UMBULHARJO,REDAKSI17.COM – Kota Yogyakarta terus memperkuat posisinya sebagai kota festival melalui berbagai kolaborasi antara pemerintah dan pelaku industri kreatif. Salah satunya dengan menyelenggarakan Jogja Festivals and Forum Expo (JFFE) Impact Dialogue 2026 yang berlangsung di Gaia Cosmo Hotel, Rabu (20/5).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi ekosistem festival agar mampu menjadi katalisator ekonomi kreatif sekaligus meningkatkan daya tarik wisata Kota Yogyakarta.
Laporan tersebut menjadi refleksi sekaligus pemetaan strategis perkembangan ekosistem festival yang dibangun melalui berbagai rangkaian kegiatan JFFE 2026, mulai dari Symposium, Forum Festival dan Industri Pariwisata, Forum Festival dan Ekonomi Kreatif, hingga Festival Investment & Partnership Forum melalui program Business Matching Festival.
Sejumlah dampak yang diharapkan dari penguatan ekosistem festival tersebut antara lain terciptanya festival berkelanjutan, peningkatan ekonomi lokal, peningkatan investasi, serta penguatan posisi Yogyakarta sebagai City of Festival.
Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan mengatakan, Kota Yogyakarta memiliki keterbatasan ruang dan sarana prasarana. Namun menurutnya, keterbatasan tersebut justru harus menjadi pemicu lahirnya kreativitas dalam mengembangkan festival dan event di Kota Yogyakarta.
“Kota Yogyakarta ini punya keterbatasan tempat dan sarana prasarana. Karena itu perlu orang-orang kreatif dan berani untuk menghadirkan konsep-konsep baru agar festival dan event di Kota Yogya terus berkembang,” ujarnya.
Wawan Harmawan juga menilai sinergi antara pemerintah, pelaku kreatif, komunitas, dan sektor swasta menjadi kunci utama dalam membangun ekosistem festival yang berdampak luas bagi masyarakat. Ia juga menekankan pentingnya perubahan pola pikir aparatur pemerintah agar lebih terbuka terhadap kolaborasi dan ide-ide kreatif.
Menurutnya, masih banyak ruang dan potensi di Kota Yogyakarta yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung penyelenggaraan event maupun festival, termasuk kawasan di Jogja Selatan dan sejumlah area milik pemerintah yang belum dimanfaatkan secara optimal.
“Kuncinya adalah keberanian untuk melangkah, keberanian untuk menata lebih baik, dan keberanian membuka diri. Kalau anggaran terbatas, justru kita harus lebih kreatif melalui sinergi dan kolaborasi,” katanya.
Ia berharap kolaborasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD), pemerintah provinsi, hingga komunitas kreatif dapat terus diperkuat sehingga kegiatan festival tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling mendukung dan memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi Kota Yogyakarta.
Dalam forum tersebut, Jogja Festivals juga meluncurkan JFFE 2026 Impact Dialog dengan tema “From Forum to Action: Extending the Impact of JFFE.” Pemkot Yogyakarta menyambut baik peluncuran Festicity sebagai inisiatif pengembangan paket wisata berbasis festival di Yogyakarta.
Platform tersebut diharapkan mampu menghubungkan festival dengan sektor pariwisata, akomodasi, transportasi, kuliner, hingga pengalaman budaya lokal.
Ketua Jogja Festivals, Heri Pemad, menyampaikan bahwa saat ini festival tidak lagi dipandang sekadar ruang perayaan atau penyelenggaraan acara semata. “Festival telah berkembang menjadi penggerak ekonomi kreatif, alat penguatan identitas kota, ruang kolaborasi lintas sektor, dan berpotensi menjadi aset ekonomi yang memiliki dampak jangka panjang,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, hasil analisis JFFE menunjukkan ekosistem festival Indonesia memiliki potensi besar dengan keterlibatan aktif komunitas, pelaku kreatif, pemerintah, industri, dan mitra strategis. Namun demikian, masih terdapat sejumlah tantangan, terutama terkait model bisnis, pipeline proyek, hingga mekanisme investasi yang terstruktur.
Sementara itu, Direktur Jogja Festivals, Dinda Intan Pramesti Putri mengatakan, Festicity hadir untuk menjawab kebutuhan ekosistem festival yang selama ini berjalan secara terpisah.
“Festicity kami bayangkan bukan hanya sebagai platform tiket atau katalog festival. Festicity merupakan ruang yang menghubungkan festival, perjalanan, pelaku kreatif, dan berbagai kemungkinan kolaborasi ke dalam satu ekosistem yang saling menguatkan,” ujarnya.
Ke depan, Festicity akan membuka ruang kolaborasi lebih luas dengan tour operator, travel partner, hingga penyedia pengalaman wisata untuk mengembangkan model festival tourism package yang menghubungkan festival dengan berbagai sektor pendukung pariwisata.
Ia berharap, festival diharapkan tidak hanya menjadi alasan wisatawan datang ke suatu kota, tetapi juga menjadi pintu masuk bagi pengalaman wisata yang lebih menyeluruh serta berdampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi lokal. (Hes)