Yogyakarta,REDAKSI17.COM – Tak semua orang keluar dari ruang pamer Artjog 2026 di Jogja National Museum (JNM), Yogyakarta, hanya membawa foto-foto indah. Sebagian pulang dengan pertanyaan baru, sebagian lagi membawa renungan tentang manusia, bumi, hingga masa depan. Itulah yang dirasakan Flea dan Jona, dua siswa SMA asal Bantul dan Sleman, serta Said Ibrahim Fariz, wisatawan asal Brunei Darussalam, setelah menelusuri lorong demi lorong pameran seni rupa kontemporer tahunan tersebut.
Bagi Flea, siswi SMA asal Banguntapan, Bantul, kunjungan ke Artjog bukanlah yang pertama. Pengalaman berkunjung beberapa waktu lalu justru membuatnya penasaran untuk kembali melihat karya-karya terbaru yang dipamerkan tahun ini.
“Aku memang suka seni. Setiap datang ke Artjog selalu ada pengalaman baru. Kali ini seru banget karena banyak art style yang eye-catching, permainan warna dan kontrasnya menarik. Namun, yang paling berkesan adalah cerita di balik setiap karya yang sangat dalam,” ujarnya.
Pengalaman serupa dirasakan Jona, siswa SMA asal Sleman yang menemani Flea. Selama hampir dua jam berkeliling di area pameran, ia mengaku tidak hanya menikmati karya seni secara visual, tetapi juga merasakan pengalaman interaktif yang membuat pengunjung menjadi bagian dari karya itu sendiri.
“Tadi ada karya yang membuat kita seperti dikunci di dalam penjara, ada juga yang mengajak membuat kartu pos menggunakan stempel. Pengalaman seperti ini benar-benar unforgettable. Temanya juga dekat dengan kehidupan, mulai dari isu lingkungan, kemanusiaan, pemerintahan, hingga berbagai persoalan sosial yang sedang terjadi,” katanya.
Tak hanya memikat pengunjung dari dalam negeri, Artjog juga menghadirkan pengalaman berkesan bagi wisatawan mancanegara. Said Ibrahim Fariz asal Brunei Darussalam mengaku datang ke Artjog atas rekomendasi seorang temannya. Semula ia tidak memiliki ekspektasi tinggi, namun pandangannya berubah setelah menyaksikan karya demi karya yang dipamerkan.
“Saya sangat tergerak. Karya-karya di sini berbicara tentang kemanusiaan, kesadaran, sejarah, dan harapan. Para senimannya begitu berani menyampaikan pendapat untuk perubahan, bukan hanya bagi Indonesia tetapi juga dunia. Ini kunjungan pertama saya ke Artjog dan benar-benar luar biasa. Semua orang yang datang ke Yogyakarta harus merasakan pengalaman ini,” ungkap Ibrahim.
Antusiasme tersebut tercermin dari jumlah kunjungan yang terus bertambah. Hingga Selasa (4/8), Artjog 2026 telah dikunjungi lebih dari 50 ribu orang. Pameran yang berlangsung di Jogja National Museum (JNM) sejak Jumat (19/6) hingga Minggu (30/8) 2026 ini dibuka setiap hari, termasuk hari libur nasional, pukul 10.00–22.00 WIB.
Tahun ini, Artjog mengawali trilogi “Ars Longa” untuk periode 2026–2028 melalui tema “Ars Longa: Generatio”. Pameran ini menegaskan seni sebagai ruang refleksi yang tetap relevan menghadapi perubahan sosial, politik, teknologi, dan ekologi. Tema tersebut merupakan interpretasi atas ungkapan ars longa atau “seni itu panjang”, yang menegaskan bahwa seni selalu relevan dan menjadi bagian penting dalam perjalanan peradaban manusia.
Kurator Artjog 2026–2028 Farah Wardani mengatakan, “Ars Longa Trilogia” menjadi tema besar Artjog periode 2026–2028 yang menekankan relevansi seni yang terus berlanjut di tengah berbagai tantangan zaman.
“Melalui Ars Longa: Generatio, kami ingin mendorong dialog antargenerasi dalam praktik seni, membayangkan kembali peran dan relevansi sosial seni di berbagai rentang usia, serta menyoroti perannya dalam membentuk kelangsungan hidup dan perspektif masa depan umat manusia dan planet ini,” ujar Farah.
Pada seri perdana trilogi tersebut, Roby Dwi Antono didapuk sebagai seniman komisi (Commissioned Artist). Melalui karya utamanya, Generatio: Cyclus Vitae, Roby menerjemahkan tema tersebut melalui karya pada fasad, rangkaian patung tiga dimensi, dan ruang imersif yang mengajak pengunjung berinteraksi langsung dengan karya seni.
Selain pameran utama, Artjog 2026 menghadirkan berbagai program pendukung, antara lain performa•Artjog, Artjog Kids, Exhibition Tour, Meet the Artist, dan diskusi publik. Artjog juga menyediakan layanan inklusif LoveArtjog untuk mendampingi pengunjung difabel menikmati seluruh rangkaian pameran secara nyaman dan setara.
Melalui perpaduan karya visual, instalasi interaktif, dan refleksi atas berbagai persoalan kemanusiaan, Artjog 2026 kembali menegaskan Yogyakarta sebagai salah satu pusat seni kontemporer Indonesia. Bagi Flea, Jona, Ibrahim, dan puluhan ribu pengunjung lainnya, kunjungan ke Artjog bukan sekadar melihat karya seni, melainkan mengalami bagaimana seni terus hidup, berdialog dengan manusia, dan memberi makna di tengah perubahan zaman.
Humas Pemda DIY





