Beranda / Wisata dan Kuliner / Lindungi Identitas Lele Asap Banaran, Pemkab Kulon Progo Ajukan Indikasi Geografis

Lindungi Identitas Lele Asap Banaran, Pemkab Kulon Progo Ajukan Indikasi Geografis

Mujazin produsen lele asap dari Padukuhan Nepi, Kalurahan Kranggan, Kapanewon Galur, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Wisata kuliner lele asap dari Kampung Lele Asap juga masuk dalam katalog wisata Banaran ini.(KOMPAS.COM/DANI JULIUS)

 

KULON PROGO, REDAKSI17.COM— Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kulon Progo mendorong indikasi geografis (IG) untuk lele asap khas Padukuhan Jati, Kalurahan Banaran, Kapanewon Galur, Kabupaten Kulon Progo. Di saat yang sama, pemerintah juga menyiapkan kawasan tersebut sebagai destinasi wisata kuliner berbasis masyarakat. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kulon Progo, Drajat Purbadi mengatakan, pengajuan IG dilakukan untuk melindungi identitas lele asap yang diproduksi masyarakat secara turun-temurun sejak puluhan tahun lalu.

“Lele asap ini sudah menjadi aset Kulon Progo. Produk ini banyak keluar daerah sehingga kami ingin memastikan identitasnya tetap melekat sebagai milik Banaran dan Kulon Progo,” kata Drajat saat ditemui di Kampung Lele Asap, Padukuhan Jati, Rabu (20/5/2026). Menurut Drajat, proses pengajuan IG masih berlangsung melalui fasilitasi Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia.

Ide Kreatif Menyulap Limbah Menjadi Anugerah Artikel Kompas.id Tahapan yang disiapkan meliputi proposal, dokumen pendukung, hingga penyusunan narasi sejarah dan keunikan produk. Pengasapan Lele sejak Puluhan Tahun Salah satu ciri khas lele asap Banaran terletak pada teknik pengasapan menggunakan sabut kelapa yang menghasilkan aroma smoky khas.

Ketua Kampung Lele Asap, Dedy Tri Hermawan, mengatakan pada awalnya masyarakat mengolah ikan air tawar hasil tangkapan sungai di sekitar kampung. Sejak 1980-an, bahan baku mulai beralih ke lele dan bertahan hingga sekarang. Saat ini terdapat delapan UMKM pengolah lele asap di Padukuhan Jati dan satu UMKM di Padukuhan Nepi, Kalurahan Kranggan. Mereka mendapat pasokan lele dari berbagai wilayah di Kulon Progo.

“Sekarang suplai dari tengkulak sangat sulit. Kalaupun ada, ukurannya banyak yang di bawah standar,” kata Dedy. Selain persoalan bahan baku, tantangan lain adalah lele asap yang tidak dikenal luas dalam masyarakat Kulon Progo. Sebaliknya, lele asap Jati ini justru lebih dikenal di wilayah Bantul dan sekitarnya, seperti Pasar Mangiran, Niten, hingga Pasar Bantul. “Di Kulon Progo sendiri masih banyak yang belum tahu ada lele asap,” katanya.

Di Padukuhan Nepi, pelaku usaha lele asap Mujazin (56) masih mempertahankan teknik pengasapan tradisional warisan keluarganya. Baca juga: Padukuhan Jati Kulon Progo Bakal Jadi Kampung Lele, Pertahankan Pengasapan Tradisional Ia mulai menekuni usaha tersebut sejak 2011, meski tradisi pengasapan sudah berlangsung sejak generasi kakeknya. “Kita sebelumnya dari mbah, jadi sudah tiga turunan,” kata Mujazin.

Dalam sehari, Mujazin memproduksi sekitar 60–70 kilogram lele asap yang dipasarkan ke Yogyakarta, Semarang, hingga luar Pulau Jawa melalui penjualan langsung maupun daring. Selain lele asap, kelompok pengolah di wilayah tersebut juga mengembangkan berbagai produk turunan seperti abon lele, donat lele, dan mangut lele.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *