Yogyakarta,REDAKSI17.COM – DIY dan Chili memiliki sejarah panjang sejak tahun 1836 melalui sebuah fakta mengejutkan terkait impor tembaga untuk produksi gamelan. Fakta historis inilah yang menjadi salah satu pijakan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, untuk melakukan penjajakan kemitraan sister province.
Inisiatif strategis tersebut mengemuka saat Sri Sultan menerima kunjungan kenegaraan Duta Besar Chili untuk Indonesia dan ASEAN, H.E. Mario Ignacio Artaza, Jumat (19/06) di Gedhong Wilis, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta. Dalam pertemuan formal tersebut, Artaza menegaskan bahwa jarak geografis yang membentang sangat jauh antara kedua negara tidak menjadi penghalang untuk mempererat kemitraan.
Sebagai perwakilan negara di kawasan Pasifik, Artaza memandang DIY memiliki posisi krusial sebagai pusat warisan budaya di Indonesia. Jalinan komunikasi Chili dan Indonesia sejatinya telah dirintis sejak lebih dari 200 tahun yang lalu dan terus dijaga dengan baik.
“Ini adalah kebanggaan dan kehormatan untuk berada di sini, di pihak Chili, negara Pasifik, negara yang merasakan sejarah, dan sangat menghormati tradisi Yogyakarta,” ungkapnya.
Selain membahas sejarah, pertemuan dengan Sri Sultan ini juga menyoroti kolaborasi akademis dan riset ilmiah yang telah berjalan solid antara Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan Universitas Katolik di Chili. Kemitraan strategis ini berfokus pada riset bersama di berbagai bidang vital, mulai dari perubahan iklim, mitigasi gempa bumi, hubungan internasional, biologi, hingga pertanian. Bahkan, saat ini sedang dilakukan penjajakan interaksi untuk mendalami riset spesifik yang berlokasi di kawasan Antartika.
Ruang kerja sama di sektor pendidikan dan sains tersebut akan terus diperluas spektrumnya. “Ada exchange program pertukaran pelajar, mahasiswa, dan periset. Ada banyak ruang kerjasama ke depan yang bisa potensial untuk dikembangkan, ada yang di bidang pertanian, heritage, kemudian di bidang konstruksi,” jelas Artaza.
Di balik substansi diplomasi yang strategis, rasa hormat Artaza terhadap institusi dan budaya lokal juga mewujud dalam kedekatan emosional yang sangat personal. Diplomat ini mengaku gemar menjelajahi berbagai sudut kota secara langsung untuk mengapresiasi produk-produk karya pelaku ekonomi kreatif setempat.
Kedekatan yang tulus tersebut bahkan mendorong dirinya untuk menjadwalkan kunjungan pribadi bersama keluarga ke Yogyakarta pada pekan depan. “Batik yang saya pakai hari ini saya dapat di Yogya. Saya juga sangat suka berjalan kaki menemukan Yogya, melihat lukisan jalanan, dan membeli sandal kulit di Kotagede,” tutur Artaza.
Sementara itu, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) DIY, Ghofar Ismail, yang mendampingi pertemuan membeberkan bahwa Sri Sultan sangat menyambut baik kunjungan tersebut. Ghofar menyampaikan bahwa gagasan mengenai kerja sama sister province (provinsi kembar) justru lahir dari inisiatif proaktif Sri Sultan dalam forum tersebut.
“Tanggapan Ngarsa Dalem sangat bagus. Bahkan, usulan sister province itu justru datang dari beliau sendiri, yang kemudian disambut baik oleh pihak Dubes. Mereka menyatakan akan segera mencarikan counterpart atau mitra wilayah di Chili yang memiliki potensi seimbang dengan Yogyakarta,” kata Ghofar.
Ghofar juga memperdalam konteks sejarah perdagangan abad ke-19 yang sempat dibahas di dalam ruangan. Ia membenarkan bahwa pada tahun 1836, Yogyakarta telah mendatangkan tembaga dari Chili sebagai bahan baku pembuatan gamelan masa lalu. Fakta menarik ini semakin menegaskan bahwa hubungan timbal balik kedua wilayah sudah berakar kuat sejak lama.
Lebih lanjut, langkah penjajakan kerja sama ke depan dipandang sangat strategis mengingat DIY dan berbagi karakteristik geografis yang serupa. Keduanya sama-sama berada di kawasan rentan bencana karena dilintasi oleh jalur Cincin Api (Ring of Fire).
“Kemiripan dengan Indonesia, khususnya Jogja, adalah sama-sama berada di Ring of Fire. Oleh karena itu, kerja sama riset dengan UGM ke depan juga akan sangat diperkuat pada bidang vulkanologi, mitigasi kebencanaan, hingga teknologi konstruksi bangunan anti-gempa,” pungkas Ghofar.
Humas Pemda DIY




