Di panggung politik Indonesia menjelang meletusnya tragedi 30 September 1965, dunia seolah sedang berpihak pada Dipa Nusantara Aidit. Sang Ketua Umum Partai Komunis Indonesia (PKI) itu berdiri tegak di puncak kekuasaan, di bawah naungan kedekatan istimewanya dengan Presiden Soekarno. Ia baru saja menerima penghargaan bergengsi Bintang Mahaputra dalam upacara 17 Agustus 1965 penghargaan tertinggi yang bisa diterima seorang warga negara.
Namun di balik sorotan kemegahan itu, terselip satu momen yang kelak menjadi ironi sejarah. Usai upacara, Aidit menghampiri Jenderal Abdul Haris Nasution, tokoh besar Angkatan Darat yang dikenal tegas dan anti-komunis. Dengan nada sinis dan penuh kesombongan, Aidit bertanya,
“Mana bintang jasamu, waktu berhasil menumpas pemberontakan Madiun tahun 1948?”
Pertanyaan itu bagai belati yang menembus harga diri sang jenderal. Nasution hanya mendapat Satya Lencana, penghargaan yang jauh di bawah derajat Bintang Mahaputra. Sebuah sindiran yang pahit, terlebih datang dari orang yang memimpin partai yang dulu memberontak terhadap republik.
Pada masa itu, Jakarta benar-benar “memerah.” Bendera palu arit berkibar di mana-mana. Saat HUT PKI bulan Mei, kota penuh dengan foto-foto besar Lenin, Stalin, Mao, Marx, berdampingan dengan wajah Aidit dan Soekarno. Dalam pidato kenegaraan 17 Agustus 1965, nuansa komunis terasa kuat—karena naskahnya ditulis oleh Njoto, tokoh PKI yang dikenal cerdas sekaligus ideolog keras.
Aidit percaya diri bahwa masa depan Indonesia berada di bawah panji komunis. Ia bahkan menggagas pembentukan “Angkatan Kelima”, sebuah kekuatan bersenjata yang terdiri dari buruh dan petani. Namun, ide itu ditolak mentah-mentah oleh Angkatan Darat. Penolakan itu menjadi bara yang menyulut api pertarungan antara PKI dan militer.
Lalu datanglah isu “Dewan Jenderal”, tuduhan bahwa para perwira tinggi tengah merencanakan kudeta terhadap Soekarno. Situasi menjadi panas. Kecurigaan menebal. Dan akhirnya, pada malam kelam 30 September 1965, sejarah berd4rah itu pun meledak.
Nasution menjadi salah satu target utama penculikan. Ia berhasil lolos, tapi putri kecilnya, Ade Irma Suryani Nasution, tertemb4k dan gugur dalam pelukan sang ayah. Indonesia terperangah, dan roda sejarah pun berputar cepat.
Aidit, yang pernah berdiri dengan sombong di hadapan jenderal itu, kini menjadi buronan negara. Setelah dua bulan bersembunyi, pada 22 November 1965, ia tertangkap di Solo. Malam itu juga, tanpa pengadilan panjang, Aidit dieksekusi di sebuah kebun pisang dekat sumur tua. Tubuhnya dikubur tanpa upacara, tanpa penghormatan, tanpa bintang.
Ironi pun sempurna. Bintang Mahaputra yang dulu membanggakannya kini menjadi simbol kehancurannya. Sindirannya kepada Nasution berubah menjadi gema kosong yang bergaung di lorong sejarah bangsa. Ia yang dulu merasa di puncak dunia, akhirnya tenggelam dalam gelapnya tanah, bersama ambisi dan ideologinya.
Sebuah pelajaran pahit bahwa keangkuhan kekuasaan tak pernah abadi, dan sejarah selalu punya cara sendiri untuk membalikkan nasib manusia.





