Yogyakarta,REDAKSI17.COM – Pengendalian inflasi kini tak bisa lagi mengandalkan kekuatan daerah secara parsial. Di tengah tekanan cuaca ekstrem dan ketidakpastian pasokan pangan, sinergi antardaerah menjadi kunci. DIY dan Bengkulu pun memperkuat kolaborasi melalui skema kerja sama antardaerah (KAD) sebagai langkah strategis mengawal stabilitas pangan dan mengendalikan inflasi.
Penguatan sinergi tersebut mengemuka dalam forum Capacity Building dan Benchmarking Visit TPID se-Provinsi Bengkulu ke TPID DIY di Hotel Melia Purosani, Selasa (5/5). Forum ini menjadi ruang berbagi praktik baik sekaligus mempertegas komitmen lintas wilayah dalam mengendalikan inflasi secara lebih terintegrasi.
Hadir dalam kegiatan ini Gubernur Bengkulu Helmi Hasan bersama Sekda Bengkulu Herwan Antoni, para bupati, serta Kepala Perwakilan Bank Indonesia Bengkulu Wahyu Yuwana Hidayat. Dari DIY, Sekda DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti didampingi Staf Ahli Gubernur Noviar Rahmad, Kepala Perwakilan BI DIY Sri Darmadi Sudibyo, Bupati Kulon Progo Agung Setyawan, Kepala Biro Perekonomian dan SDA Setda DIY Eling Priswanto, TPID DIY, serta sejumlah pemangku kepentingan terkait.
Sekda DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti menegaskan stabilitas inflasi merupakan fondasi penting bagi keberlanjutan pembangunan daerah. Inflasi yang terkendali tidak hanya menjaga daya beli masyarakat, tetapi juga memberikan kepastian bagi dunia usaha dan memperkuat ketahanan ekonomi daerah. “TPID dituntut tidak hanya responsif terhadap gejolak harga, tetapi juga antisipatif melalui pemetaan risiko, penguatan data, koordinasi lintas sektor, serta inovasi kebijakan yang tepat sasaran,” ujarnya.
Menurut Ni Made, tantangan ke depan semakin kompleks, terutama akibat perubahan iklim yang memicu cuaca ekstrem, ketidakpastian musim, hingga gangguan produksi pangan. Kondisi tersebut berpotensi memicu ketidakseimbangan pasokan dan harga, sehingga diperlukan langkah pengendalian yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Dalam konteks ini, kerja sama antardaerah (KAD) menjadi instrumen kunci.
Ni Made menekankan tidak ada satu daerah pun yang mampu memenuhi seluruh kebutuhan pangannya secara mandiri. “Melalui KAD, potensi surplus dan defisit antarwilayah dapat dipertemukan secara terencana, sehingga rantai pasok lebih kuat dan fluktuasi harga dapat ditekan,” jelasnya.
Sekda DIY juga mengingatkan bahwa tantangan perubahan iklim yang semakin nyata, seperti cuaca ekstrem dan pola musim yang tidak menentu, berdampak langsung pada produksi pangan. Kondisi ini membuat sejumlah komoditas strategis rentan terganggu pasokannya. “Situasi ini menuntut TPID semakin cermat membaca dinamika lapangan dan memperkuat langkah antisipatif,” imbuh Ni Made.
Senada, Kepala Perwakilan BI DIY Sri Darmadi Sudibyo menyoroti pentingnya KAD sebagai respons atas ketimpangan struktur produksi dan konsumsi pangan antarwilayah. Berdasarkan data BPS, sebagian besar daerah masih bergantung pada pasokan dari wilayah lain, khususnya untuk komoditas strategis seperti beras, cabai, dan bawang merah.
“Kerja sama harus berbasis data stok yang akurat dan mutakhir, mencakup produksi, konsumsi, hingga cadangan. Dengan begitu, intervensi kebijakan bisa tepat waktu dan sesuai kebutuhan riil,” ungkap Sudibyo.
DIY sendiri telah aktif menjalin KAD, khususnya untuk komoditas hortikultura seperti cabai, dengan sejumlah daerah seperti Riau, Jambi, Palembang, dan Lampung, serta menjajaki kerja sama dengan NTT dan Kalimantan Selatan. Selain itu, TPID DIY menguatkan strategi pengendalian inflasi melalui kerangka 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
Berbagai inovasi pun terus digulirkan, mulai dari penguatan Kios Segoro Amarto, Warung MRANTASI, hingga Toko Kendil Simbok sebagai price reference store. Edukasi kepada masyarakat juga digencarkan melalui program MRANTASI yang menyasar pedagang, pelajar, santri, hingga komunitas rumah tangga. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran publik sekaligus memperkuat ketahanan pangan dari tingkat bawah.
Gubernur Bengkulu Helmi Hasan dalam arahannya menyampaikan apresiasi atas sambutan Pemda DIY dan menegaskan pentingnya kolaborasi lintas daerah dalam mengendalikan inflasi. Isu inflasi merupakan persoalan nasional yang memerlukan sinergi kuat antara pemerintah daerah dan Bank Indonesia.
“Kerja sama TPID seperti ini harus dioptimalkan agar memberi dampak nyata. Kami optimistis kolaborasi Bengkulu dan DIY akan semakin memperkuat pengendalian inflasi dan pemerataan ekonomi di daerah,” pungkasnya.
Humas Pemda DIY




