Sleman,REDAKSI17.COM – Sepuluh tahun lalu, Keroncong Plesiran lahir dari sebuah keyakinan sederhana bahwa musik keroncong dapat kembali dekat dengan masyarakat. Satu dekade kemudian, keyakinan itu tumbuh menjadi gerakan budaya yang menghidupkan ruang-ruang wisata, memberdayakan komunitas kreatif, menggerakkan ekonomi lokal, sekaligus memastikan warisan musik Indonesia terus menemukan pendengarnya di masa depan.
Perjalanan itu mencapai titik penting melalui penyelenggaraan Keroncong Plesiran 1 Dekade di Lapangan Nandi, kawasan Candi Prambanan, 13–14 Juni 2026. Mengusung tema Wander with the Rhythm of Keroncong, festival ini menghadirkan perpaduan musik, budaya, pariwisata, ekonomi kreatif, dan literasi dalam satu perayaan yang menggambarkan wajah keroncong masa kini: terbuka, inklusif, dan dekat dengan berbagai generasi.
Di bawah kemegahan Candi Prambanan, penonton larut dalam suguhan kolaborasi musik yang mempertemukan musisi lintas generasi dan genre. Pada hari pertama, panggung dimeriahkan David Bayu, Is Pusakata, Letto, AskA Rocket Rockers, Okky Kumala Sari, Paksi Band, Kos Atos, dan Serenade bersama Symphony Kerontjong Moeda. Sementara pada hari kedua, tampil Armand Maulana, Kunto Aji, Ghea Indrawari, Jimi Multhazam, Egha De Latoya, YKHC, Gadis Gendhis, dan Sinten Remen dalam balutan aransemen keroncong orkestra.
Antusiasme pengunjung tidak surut meskipun hujan deras sempat mengguyur kawasan festival pada malam pembukaan. Penonton tetap bertahan menikmati setiap penampilan yang tersaji. Payung dan jas hujan yang memenuhi area konser justru menghadirkan suasana hangat serta menjadi bukti bahwa keroncong masih memiliki daya tarik kuat di tengah masyarakat.
Founder Keroncong Plesiran, Ari Kancil, mengatakan perayaan satu dekade ini bukan sekadar peringatan usia festival, melainkan momentum untuk menegaskan bahwa keroncong terus hidup dan berkembang melalui karya-karya baru serta regenerasi pelaku seni.
“Kami harus ada selebrasi dan naik kelas. Keroncong tidak boleh hanya dikenal melalui lagu-lagu lama. Banyak kelompok keroncong muda yang masih menciptakan karya baru dan perlu mendapat ruang. Keroncong harus tetap ada, berkembang, dan dinikmati lintas generasi,” ujarnya.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui peluncuran album kompilasi yang melibatkan sepuluh kelompok keroncong muda dari berbagai daerah di Indonesia. Selain itu, Keroncong Plesiran juga meluncurkan buku perjalanan festival, film dokumenter, serta katalog anotasi tentang Waldjinah, maestro keroncong Indonesia yang telah memberikan kontribusi besar bagi perkembangan musik keroncong nasional.
Katalog dan dokumentasi tentang Waldjinah mendapat perhatian khusus dari GKR Hemas yang turut meninjau sekaligus menandatangani katalog tersebut. Kehadiran dokumentasi ini menjadi bagian dari upaya memperkuat literasi budaya dan menjaga jejak sejarah para tokoh yang telah membesarkan musik keroncong Indonesia.
Tidak hanya menyasar penikmat musik dewasa, Keroncong Plesiran 1 Dekade juga menghadirkan berbagai program ramah keluarga. Melalui kegiatan Among Bocah, Gladhen, Plesir Candi, dan Kids Area, penyelenggara membuka ruang bagi anak-anak untuk mengenal keroncong dan kebudayaan Indonesia dengan cara yang menyenangkan. Berbagai aktivitas edukatif dan permainan kreatif disiapkan untuk menumbuhkan kedekatan generasi muda dengan seni tradisi sejak dini.
Pelindung Keroncong Plesiran, Aria Nugrahadi, menuturkan perjalanan festival selama satu dekade menunjukkan bagaimana budaya dapat terus relevan ketika diberi ruang untuk tumbuh dan beradaptasi. Menurutnya, Keroncong Plesiran bukan sekadar festival musik, melainkan gerakan kebudayaan yang mempertemukan seni, komunitas, dan ruang publik.
“Yang kami bangun bukan hanya sebuah event tahunan, tetapi ekosistem budaya. Melalui festival, buku, dokumentasi, hingga program edukasi bagi anak-anak, kami ingin memastikan bahwa keroncong terus hidup dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya,” kata Aria.
Selain menghadirkan pertunjukan budaya, Keroncong Plesiran juga memberi ruang besar bagi pelaku usaha lokal. Melalui area Pasar Plesiran yang dikurasi bersama SiBakul Jogja, puluhan pelaku UMKM dari sektor kuliner, kriya, fesyen, dan produk kreatif lokal turut meramaikan festival. Kehadiran UMKM tersebut menjadi bagian penting dari upaya memperkuat keterkaitan antara kegiatan budaya dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Wisata Dinas Pariwisata DIY, Antarikso Trisno Bawono, menyampaikan Keroncong Plesiran telah menjadi contoh nyata bagaimana sebuah kegiatan budaya mampu memberikan dampak luas bagi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
“Festival ini tidak hanya menghadirkan hiburan berkualitas, tetapi juga mendatangkan wisatawan, menggerakkan UMKM, mendukung sektor perhotelan, transportasi, dan berbagai usaha masyarakat lainnya. Inilah bentuk sinergi budaya dan pariwisata yang terus kami dorong di DIY,” tuturnya.
Konsistensi Keroncong Plesiran dalam mengembangkan ekosistem musik, budaya, dan pariwisata juga mendapat pengakuan di tingkat nasional. Festival ini berhasil masuk dalam program Kharisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif selama enam tahun berturut-turut sejak 2021 hingga 2026.
Bagi para musisi, Keroncong Plesiran menawarkan pengalaman yang berbeda dibandingkan festival musik pada umumnya. Musisi David Bayu, yang pernah tampil pada Keroncong Plesiran 2022 dan kembali hadir pada perayaan satu dekade tahun ini, mengaku memiliki kesan mendalam terhadap festival tersebut.
“Suatu pengalaman yang menyenangkan dan sangat berkesan bisa tampil di Keroncong Plesiran, baik pada 2022 maupun 2026. Venue yang dipilih selalu tidak biasa dan eksotis, dengan audiens yang sangat dekat, hangat, dan intim. Ini juga pertama kalinya saya membawakan lagu-lagu saya dengan aransemen orkestrasi keroncong yang indah. Semoga Keroncong Plesiran tetap ada dan terus melestarikan kearifan lokal budaya musik Indonesia,” papar David.
Perjalanan satu dekade Keroncong Plesiran menjadi penanda bahwa musik keroncong masih memiliki ruang yang kuat dalam kehidupan budaya masyarakat lintas generasi. Melalui konsep yang konsisten mengintegrasikan musik, budaya, dan pariwisata, festival ini tidak hanya membangun pasar baru bagi musik keroncong, tetapi juga memperkuat citra keroncong sebagai musik yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
Dari panggung sederhana di destinasi wisata alam hingga hadir di kawasan Warisan Dunia Candi Prambanan, Keroncong Plesiran telah menempuh perjalanan panjang. Memasuki usia satu dekade, festival ini tidak hanya menjadi ruang perayaan musik keroncong, tetapi juga simbol bagaimana tradisi dapat terus tumbuh, berinovasi, dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Humas Pemda DIY





