Aoun menilai sikap tersebut tidak mencerminkan kepentingan rakyat Lebanon yang selama bertahun-tahun harus menanggung dampak konflik regional.
“Itu bukan negara kalian, itu negara kami,” tegas Aoun, dikutip Sabtu (6/6).
Menurutnya, Iran seolah menempatkan Lebanon sebagai instrumen dalam agenda diplomatiknya dengan Washington.
“Mereka menggunakan Lebanon sebagai alat tawar-menawar dalam negosiasi mereka dengan Amerika Serikat. Itu tidak bisa diterima,” ujarnya.
Kemarahan Aoun menunjukkan meningkatnya frustrasi pemerintah Lebanon terhadap campur tangan kekuatan eksternal yang selama ini menjadikan negara tersebut sebagai arena persaingan geopolitik.
Presiden Lebanon bahkan menuding rakyat negaranya terus membayar harga mahal akibat kebijakan dan kepentingan pihak lain.
“Anda tidak sedang mencoba membantu kami. Rakyat Lebanon yang membayar harganya demi kepentingan Anda sendiri,” katanya.
Pernyataan itu disampaikan setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menegaskan bahwa perdamaian di kawasan tidak akan terwujud tanpa penarikan pasukan Israel dari wilayah Lebanon.
Iran selama ini menjadi pendukung utama kelompok Hizbullah yang terlibat dalam konfrontasi berkepanjangan dengan Israel.
Di saat Lebanon berupaya memulihkan stabilitas domestik dan perekonomian yang terpuruk, pemerintah Beirut tampaknya semakin ingin menegaskan bahwa masa depan negara tersebut tidak boleh ditentukan oleh kepentingan negara lain.
Sikap Aoun sekaligus menjadi sinyal bahwa Lebanon ingin melepaskan diri dari posisi sebagai “medan pertempuran perantara” dalam persaingan yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.





