Kisah dua jenderal Kopassus, Benny Moerdani dan Edi Sudrajat, adalah contoh luar biasa dari hubungan atasan dan bawahan yang kemudian sama-sama mencapai puncak kekuasaan militer. Edi Sudrajat pernah menjadi bawahan Benny Moerdani di Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) sebelum keduanya menjadi Panglima ABRI.
Berikut adalah kelanjutan rekam jejak hubungan dan karier kedua tokoh legendaris ini:
1. Awal Mula Relasi Atasan-Bawahan
Karier Edi Sudrajat di RPKAD dimulai di bawah kepemimpinan Benny Moerdani. Kala itu, Benny menjabat sebagai komandan kompi RPKAD (sekarang Kopassus), sementara Edi baru bergabung sebagai perwira muda berpangkat Letnan Dua setelah berdinas di Batalyon 515/Brawijaya.
2. Hubungan Profesional yang Erat
Sebagai mantan komandan, Benny Moerdani dikenal sebagai sosok yang tegas namun sangat melindungi anak buahnya. Relasi antara keduanya terus berlanjut seiring dinamika operasi militer. Mereka saling menghormati dalam komando dan membesarkan korps Baret Merah.
3. Kesamaan Puncak Karier Militer
Relasi atasan dan bawahan ini berubah menjadi kesejajaran posisi strategis di masa Orde Baru, di mana keduanya secara bergantian menempati jabatan paling bergengsi di militer Indonesia:
Jenderal TNI (Purn.) L.B. Moerdani: Menjabat sebagai Panglima ABRI (kini Panglima TNI) periode 1983–1988.
Jenderal TNI (Purn.) Edi Sudrajat: Menjabat sebagai Panglima ABRI periode 1993–1994, dan mencatatkan sejarah sebagai satu-satunya perwira yang merangkap tiga jabatan strategis sekaligus (Panglima ABRI, Kepala Staf TNI AD, dan Menhankam).
Kisah mereka membuktikan bagaimana binaan dalam pasukan elit mampu mencetak perwira-perwira terbaik yang kelak memegang tonggak kepemimpinan tertinggi negara.





