Jakarta,REDAKSI17.COM – Ekonom senior sekaligus mantan Menteri Keuangan (Menkeu) Chatib Basri menyebut tugas Menteri Keuangan dalam menghadapi tekanan fiskal sebenarnya sederhana. Menurutnya, pemerintah hanya memiliki tiga pilihan kebijakan, yaitu meningkatkan penerimaan negara, memangkas belanja, atau menambah utang.
Dalam Grab Business Forum 2026 di Jakarta, Selasa (9/6), Chatib mengatakan ruang fiskal pemerintah saat ini semakin terbatas akibat perlambatan ekonomi global, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, serta potensi kenaikan harga energi karena konflik geopolitik di Timur Tengah.
“Sebetulnya tugas dari Menteri Keuangan itu sangat gampang. Dia hanya punya opsi tiga hal, naikkan, potong, pinjam. Itu, hanya tiga itu,” kata Chatib.
Ia menjelaskan, apabila pemerintah tidak mampu meningkatkan penerimaan negara, maka harus melakukan penghematan belanja. Jika penghematan tidak memungkinkan, pilihan terakhir adalah menambah utang.
“Kalau Anda tidak bisa naikkan, maka Anda harus potong. Kalau Anda tidak bisa potong, Anda harus pinjam (utang). As simple as that,” ujarnya.
Namun, Chatib menilai kenaikan pajak bukan langkah realistis dalam kondisi ekonomi saat ini karena berisiko menekan aktivitas usaha dan daya beli masyarakat.
“Masa di dalam situasi ini tax revenue (penerimaan pajak), tax (pajak)-nya mesti dinaikkan? Nggak mungkin juga,” katanya.
Di sisi lain, opsi menambah utang juga dinilai kurang ideal karena biaya pinjaman sedang tinggi seiring tingginya suku bunga global.
“Siapa yang mau pinjam uang sekarang, cost (biaya)-nya akan jadi sangat mahal,” ucapnya.
Karena itu, ia menilai langkah paling memungkinkan adalah melakukan rasionalisasi belanja negara secara selektif guna menjaga kredibilitas fiskal pemerintah.
“Maka opsi yang paling mungkin itu adalah opsi tiga. Cut the spending selectively (pangkas belanja secara selektif),” katanya.
Chatib menambahkan, kekhawatiran investor saat ini lebih banyak tertuju pada keberlanjutan fiskal pemerintah dibandingkan fundamental ekonomi Indonesia secara keseluruhan. Ia mencontohkan premi risiko Indonesia yang tercermin dalam credit default swap (CDS) telah meningkat sejak awal tahun.
Menurutnya, sekitar 23 persen pelemahan rupiah dapat dijelaskan oleh kenaikan risiko fiskal yang tercermin dalam CDS. Karena itu, perbaikan kepercayaan pasar menjadi faktor penting untuk memperkuat stabilitas ekonomi.
“Artinya saya bisa bilang bahwa soal kita itu adalah soal confidence risk (risiko kepercayaan). Jadi kalau isu ini di-address (ditangani), sebetulnya ada harapan ini bisa diperbaiki,” ujarnya.
Selain itu, Chatib mengingatkan kemampuan pemerintah menambah utang tidak hanya ditentukan oleh rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB), tetapi juga kemampuan penerimaan negara dalam membayar bunga dan cicilan utang. Ia menilai ruang fiskal Indonesia masih terbatas karena rasio pajak yang relatif rendah, sehingga pengelolaan belanja dan pembiayaan negara harus dilakukan secara hati-hati.





