Yogyakarta,REDAKSI17.COM – Pemda DIY resmi meluncurkan Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) untuk mencetak Jalma Kang Utama atau manusia unggul yang matang secara batiniah dan luhur dalam perilaku. Langkah ini merupakan strategi besar untuk menjaga jati diri generasi muda agar tidak tercerabut dari akar budayanya di tengah pesatnya kemajuan teknologi.
Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, menegaskan bahwa tantangan pendidikan saat ini bukan sekadar melahirkan manusia yang cerdas secara akademik. Hal tersebut disampaikan beliau dalam acara Byawara dan Launching Pendidikan Khas Kejogjaan yang berlangsung pada Senin (04/05) di SMA 6 Yogyakarta.
“Tantangannya bukan hanya bagaimana melahirkan manusia yang cerdas, tetapi juga bagaimana membentuk manusia yang utuh. Sebab kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, tanpa disertai kedewasaan nilai, dapat membuat manusia kehilangan arah, bahkan tercerabut dari akar budayanya sendiri,” tegas Sri Sultan.
Sri Sultan menjelaskan bahwa PKJ bukanlah sebuah program administratif belaka, melainkan sebuah gerakan kebudayaan yang bersumber dari falsafah luhur Hamemayu Hayuning Bawana. Falsafah ini menuntun manusia untuk selalu menjaga harmoni antara sesama, alam, dan Tuhan dalam setiap sendi kehidupan.
Melalui gerakan ini, diharapkan lahir generasi yang memiliki jiwa satriya, yakni sawiji, greget, sengguh, lan ora mingkuh. “Pendidikan tidak boleh dipahami sebagai proses pengajaran, melainkan juga sebagai proses pembudayaan. Pendidikan harus menjadi ruang bertemunya pengetahuan, karakter, dan kesadaran hidup,” lanjut Sri Sultan.
Karakter tersebut dipercaya akan membentuk pribadi yang karyenak tyasing sasama, atau mereka yang mampu menghadirkan ketenteraman bagi sesama manusia. Hal ini menjadi fondasi penting agar kemajuan intelektual tetap diiringi dengan kepekaan sosial yang tinggi.
Lebih lanjut, Sri Sultan menekankan bahwa keberhasilan pendidikan karakter ini tidak bisa hanya dibebankan kepada guru di ruang kelas semata. Efektivitas PKJ sangat bergantung pada sinergi ekosistem yang kuat antara keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat.
“Pendidikan tidak hanya berlangsung di sekolah. Pendidikan berasal dari keluarga, sekolah, dan masyarakat. Bahkan lebih luas lagi, ia bertumpu pada sinergi Kraton, Kampus, dan Kampung yang menjadi ekosistem hidup bagi tumbuhnya karakter generasi,” jelas Sri Sultan.
Peluncuran ini menandai babak baru di mana Pendidikan Khas Kejogjaan mulai diimplementasikan secara konkret dalam kurikulum dan kehidupan sehari-hari. Sri Sultan mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk tidak berhenti pada tataran teori, melainkan benar-benar menghidupkan nilai-nilai tersebut.
“Peluncuran hari ini adalah penanda penting bahwa Pendidikan Khas Kejogjaan telah beranjak dari gagasan menuju gerakan nyata. Dari konsep menuju implementasi. Dari wacana menuju pembudayaan,” tegas Sri Sultan.
Sri Sultan menyebut ngèlmu iku kalakoné kanthi laku, sebagai pengingat bahwa ilmu sejati hanya akan bermakna jika diwujudkan melalui tindakan nyata. Melalui PKJ, Pemerintah DIY optimistis dapat melahirkan generasi yang berbudaya dan mampu membawa kemaslahatan bagi bangsa serta dunia.
Plt. Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga DIY, Muhammad Setiadi, dalam laporannya menyebut implementasi PKJ di DIY menunjukkan tren positif. Capaian indeks karakter peserta didik dinilai sangat memuaskan melalui evaluasi awal yang menunjukkan skor 4,1 dari skala 5.
Angka ini merupakan buah dari proses panjang pengembangan kurikulum yang dimulai sejak tahun 2019. Program ini awalnya terinspirasi dari pidato ilmiah Sri Sultan Hamengku Buwono X saat penganugerahan Doktor Honoris Causa di Universitas Negeri Yogyakarta yang menekankan pentingnya karakter berbasis budaya.
Setiadi menjelaskan bahwa PKJ tidak disusun secara instan, melainkan melalui proses partisipatif yang melibatkan banyak pihak. Sejak tahun 2022, Disdikpora DIY telah menggelar berbagai Focus Group Discussion (FGD) dengan melibatkan perguruan tinggi, organisasi pendidikan, hingga tokoh masyarakat.
“Pada tahun 2023, tim pengembang kemudian menyusun substansi utama yang menghasilkan empat buku panduan PKJ. Buku-buku tersebut mencakup buku induk serta panduan untuk jenjang pendidikan dasar, menengah, hingga pendidikan tinggi,” papar Setiadi.
Nilai-nilai utama yang diusung dalam PKJ bersifat inklusif dan kolaboratif. Materi PKJ menyerap nilai luhur dari Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, Kadipaten Pakualaman, Taman Siswa, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, yang dipadukan dengan nilai-nilai pendidikan modern.
Implementasi PKJ di satuan pendidikan tidak hanya berhenti sebagai mata pelajaran sejarah saja. Nilai-nilai tersebut diintegrasikan langsung dalam budaya sekolah dan praktik kehidupan sehari-hari di lingkungan pendidikan guna memastikan siswa benar-benar menghidupi budaya tersebut.
Keberlanjutan program ini didukung penuh oleh Dana Keistimewaan (Danais) DIY serta kolaborasi lintas sektoral. Setelah melalui tahap bimbingan teknis bagi guru dan dosen pada 2024 serta evaluasi dampak pada 2025, PKJ siap melangkah ke tahap yang lebih luas.
Ke depan, Pendidikan Khas Kejogjaan akan diterapkan secara bertahap pada jenjang PAUD, SD, SMP, hingga SMA/SMK di seluruh wilayah Yogyakarta. Momentum peluncuran ini pun menjadi komitmen bersama untuk memperkuat pendidikan karakter berbasis budaya sebagai standar resmi pendidikan di Bumi Mataram.
Humas Pemda DIY





