh luka yang disembunyikan di balik formulasi yang bisa ditafsirkan macam-macam.
Dan ternyata, kalimat itu terbukti benar, dalam ironi yang menyayat:
Hamengkubuwana VIII meninggal bukan di keraton, tapi dalam perjalanan menjemput putra mahkotanya dari Batavia. Hamengkubuwana IX meninggal di Washington D.C., Amerika Serikat.
Seorang raja Jawa yang meninggal di luar rumahnya sendiri adalah noda yang tak terhapus dalam kosmologi Jawa. Dan Hamengkubuwana VII, entah dengan kesadaran profetik atau dengan kepedihan yang disamarkan sebagai kebanggaan telah mengucapkannya terlebih dahulu.
BATAS KLAIM
Catatan tentang ‘pengasingan’ HB VII oleh putranya sendiri bersumber dari tradisi lisan dan kronik tidak resmi. Arsip Belanda dan dokumen resmi keraton menyebutnya sebagai pensiun sukarela demi ‘kehidupan pertapa’. Dua versi ini bisa jadi dua sisi dari koin yang sama, keduanya mungkin benar sekaligus.
WARISAN YANG MASIH BERDIRI
Hamengkubuwana VII meninggal pada 30 Desember 1921. Ia dimakamkan di Astana Saptorenggo, Pajimatan Imogiri, tempat peristirahatan terakhir para sultan Yogyakarta, di atas bukit yang menghadap selatan, ke arah Laut Kidul.
Yang ia tinggalkan bukan hanya 17 pabrik gula yang kini telah mati, bukan hanya rel kereta lori yang sudah berkarat, bukan hanya Pesanggrahan Ambarukmo yang kini menjadi hotel bintang lima berlabel ‘Royal’.
Yang ia tinggalkan adalah Tugu Yogyakarta yang masih tegak di persimpangan Jalan Jenderal Sudirman. Adalah Kridha Beksa Wirama yang melahirkan ribuan penari Jawa. Adalah Muhammadiyah yang kini punya puluhan juta anggota. Adalah semangat kongres Budi Utomo yang bersidang di gedung pinjaman milik keraton, dan dari sana, benih-benih Indonesia mulai tumbuh.
Seorang raja yang kaya. Yang kaya dengan cara yang penuh paradoks. Yang meninggalkan warisan jauh melampaui florin yang diterimanya dari setiap ijin pendirian pabrik gula.
Sejarah tidak selalu menyimpan cerita tentang pahlawan yang bersih dan penjahat yang hitam pekat. Kadang ia menyimpan kisah tentang manusia, manusia yang hidup di antara kekayaan dan ketidakberdayaan, antara kejayaan dan pengasingan, antara warisan yang membanggakan dan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Hamengkubuwana VII adalah manusia itu.
Sumber primer/institusional:
Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat (kratonjogja.id)
BPCB DIY, dua entri (Tanjung Tirto & Pabrik Gula Sewugalur)
Kundha Kabudayan Pemda DIY (Yogyakarta Masa Kolonial)
Pemda DIY (Kridha Beksa Wirama)
Sumber akademik:
Skripsi Delya Ratna Sari, S1 Sejarah UGM, 2019, terverifikasi di etd.repository.ugm.ac.id
Robert van Niel, Sistem Tanam Paksa di Jawa (LP3ES, 2003)
Sri Margana dalam Sugarlandia Revisited (Berghahn Books)
Sumber populer-terpercaya:
Radar Jogja (KBW, 2017)
Intisari Online (Sultan Sugih, 2023)
EMBAS · M. Basyir Zubair · Yogyakarta 04 Mei 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *