Jakarta,REDAKSI17.COM – Pengamat politik sekaligus mantan politikus PSI, Ade Armando, kembali melontarkan kritik terhadap mantan partainya sendiri terkait bahaya partai berlambang mawar itu jika semakin identik dengan keluarga Presiden ke-7 RI, Joko Widodo atau Jokowi.
Dalam sebuah pernyataannya, Ade menilai perjalanan politik atau safari Jokowi ke berbagai daerah perlu dijaga agar tidak terlalu lekat dengan simbol dan atribut PSI.
Menurutnya, terlalu seringnya Jokowi tampil bersama kader PSI justru berpotensi memunculkan tafsir negatif di mata publik.
“Kalau Pak Jokowi terlalu sering terlihat dikelilingi kader PSI, publik bisa mulai membaca kunjungannya secara berbeda. Bukan lagi sebagai ‘Pak Jokowi turun menemui rakyat’, tapi menjadi ‘Pak Jokowi sedang mengkonsolidasikan partai keluarga’,” ujar Ade.
Ia menilai kondisi tersebut menjadi sensitif karena saat ini posisi ketua umum PSI dipegang oleh putra bungsu Jokowi, Kaesang Pangarep. Situasi itu, menurut Ade, membuat hubungan Jokowi dengan PSI tidak lagi dipandang sebagai relasi politik biasa, melainkan memiliki dimensi keluarga yang kuat.
Ade mengingatkan bahwa isu dinasti politik masih menjadi perhatian besar di Indonesia. Masyarakat, kata dia, tidak selalu menolak keberadaan keluarga politik, tetapi resistensi bisa muncul apabila ada kesan kekuasaan dijaga terlalu vulgar atau terang-terangan demi mempertahankan pengaruh keluarga.
Karena itu, Ade menyarankan Jokowi menjaga “jarak simbolik” tertentu dengan PSI. Ia meyakini langkah tersebut justru dapat menguntungkan partai dalam jangka panjang.
Menurutnya, apabila Jokowi tetap dipandang sebagai tokoh nasional yang independen, simpati publik terhadap dirinya bisa mengalir secara alami kepada PSI tanpa menimbulkan kesan negatif.
“Begitu Pak Jokowi terlalu terlihat menjadi patron partai, resistensi publik justru bisa muncul. Orang akan mulai berpikir, ‘oh ternyata ini agenda politik keluarga’,” katanya.
Meski demikian, Ade menilai Jokowi sejauh ini tampak memahami risiko tersebut dan masih berupaya menjaga keseimbangan dalam membangun kedekatan politiknya dengan PSI tanpa memunculkan kesan dominasi keluarga secara berlebihan.





