Umbulharjo,REDAKSI17.COM – Pemerintah Kota Yogyakarta menggandeng Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) DIY dan Program Profesi Arsitek Universitas Islam Indonesia (UII) untuk mendorong penataan kampung yang lebih kreatif, berkelanjutan, dan berdaya saing.
Kolaborasi tersebut dibahas dalam audiensi bersama Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo terkait pelaksanaan kegiatan Wellness Architecture Masterclass Satu Kampung Satu Arsitek di Ruang Yudistira Balai Kota, Kamis (18/6/2026).
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menyampaikan penataan kampung tidak hanya menyangkut pembangunan infrastruktur, tapi juga aspek sosial, budaya, dan karakter kawasan. Karena itu, keterlibatan tenaga profesional dinilai penting untuk menghadirkan gagasan-gagasan baru yang mampu meningkatkan kualitas lingkungan kampung.
“Menata kampung secara infrastruktur, kultur, budaya, dan sosial tentu membutuhkan ahlinya. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri karena kami lebih banyak bergerak pada aspek birokrasi dan administrasi. Karena itu kami mengundang para ahli agar kampung-kampung di Kota Yogyakarta bisa menjadi lebih bagus dan memiliki daya tarik,” ujar Hasto.
Menurutnya, dukungan dari IAI DIY menjadi modal besar bagi Kota Yogyakarta. Berdasarkan paparan yang diterimanya, terdapat sekitar 500 arsitek yang siap terlibat langsung mendampingi kampung-kampung di Kota Yogyakarta.
Selain itu, kolaborasi juga akan diperkuat dengan kehadiran para akademisi dan pegiat seni untuk memperkaya ide kreatif dalam proses perancangan kawasan. Pihaknya berharap hasil penataan kampung tidak hanya sekadar baik, tapi mampu menghadirkan sesuatu yang melampaui ekspektasi masyarakat.
“Saya berpesan jangan hanya membuat sesuatu yang sekadar oke. Oke itu biasa saja, tetapi kalau wow itu di luar ekspektasi dan bisa menjadi destinasi wisata. Itu yang penting,” katanya.
Program Satu Kampung Satu Arsitek rencananya akan diawali melalui proyek percontohan di wilayah Kemantren Pakualaman. Kawasan tersebut akan menjadi lokasi awal untuk penyusunan konsep penataan kampung yang nantinya dapat direplikasi ke wilayah lain di Kota Yogyakarta.
Hasto menjelaskan, tahap awal kegiatan akan diawali dengan pemetaan dan kajian kondisi eksisting kawasan. Setelah itu, para arsitek akan menyusun rancangan desain yang sesuai dengan karakter dan kebutuhan masyarakat setempat.
“Kita mulai dari Pakualaman sebagai pilot project. Nanti kondisi yang ada dipresentasikan terlebih dahulu, kemudian baru didesain. Setelah desainnya jadi, baru bisa kita sampaikan lebih detail,” imbuhnya.
Sementara itu, Ketua Ikatan Arsitek Indonesia DIY Erlangga Winoto, menjelaskan kegiatan Wellness Architecture Masterclass Satu Kampung Satu Arsitek merupakan bagian dari inisiatif pengembangan arsitektur berbasis kawasan yang mendorong keterlibatan langsung arsitek bersama masyarakat.
Menurutnya, lokasi studi yang dipilih adalah Kampung Jamu Ginggang yang memiliki nilai historis dan kultural sebagai sentra jamu tradisional. Kawasan tersebut dinilai merepresentasikan keterkaitan antara ruang, budaya, kesehatan, serta aktivitas ekonomi masyarakat.
“Kegiatan ini merupakan bagian dari inisiatif pengembangan arsitektur berbasis kawasan yang mendorong keterlibatan arsitek secara langsung bersama masyarakat. Kampung Jamu Ginggang memiliki potensi yang kuat karena memadukan aspek budaya, kesehatan, dan ekonomi lokal,” jelas Erlangga.
Melalui kegiatan tersebut, IAI DIY berharap dapat terbangun sinergi yang kuat antara pemerintah daerah, profesi arsitek, dan akademisi dalam mendorong pengembangan kawasan yang kontekstual, berkelanjutan, serta berbasis pada potensi lokal yang dimiliki masing-masing kampung.
Program ini diharapkan menjadi langkah awal untuk menghadirkan wajah baru kampung-kampung di Kota Yogyakarta yang tidak hanya nyaman ditinggali, namun juga memiliki identitas kuat, nilai ekonomi, dan daya tarik wisata yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
