Beranda / Daerah / Tak Cukup Bagi Makanan, Wagub DIY Dorong Edukasi Stunting Lebih Membumi

Tak Cukup Bagi Makanan, Wagub DIY Dorong Edukasi Stunting Lebih Membumi

Yogyakarta,REDAKSI17.COM  – Upaya menurunkan angka stunting tidak bisa hanya berhenti pada pemberian makanan bergizi. Di balik persoalan tumbuh kembang anak, terdapat tantangan yang lebih besar, yakni pemahaman keluarga tentang pola asuh, kesehatan, dan pentingnya 1.000 Hari Pertama Kehidupan. Karena itu, edukasi yang lebih membumi dan mudah dipahami masyarakat dinilai menjadi kunci dalam percepatan penanganan stunting.
Pesan tersebut disampaikan Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X, saat menerima silaturahmi Kepala Perwakilan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN DIY, Rohina, di Gedhong Pareanom Kompleks Kepatihan, Senin (22/6). Pertemuan tersebut sekaligus membahas kesiapan DIY sebagai tuan rumah Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 Tingkat Nasional Tahun 2026.
Sri Paduka menyampaikan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan Harganas di DIY. Momentum Harganas dapat menjadi sarana untuk memperkuat kesadaran masyarakat mengenai pentingnya membangun keluarga yang berkualitas, termasuk dalam upaya pencegahan stunting sejak dini.
“Terkait stunting, penanganannya ternyata tidak cukup hanya pada ibu dan anak. Harus ada pendekatan yang lebih menyeluruh. Ke depan mungkin bisa disampaikan kepada Bapak Menteri agar pemahaman mengenai stunting lebih membumi di masyarakat,” ujar Sri Paduka.
Menurut Sri Paduka, selama ini penanganan stunting sering kali dipersepsikan sebatas pemberian makanan tambahan. Padahal, yang tidak kalah penting adalah membangun pemahaman keluarga bahwa masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan merupakan periode emas yang tidak bisa ditawar. Pada fase itulah fondasi kesehatan, kecerdasan, dan kualitas sumber daya manusia masa depan dibentuk.
Wagub DIY mengibaratkan penanganan stunting tidak hanya memberikan “ikan”, tetapi juga “kail”. Bantuan pangan tetap penting, namun harus diimbangi dengan edukasi yang membuat keluarga mampu memahami kebutuhan gizi, pola pengasuhan, hingga kesehatan anak secara mandiri. Bahkan, menurutnya, pemanfaatan teknologi dan gawai dapat menjadi sarana efektif untuk memperluas edukasi tersebut.
DIY sendiri, lanjut Sri Paduka, memiliki potensi untuk mengembangkan model edukasi keluarga yang lebih adaptif. Melalui pendekatan yang sesuai dengan latar belakang pendidikan masyarakat yang beragam, calon ibu dapat dibekali pengetahuan sejak masa persiapan kehamilan hingga setelah melahirkan. Dengan demikian, pencegahan stunting dapat dilakukan sejak hulu, bukan hanya ketika masalah sudah muncul.
“Selamat atas dipilihnya DIY sebagai tuan rumah Harganas 2026. Kami siap mendukung dan berharap seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan lancar,” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN DIY, Rohina, menjelaskan kedatangannya bertujuan melaporkan kesiapan pelaksanaan Harganas tingkat Nasional yang akan berlangsung di DIY. Puncak peringatan Harganas ke-33 dijadwalkan digelar di kawasan Benteng Vredeburg, Kota Yogyakarta, pada 29 Juni 2026, dengan rangkaian kegiatan berlangsung pada 25–29 Juni 2026.
Rohina mengatakan penunjukan DIY sebagai tuan rumah merupakan bentuk kepercayaan pemerintah pusat atas komitmen daerah dalam mendukung program pembangunan keluarga, keluarga berencana, dan percepatan penurunan stunting. Ia pun menyambut baik berbagai masukan yang disampaikan Wagub DIY terkait penguatan edukasi keluarga.
“Memang saat ini persoalannya bukan semata-mata karena makanan bergizi tidak tersedia. Sering kali yang menjadi tantangan adalah pemahaman orang tua mengenai pola asuh dan pola makan anak. Karena itu, pendekatan edukasi kepada keluarga menjadi sangat penting,” jelas Rohina.
Ia menambahkan, penanganan stunting juga membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Ketika anak sudah mendapatkan asupan gizi yang baik, namun pertumbuhannya belum optimal, diperlukan pemeriksaan lebih lanjut oleh tenaga kesehatan untuk mengetahui kemungkinan faktor lain yang memengaruhi kondisi anak, baik dari aspek medis maupun psikologis keluarga.
Berdasarkan data yang ada, kasus stunting di DIY masih banyak ditemukan di wilayah Kulon Progo dan Gunungkidul. Karena itu, Harganas 2026 diharapkan tidak hanya menjadi perayaan seremonial, tetapi juga momentum memperkuat gerakan bersama dalam membangun keluarga yang sehat, tangguh, dan sadar akan pentingnya investasi bagi generasi masa depan. Mencegah stunting bukan hanya soal memberi makan anak hari ini, tetapi menyiapkan kualitas manusia Indonesia untuk puluhan tahun mendatang.
Humas Pemda DIY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *