“Kepentingan kami tidak sejalan dengan kepentingan Anda,” kata Aoun, dikutip Sabtu (6/6).
Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa Beirut tidak ingin terseret lebih jauh dalam agenda geopolitik Iran yang tengah berhadapan dengan Amerika Serikat dan Israel.
Dalam beberapa hari terakhir, pejabat tinggi Iran berulang kali menyatakan bahwa penyelesaian konflik di kawasan harus mencakup Lebanon. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bahkan mengatakan perang hanya akan berakhir jika situasi di Lebanon juga diselesaikan.
Selain itu, penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, menegaskan bahwa Lebanon harus menjadi bagian tak terpisahkan dari setiap kesepakatan gencatan senjata di kawasan.
Namun bagi pemerintah Lebanon, pernyataan tersebut justru memperkuat kekhawatiran bahwa negaranya kembali ditempatkan dalam agenda politik yang lebih besar dari kepentingan nasionalnya sendiri.
Aoun menilai rakyat Lebanon telah terlalu lama menanggung konsekuensi konflik yang tidak sepenuhnya berkaitan dengan kebutuhan dan prioritas negara mereka.
Sikap itu juga muncul di tengah meningkatnya tekanan untuk menjaga stabilitas Lebanon setelah berbulan-bulan ketegangan antara Hizbullah dan Israel.
Di sisi lain, Iran tetap menunjukkan dukungan penuh kepada Hizbullah. Teheran menyebut kelompok tersebut sebagai sekutu strategis yang telah berkorban besar dalam konflik melawan Israel.
Meski demikian, pernyataan Aoun memperlihatkan upaya pemerintah Lebanon untuk membedakan posisi negara dengan agenda Iran. Pesannya jelas: Lebanon ingin menentukan arah kebijakannya sendiri dan tidak ingin masa depannya bergantung pada pertarungan kepentingan antara Teheran dan Washington.





