Beranda / Daerah / Bergada Tegal Siyogo, Kesiapsiagaan Warga Menjaga Tradisi Tegalpanggung

Bergada Tegal Siyogo, Kesiapsiagaan Warga Menjaga Tradisi Tegalpanggung

 

Yogyakarta,REDAKSI17.COM – Kelurahan Tegalpanggung, Kemantren Danurejan, merupakan salah satu wilayah yang memiliki posisi penting dalam lanskap Kota Yogyakarta. Kelurahan ini menjadi bagian dari kawasan penyangga sumbu filosofis Yogyakarta, sekaligus berada di titik strategis antara Stasiun Lempuyangan dan kawasan Malioboro.

Letak tersebut membuat Tegalpanggung tumbuh sebagai ruang kampung kota yang dinamis. Di satu sisi, wilayah ini berada dekat dengan pusat pergerakan wisata dan transportasi. Di sisi lain, kehidupan masyarakatnya tetap kuat dengan identitas kampung, aktivitas seni, dan tradisi yang dijaga secara turun-temurun.

Kawasan Tegalpanggung juga memiliki potensi ekonomi yang terus berkembang. Banyak usaha homestay, persewaan kendaraan bermotor, kuliner, dan jasa pendukung wisata tumbuh subur sebagai sumber penghidupan warga. Keberadaan Kampung Kuliner Tegal Kemuning dan Kampung Wisata Seni Tukangan turut memperkuat wajah Tegalpanggung sebagai kawasan yang menghubungkan aktivitas ekonomi, pariwisata, dan kebudayaan masyarakat.

Di tengah geliat ekonomi tersebut, Tegalpanggung juga terus merawat kekuatan seni-budaya lokal. Dukungan Dana Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta hadir untuk menguatkan berbagai kegiatan kebudayaan masyarakat, mulai dari bergada, barongan, jatilan, reog Suro Menggolo, gejog lesung, hingga laras gamelan slendro.

Salah satu identitas budaya yang menonjol dari wilayah ini adalah Bergada Tegal Siyogo. Kelompok seni keprajuritan rakyat bergaya Mataram ini tumbuh dari Kampung Wisata Tegalpanggung, Kemantenan, Danurejan, Kota Yogyakarta. Keberadaannya menjadi wujud nyata bagaimana tradisi keprajuritan Jawa tetap hidup di tengah masyarakat kampung kota.

Nama Tegal Siyogo memiliki makna yang dekat dengan karakter masyarakat setempat. “Tegal” merujuk pada Tegalpanggung sebagai wilayah asal. Sementara “Siyogo” mengandung semangat kesiapsiagaan warga. Makna ini menggambarkan masyarakat yang siap bergerak bersama, menjaga lingkungan, memperkuat gotong royong, serta merawat tradisi sebagai bagian dari identitas kampung.

Sebagai kelompok bergada rakyat, Bergada Tegal Siyogo lahir dan bergerak dari prakarsa masyarakat. Kelompok ini berbeda dengan bergada keraton atau prajurit resmi istana. Bergada rakyat tumbuh dari ruang sosial warga, digerakkan oleh semangat kebersamaan, dan menjadi sarana untuk menghidupkan kembali nilai keprajuritan Mataram dalam bentuk seni pertunjukan, kirab budaya, dan kegiatan kampung.

Dalam setiap penampilan, Bergada Tegal Siyogo menghadirkan unsur tata baris, kostum, musik, aba-aba, dan formasi yang khas. Barisan biasanya diawali oleh manggala atau panji sebagai pemimpin pasukan, disusul pembawa bendera, korps ungel-ungel atau pemusik, serta prajurit jajar yang membawa perlengkapan seperti tombak maupun replika senjata kayu.

Korps musik pengiring menjadi bagian penting dalam penampilan bergada. Instrumen seperti tambur, suling miring, bendhe, kecer, simbal, dan slompret digunakan untuk mengatur irama langkah pasukan. Dari irama tersebut, para anggota dapat bergerak dalam lampah macak yang pelan, anggun, dan berwibawa, maupun lampah rikat yang lebih cepat seperti gerak mars keprajuritan.

Keunikan lain Bergada Tegal Siyogo terlihat dari penggunaan aba-aba berbahasa Jawa. Komando seperti “Siyaga yitna… gya”, “Tindak… gya”, “Kendel… gya”, dan “Mulyani… gya” menjadi bagian dari tata keprajuritan rakyat yang membedakannya dari baris-berbaris modern. Bahasa Jawa dalam hal ini tidak hanya menjadi alat perintah, tetapi juga penanda nilai, rasa, dan identitas budaya.

Bagi Kampung Wisata Tegalpanggung, keberadaan Bergada Tegal Siyogo memiliki peran yang penting. Kelompok ini menjadi atraksi budaya untuk menyambut wisatawan, mengawal kirab, memeriahkan upacara adat, merti kampung, pawai kemerdekaan, maupun kegiatan budaya lain di wilayah setempat. Latihan dan pementasan yang dilakukan secara berkala juga menjadi ruang pertemuan warga lintas usia, sehingga tradisi dapat diwariskan secara langsung melalui keterlibatan masyarakat.

Dukungan Dana Keistimewaan memberi penguatan bagi keberlanjutan kegiatan kebudayaan tersebut. Melalui urusan kebudayaan, Danais dapat mendukung kebutuhan bergada, antara lain untuk pengadaan dan perawatan kostum, atribut, alat musik ungel-ungel, perlengkapan kirab, pelatihan, serta partisipasi dalam festival budaya. Dengan dukungan tersebut, pelestarian tradisi tidak hanya bertumpu pada swadaya warga, tetapi juga memperoleh penguatan kelembagaan yang lebih terarah.

Bergada Tegal Siyogo juga telah menunjukkan kualitasnya dalam ekosistem festival budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta. Keseragaman formasi, kedisiplinan baris-berbaris, kekompakan pasukan, serta kekhasan kostum membuat kelompok ini dikenal sebagai salah satu bergada rakyat yang memiliki daya tarik. Salah satu capaian yang pernah diraih adalah predikat Penyaji Terbaik 2 dalam Festival Bergada DIY.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa tradisi yang tumbuh dari kampung dapat menjadi kebanggaan bersama. Dari Tegalpanggung, Bergada Tegal Siyogo membawa pesan bahwa kebudayaan tidak hanya hidup dalam ruang seremoni besar, tetapi juga dalam latihan warga, musyawarah kampung, kirab di jalanan, serta keterlibatan masyarakat yang menjaganya dengan konsisten.

Ke depan, keberadaan Bergada Tegal Siyogo dapat semakin dipadukan dengan potensi ekonomi dan pariwisata Tegalpanggung. Posisi wilayah yang dekat dengan Stasiun Lempuyangan dan Malioboro, tumbuhnya homestay dan persewaan kendaraan, serta berkembangnya kampung kuliner dan kampung wisata seni menjadi modal penting untuk membangun paket wisata berbasis budaya kampung.

Dengan kekuatan tersebut, Tegalpanggung memiliki peluang untuk memperkuat diri sebagai kelurahan penyangga sumbu filosofis yang tidak hanya strategis secara lokasi, tetapi juga kuat secara identitas. Bergada Tegal Siyogo menjadi salah satu penandanya: warga yang siyogo menjaga tradisi, siyogo memperkuat gotong royong, dan siyogo menjadikan budaya sebagai bagian dari ketahanan sosial serta ekonomi kampung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *