KULON PROGO,REDAKSI17.COM – Dalam rangka menjaga keseimbangan alam semesta, umat Buddha di Kulon Progo,, menggelar upacara adat dan keagamaan bertajuk Tribuana Manggala Bhakti. Kegiatan yang dipusatkan di kawasan ekowisata Taman Sungai Mudal, Kamis 14 Mei 2026 ini, menjadi bagian penting dari rangkaian Vesaka Sananda atau peringatan Waisak di wilayah DIY.
Gerakan kultural bernuansa religi ini telah diinisiasi pada tahun 2015. Tribuana Manggala Bhakti menjadi bentuk ekoteologi yang memadukan ajaran Buddha dengan kearifan lokal Jawa untuk merawat lingkungan hidup.
Ketua Panitia Tribuana Manggala Bhakti 2026, Surahman, menjelaskan, kegiatan tahun ini memiliki relevansi yang sangat kuat dengan kebijakan nasional. Gerakan ini selaras dengan pencanangan ekoteologi oleh Menteri Agama pada tahun 2024 sebagai bagian dari Asta Protas (Program Prioritas Menteri Agama).
“Kami ingin menunjukkan bahwa agama bukan hanya soal ritual di dalam rumah ibadah, melainkan aksi nyata di lapangan. Melalui Tribuana Manggala Bhakti, kami
menerjemahkan pesan agama untuk menyelamatkan lingkungan hidup sebagai ‘ibu’ dari semua makhluk,” ujarnya.
Menurutnya, pemilihan landasan budaya dalam gerakan ini didasari oleh kesadaran akan keluhuran peradaban Nusantara.
“Sesuatu yang dibalut dengan budaya akan lebih mudah diterima dan terpatri dalam diri masyarakat. Ini adalah upaya agar gerakan pelestarian alam bisa bertahan lama dan tidak mudah punah,” ucapnya.
Secara filosofis, Tribuana Manggala Bhakti menggali inspirasi dari peninggalan peradaban luhur pada dinding candi-candi Buddhis seperti Borobudur, Pawon, dan Mendut. Relief Pohon Kalpataru (Kalpawreksa) yang melambangkan pohon surgawi pembawa berkah dan keseimbangan semesta, menjadi ruh dalam kegiatan ini.
Surahman menjelaskan, ada tiga matra utama alam yang menjadi fokus perhatian dalam upacara Tribuana Manggala Bhakti, yakni Matra Bumi, Matra Air, dan Matra Cahaya/Udara.
Ia menambahkan, Kegiatan yang dihadiri sekitar 350 umat Buddha dari Kulon Progo dan berbagai daerah di DIY ini dimulai dengan pengambilan air suci Waisak (Tirta Amerta) di sumber mata air Sungai Mudal oleh Bhikkhu Atthamedo dan Bhikkhu Uggasanto bersama para sesepuh umat. Setelah Puja Bhakti, kemudian dilakukan melalui beberapa tahapan simbolis Penanaman pohon penyangga air, Pelepasan satwa burung endemik Kulon Progo, seperti kutilang dan trotokan dsn Pelepasan 3.000 benih ikan di aliran Sungai Mudal sebagai wujud syukur atas ketersediaan air yang menghidupi semua makhluk.
Surahman menambahkan, Keunikan lain dari Tribuana Manggala Bhakti adalah kuatnya semangat gotong royong lintas iman. Dalam persiapannya, umat Buddha dibantu oleh warga dari berbagai latar belakang agama. Kehadiran tokoh agama lain, seperti Penyelenggara Katolik Kemenag Kulon Progo, Setiyanto, serta tokoh-tokoh agama lokal di Jatimulyo, mempertegas bahwa isu lingkungan adalah area universal yang menembus sekat-sekat primordial.
“Lingkungan alam adalah tempat bernaung semua pihak, baik manusia, hewan, maupun tumbuhan. Di sini tidak ada sekat. Kita semua memiliki hutang budi pada alam, dan hari ini kita membayar sebagian kecil dari hutang itu dengan rasa persaudaraan semesta,” ujarnya.
Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Buddha Kanwil Kementerian Agama DIY, Pandu Dinata, mengatakan, Tribuana Manggala Bhakti 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian perayaan Waisak di Yogyakarta yang dikenal dengan nama Vesaka Sananda. Tribuana Manggala Bhakti merupakan wujud nyata implementasi dari Asta Protas, yang merupakan turunan dari program Asta Cita Presiden Republik Indonesia. Fokus utama dari kegiatan ini adalah pengembangan ekoteologi, sebuah konsep yang mengajak umat beragama untuk memberikan dampak positif bagi lingkungan.
“Implementasi ekoteologi adalah bagaimana menjadi umat beragama yang berdampak, khususnya terhadap lingkungan dan kelestarian alam,” ujar Pandu Dinata.
Pandu Dinata mengungkapkan, karena adanya efisiensi anggaran di pemerintahan, program bantuan pengembangan budaya untuk sementara ditiadakan. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan semangat umat Buddha di Yogyakarta.
Kegiatan Tribuana Manggala Bhakti 2026 ini berhasil terlaksana sepenuhnya melalui dana mandiri, partisipasi sukarela, serta bantuan dari para donatur dan relawan.
“Kami berharap tradisi yang telah berjalan ini dapat terus lestari dengan sinergi antara pemerintah dan umat, salah satunya dengan dukungan anggaran yang lebih baik. Kami memberikan contoh bagaimana beragama yang tidak egois. Dengan mencintai lingkungan, berarti kita mencintai diri sendiri dan agama kita,” ujarnya.





